Calon presiden konferensi COP31 desak dorongan global untuk aksi iklim yang konkret

DILI, 08 Oktober 2026 (TATOLI) – Calon Presiden Konferensi Para Pihak (COP31 – 31st Conference of the Parties) Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC- United Nations Framework Convention on Climate Change), Murat Kurum menyerukan kepada masyarakat internasional untuk mempercepat aksi iklim dan menekan kenaikan suhu global.
Murat Kurum yang juga sebagai Menteri Lingkungan Hidup, Urbanisasi dan Perubahan Iklim Turki, berbicara hal tersebut dalam pertemuan persiapan tingkat menteri menjelang COP31 (Pre-COP31) di Nadi, Fiji, pada Rabu (07/10).
Beliau juga menyatakan bahwa COP31 harus menjadi titik balik di mana pembahasan iklim beralih menjadi tindakan nyata, serta membantu menetapkan mekanisme jangka panjang yang dapat diterapkan untuk aksi iklim.
Dikatakan, temuan ilmiah menunjukkan bahwa melampaui ambang batas pemanasan global 1,5 derajat Celsius akan meningkatkan risiko. Selain itu, melampaui batas 1,5 derajat tersebut tidak boleh berarti berakhirnya upaya penanganan iklim, katanya, seraya menegaskan bahwa dampak akhirnya akan bergantung pada pilihan-pilihan yang diambil saat ini.
Menurutnya, sebagai pemegang Presidensi COP31, Turki berupaya memastikan bahwa target suhu 1,5 derajat Celsius tetap dapat dicapai.
Menurutnya, berbagai negara perlu melangkah lebih jauh dari sekadar diskusi mengenai apa yang “seharusnya dilakukan” dan mewujudkan temuan ilmiah menjadi kebijakan konkret, kebijakan menjadi investasi proyek, serta investasi menjadi hasil yang nyata dan terukur.
Pertemuan tahun ini mempertemukan para menteri, perwakilan pemerintah, dan negosiator iklim dari lebih dari 50 negara dan kawasan.
Para peserta membahas berbagai isu utama, termasuk upaya menjaga agar target 1,5 derajat Celsius tetap dapat dicapai, akses terhadap pendanaan, peningkatan perhatian terhadap keterkaitan antara laut dan iklim, serta transisi energi terbarukan.
Pertemuan Pra-COP31 dibuka di Nadi pada hari Selasa (06/10), yang berfungsi sebagai mekanisme konsultasi politik tingkat menteri yang penting menjelang COP31.
Dimana, pertemuan ini bertujuan membantu negara-negara menguji gagasan, memahami prioritas masing-masing, mengidentifikasi poin-poin perbedaan pendapat, serta mencari titik temu yang memungkinkan tercapainya kesepakatan sebelum negosiasi resmi COP dimulai.
TATOLI kutip dari Xinhua News

