Timor – Leste siap jadi jembatan kerja sama keuangan antara ASEAN dan Pasifik

DILI, 09 Oktober 2026 (TATOLI) – Bank Sentral Timor-Leste (BCTL) menyatakan kesiapan negara tersebut untuk menjadi penghubung kerja sama keuangan antara Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) dan negara-negara Pasifik, dengan memanfaatkan posisi Timor-Leste sebagai anggota ASEAN sekaligus bagian dari komunitas bank sentral Pasifik.
Gubernur BCTL, Hélder Lopes, menyampaikan hal tersebut dalam Pertemuan ke-41 Gubernur Bank Sentral Pasifik Selatan yang diselenggarakan di Palm Spring Hotel, Dili, Jumat ini.
Menurutnya, keterlibatan Timor-Leste dalam kedua kawasan memberikan peluang strategis untuk memperluas hubungan kelembagaan, pertukaran pengalaman, serta kerja sama ekonomi dan keuangan lintas kawasan.
“Kita adalah anggota ASEAN sekaligus tergabung dalam komunitas kepulauan Pasifik. Dengan demikian, Timor-Leste dapat menjadi jembatan agar negara-negara Pasifik dapat terhubung dengan kawasan Asia apabila mereka membutuhkannya,” kata Hélder kepada wartawan.
Ia menjelaskan bahwa meskipun sebagian negara kepulauan Pasifik secara geografis terisolasi, kerja sama dengan negara-negara tersebut tetap memiliki manfaat strategis bagi Timor-Leste.
Melalui hubungan tersebut, Timor-Leste dapat memperkuat jaringan kerja sama keuangan sekaligus menjadi penghubung bagi negara-negara Pasifik yang ingin memperluas hubungan dengan kawasan Asia Tenggara.
Dalam pidato pembukaannya, Hélder menegaskan bahwa keanggotaan penuh Timor-Leste di ASEAN sejak Oktober 2025 tidak mengurangi komitmen negara tersebut terhadap komunitas Pasifik.
Sebaliknya, keterlibatan dalam kedua kawasan dinilai membuka kesempatan untuk saling belajar dan memperkuat konektivitas ekonomi.
“Kami akan senang apabila Timor-Leste dapat menjadi jembatan antara Pasifik dan ASEAN, jika memungkinkan,” ujarnya.
Sebagai bagian dari upaya memperkuat hubungan tersebut, BCTL mengagendakan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan tiga bank sentral negara Pasifik, yakni Fiji, Samoa, dan Papua Nugini.
Hélder menjelaskan bahwa kerja sama dengan Fiji dan Samoa akan berfokus pada pertukaran informasi serta berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam pelaksanaan tugas bank sentral.
Sementara itu, kerja sama dengan Papua Nugini memiliki fokus berbeda, yakni berbagi pengalaman mengenai pembentukan dan pengelolaan dana kekayaan negara atau sovereign wealth fund.
Menurutnya, inisiatif tersebut berawal dari kunjungan Presiden Republik Timor-Leste ke Papua Nugini beberapa bulan sebelumnya, ketika para pemimpin negara tersebut menyampaikan ketertarikan untuk mempelajari pengalaman Timor-Leste dalam mengelola Dana Perminyakan.
“Papua Nugini sedang dalam proses membentuk dana kekayaan negara mereka. Melalui kerja sama ini, kami dapat berbagi pengalaman mengenai bagaimana membentuk dan mengelola dana tersebut dengan baik,” jelasnya.
Hélder menambahkan bahwa hubungan antarbank sentral tidak hanya memberikan kesempatan bagi Timor-Leste untuk berbagi pengalaman, tetapi juga membuka peluang memperoleh pengetahuan dari negara-negara dengan sistem keuangan yang lebih maju.
Ia mencontohkan Australia dan Selandia Baru yang memiliki pengalaman luas dalam pengembangan teknologi dan pengelolaan sektor keuangan.
“Pada bidang tertentu, kita dapat berbagi pengalaman kepada mereka. Namun, dalam aspek lainnya, mereka jauh lebih maju sehingga kita juga dapat belajar dari mereka,” katanya.
Menurutnya, pertukaran pengetahuan dan pengalaman tersebut penting untuk meningkatkan kapasitas kelembagaan BCTL dalam menjalankan kebijakan yang mendukung stabilitas dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Hélder berharap hubungan Timor-Leste dengan negara-negara Pasifik terus berkembang menjadi kemitraan yang memberikan manfaat timbal balik, sekaligus memperkuat posisi negara tersebut dalam kerja sama ekonomi dan keuangan antar kawasan.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz

