Top

Budidaya Yellow Croaker tumbuh jadi industri miliaran dolar di Laut Ningde

Delegasi jurnalis negara-negara ASEAN melakukan kunjungan ke Dehua County, Quanzhou City, Provinsi Fujian, dan melihat langsung budidaya ikan large yellow croaker (Larimichthys crocea) di China. Foto TATOLI/Cidalia Fatima

NINGDE, 21 September 2026 (TATOLI) – Hamparan keramba budidaya yang membentang di tengah perairan Ningde menjadi pemandangan terakhir delegasi jurnalis negara-negara ASEAN sebelum meninggalkan kota tersebut untuk melanjutkan rangkaian ASEAN Media Workshop ke Dehua County, Quanzhou City, Provinsi Fujian, China.

Setelah menyelesaikan kunjungan ke Contemporary Amperex Technology Co. Limited (CATL), delegasi melanjutkan perjalanan menuju Large Yellow Croaker Industrial Base, pada Minggu (20/09).  Large Yellow Croaker Industrial Base adalah salah satu pusat utama budidaya ikan large yellow croaker (Larimichthys crocea) di China.

Dari pelabuhan, para jurnalis menaiki kapal feri menuju kawasan budidaya yang berada di tengah laut. Sepanjang perjalanan, terlihat area akuakultur yang luas dengan berbagai jenis komoditas laut.

Tidak hanya large yellow croaker, kawasan perairan Ningde juga dimanfaatkan untuk membudidayakan berbagai hasil laut lainnya, termasuk ikan, udang, kepiting, kerang, gurita dan komoditas perikanan lainnya.

Kunjungan tersebut memberikan kesempatan kepada para jurnalis untuk melihat secara langsung bagaimana sumber daya laut yang sebelumnya menjadi basis kehidupan nelayan tradisional kini dikembangkan menjadi industri akuakultur modern dengan dukungan penelitian, teknologi, pengolahan hingga jaringan pemasaran.


Tempat budidaya ikan large yellow croaker (Larimichthys crocea) di China. Foto TATOLI/Cidalia Fatima

Ningde dikenal sebagai salah satu pusat utama produksi large yellow croaker di China. Pada 2025, produksi komoditas tersebut tercatat mencapai sekitar 222.440 ton, sementara nilai keseluruhan rantai industrinya telah melampaui 20 miliar yuan atau sekitar US$2,92 miliar.

Produk large yellow croaker dari kawasan tersebut juga telah dipasarkan ke lebih dari 60 negara dan wilayah.

Chairman of Ningde Guanjinyang Large Yellow Croaker Breeding Co., Ltd., Fujian Sandu’ao Foods Co., Ltd, You Weide, mengatakan kondisi geografis Ningde menjadi salah satu faktor utama berkembangnya industri tersebut.

“Teluk ini merupakan pelabuhan alami yang terlindungi. Kawasan ini terlindung dengan baik dari angin kencang dan topan, sementara perairannya dalam dan memiliki volume air laut yang besar. Kondisi tersebut menjadikan tempat ini salah satu kawasan terbaik di China untuk budidaya perikanan,” kata You Weide kepada delegasi.

Menurutnya, keberadaan pegunungan yang berdampingan dengan laut juga memberikan keuntungan bagi lingkungan budidaya.

“Kami memiliki pegunungan dan juga laut. Air laut di sini sangat baik dan bersih serta tingkat pencemarannya relatif rendah. Kondisi alam ini sangat cocok untuk membudidayakan large yellow croaker,” ujarnya.

Dari Ikan yang Sulit Ditemukan Menjadi Industri Besar

Tempat budidaya ikan large yellow croaker (Larimichthys crocea) di China. Foto TATOLI/Cidalia Fatima

Perkembangan industri tersebut tidak terjadi dalam waktu singkat. You menjelaskan bahwa sekitar tiga dekade lalu, populasi large yellow croaker liar di kawasan itu mengalami penurunan drastis dan ikan tersebut semakin sulit ditemukan.

Pada periode ketika Xi Jinping bekerja di Ningde, menurut You, perhatian diberikan terhadap kemungkinan memulihkan sumber daya large yellow croaker melalui pembiakan buatan dan pengembangan akuakultur.

“Sekitar 30 tahun lalu, large yellow croaker hampir menghilang dari perairan ini. Pada saat itu, perekonomian lokal juga relatif lemah. Meskipun menghadapi keterbatasan keuangan, sumber daya tetap dialokasikan untuk penelitian dan pengembangan guna menemukan cara membiakkan ikan tersebut secara buatan,” jelasnya.

Penelitian kemudian dilakukan mulai dari pembiakan, produksi benih, pengembangan pakan hingga metode budidaya.

Dari penelitian tersebut, industri large yellow croaker perlahan berkembang dan kemudian membuka aktivitas ekonomi lain bagi masyarakat pesisir.

“Gagasannya adalah satu industri dapat mendorong perkembangan banyak industri lainnya. Ketika industri ikan berkembang, hal itu menciptakan peluang bagi banyak orang, mulai dari rumah tangga kecil hingga perusahaan yang lebih besar,” katanya.

Kini Ningde telah membentuk rantai industri yang mencakup pembibitan, budidaya, pengolahan, penyimpanan dingin, transportasi, logistik, ekspor hingga pemasaran internasional.

“Industri large yellow croaker kami mencakup seluruh proses, mulai dari pembibitan dan budidaya hingga pengolahan, penyimpanan dingin, transportasi, logistik internasional, ekspor dan penjualan ke berbagai belahan dunia,” kata You.

Ia menyebut large yellow croaker sebagai salah satu produk Ningde yang telah dikenal luas, berdampingan dengan industri baterai yang berkembang pesat di kota tersebut.

“Ningde merupakan kota yang relatif kecil, tetapi kami memiliki dua produk yang telah dikenal di seluruh dunia. Salah satunya large yellow croaker dan yang lainnya adalah industri baterai tenaga listrik,” ujarnya. 

Teknologi Ubah Cara Membudidayakan Ikan

Perubahan besar juga terlihat pada teknologi budidaya. Menurut You, petani ikan pada masa lalu mengandalkan ikan kecil dan pakan tradisional. Kini industri mulai menggunakan pakan pelet yang diformulasikan secara khusus serta mesin untuk membantu proses pemberian pakan.

“Sekarang kami menggunakan pakan pelet yang diformulasikan dan pemberian pakan dapat dilakukan menggunakan mesin. Budidaya menjadi semakin ilmiah,” katanya.

Teknologi juga digunakan dalam proses pembibitan, pemberian pakan, pemantauan hingga pengelolaan kawasan budidaya.

You mengatakan dukungan pemerintah dalam peningkatan peralatan dan penerapan teknologi turut meningkatkan kapasitas produksi.

Ia mencontohkan keramba laut yang digunakan perusahaannya dengan panjang sekitar 24 meter dan kedalaman sekitar 12 meter.

“Pada masa lalu, satu keramba dapat menghasilkan sekitar 200.000 pon ikan, tetapi dengan teknologi dan metode budidaya yang semakin baik, produksinya sekarang dapat mencapai sekitar 500.000 pon,” jelasnya.

Ningde juga terus mengembangkan model budidaya laut dalam, termasuk penggunaan keramba yang lebih tahan terhadap kondisi laut serta penerapan teknologi pemantauan.

Selain itu, industri large yellow croaker telah terintegrasi dengan pembibitan, pengolahan dan sistem rantai dingin sehingga ikan dapat dipasarkan ke berbagai daerah maupun pasar internasional. 

Mengapa Yellow Croaker Dipanen Malam Hari?

Salah satu hal menarik yang dijelaskan kepada delegasi adalah perubahan warna ikan tersebut.

Chairman of Ningde Guanjinyang Large Yellow Croaker Breeding Co., Ltd., Fujian Sandu’ao Foods Co., Ltd, You Weide. Foto TATOLI/Cidalia Fatima

Meskipun dikenal sebagai large yellow croaker atau ikan croaker kuning besar, warna ikan dapat terlihat berbeda bergantung pada paparan cahaya.

“Nama ikan ini large yellow croaker, tetapi pada siang hari warnanya dapat terlihat relatif putih. Namun, pada malam hari warnanya berubah menjadi kuning keemasan,” kata You.

Karena itu, ikan yang ingin dipertahankan warna kuning keemasannya umumnya dipanen pada malam hari.

“Ikan tidak boleh terkena sinar matahari yang kuat sebelum dipanen. Jika ditangkap pada siang hari, warnanya dapat terlihat jauh lebih putih. Ketika dipanen pada malam hari, terutama setelah tidak terkena sinar matahari, warna kuning keemasannya jauh lebih terlihat,” jelasnya.

Warna tersebut menjadi salah satu karakteristik large yellow croaker yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan bahkan dikenal sebagai salah satu “emas dari laut” bagi masyarakat setempat. 

Laut Mengubah Kehidupan Masyarakat Pesisir

Menurut You, berkembangnya industri perikanan turut mengubah pola pekerjaan masyarakat pesisir Ningde.

Sebagian masyarakat tetap bekerja dalam budidaya ikan, penangkapan ikan, rumput laut, kerang dan berbagai kegiatan kelautan lainnya. Sementara itu, generasi muda dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi mulai memiliki kesempatan bekerja di kawasan industri dan sektor teknologi.

“Di desa-desa pesisir, nelayan dan petani dapat bekerja dalam budidaya, penangkapan ikan, rumput laut dan industri kelautan lainnya. Generasi muda yang memperoleh pendidikan lebih baik juga memiliki kesempatan bekerja di kawasan industri dan industri modern lainnya,” katanya.

Bagi You, perkembangan large yellow croaker selama sekitar tiga dekade memperlihatkan bagaimana masyarakat pesisir dapat bergerak dari kegiatan perikanan tradisional menuju industri akuakultur modern melalui penelitian, teknologi dan pemanfaatan sumber daya alam.

“Kami bergantung pada pegunungan dan juga laut. Laut telah menopang kehidupan banyak orang di sini. Dengan fasilitas, teknologi dan industri pendukung yang lebih baik, nelayan dan petani kini memiliki lebih banyak kesempatan untuk meningkatkan kehidupan mereka,” ujarnya.

Selain mengembangkan perusahaan, You juga terlibat dalam berbagai kegiatan sosial. Dalam beberapa tahun terakhir, sekitar 38,76 juta yuan telah disalurkan untuk pembangunan Hope Primary Schools, bantuan bagi mahasiswa dari keluarga kurang mampu, peningkatan jalan desa, fasilitas air minum hingga pusat kegiatan bagi warga lanjut usia.

Kunjungan ke kawasan budidaya large yellow croaker sekaligus menutup rangkaian kegiatan delegasi ASEAN Media Workshop di Ningde pada 20 September.

Setelah kembali dari kawasan budidaya, para peserta makan siang sebelum meninggalkan Ningde menggunakan bus menuju Dehua County, Quanzhou City, dengan perjalanan darat sekitar 3,5 jam.

Delegasi dijadwalkan bermalam di Dehua untuk melanjutkan rangkaian kunjungan ASEAN Media Workshop di Provinsi Fujian. 

Reporter : Cidalia Fátima

Editor   : Armandina Moniz

Publisidade

Leave a Reply

Latest Post

error: Content is protected !!