Dari Robot hingga diagnosis penyakit, Jurnalis ASEAN telusuri teknologi AI di Guangxi

NANNING, 18 September 2026 (TATOLI) – Dari robot, kacamata penerjemah, pembuatan video hingga teknologi untuk membantu diagnosis penyakit, delegasi jurnalis ASEAN melihat secara langsung beragam pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang dikembangkan di Nanning, Daerah Otonom Etnis Zhuang Guangxi, China, pada hari terakhir kunjungan mereka.
Kunjungan sesi sore dimulai di China-ASEAN Artificial Intelligence Application Cooperation Center, sebuah platform yang dikembangkan Guangxi untuk mendorong penerapan dan kerja sama AI antara China dan negara-negara ASEAN.
Di pusat tersebut, para jurnalis diperlihatkan bagaimana AI tidak hanya dikembangkan sebagai teknologi digital, tetapi mulai diterapkan dalam berbagai kebutuhan manusia dan industri.

China-ASEAN Artificial Intelligence Application Cooperation Center. Foto TATOLI/Cidalia Fatima
Delegasi melihat pengembangan robot, teknologi penerjemahan bahasa, perangkat elektronik berbasis AI, sistem transportasi pintar, layanan kesehatan hingga pembuatan short drama dengan bantuan platform AI bernama NOVA.
Pusat kerja sama tersebut memiliki tiga area utama, yakni AI Exhibition Hall, “Tree of Wisdom” Service Hall, serta AI Factory yang mencakup rantai industri mulai dari pemrosesan data hingga penerapan large language model.
Berdasarkan penjelasan selama kunjungan, sebanyak 61 proyek AI domestik telah menandatangani kerja sama dengan pusat tersebut dan 54 di antaranya telah mulai beroperasi. Proyek-proyek tersebut berfokus pada sejumlah bidang, termasuk smart city, embodied intelligence dan Artificial Intelligence Generated Content (AIGC).
Delegasi juga mendapat penjelasan mengenai Nanning Gateway Bureau yang dikembangkan untuk mendukung transmisi data lintas batas. Infrastruktur tersebut disebut mampu menekan latensi transmisi data antara Nanning dan Hanoi, Vietnam, hingga sekitar lima milidetik.
Kecepatan transmisi data tersebut dinilai penting untuk mendukung pengembangan kerja sama digital China–ASEAN, termasuk di bidang daya komputasi, keuangan lintas batas dan telemedicine.
Dalam pengembangan teknologi bahasa, Guangxi juga memperkenalkan model bahasa besar berbahasa Lao sebagai salah satu upaya mengembangkan teknologi AI yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan negara-negara ASEAN.
AI bantu deteksi penyakit

Salah satu teknologi yang menarik perhatian delegasi adalah penerapan AI di bidang kesehatan.
Para jurnalis diperkenalkan pada sistem yang dikembangkan First Affiliated Hospital of Guangxi Medical University untuk membantu mendeteksi kandungan zat besi pada jantung dan hati, terutama bagi pasien thalassemia.
Menurut penjelasan pemandu, teknologi tersebut dapat menggunakan AI untuk mengidentifikasi area pemeriksaan hanya dalam waktu sekitar dua detik dengan tingkat akurasi yang diklaim mencapai 98 persen.
Teknologi itu juga disebut dapat menekan biaya pemeriksaan sekitar dua pertiga sehingga diharapkan mengurangi beban biaya yang harus ditanggung pasien.
Selain kesehatan, AI telah diterapkan pada pengaturan lalu lintas. Sistem memanfaatkan big data dan algoritma untuk mengatur durasi lampu lalu lintas di persimpangan berdasarkan kondisi kendaraan. Penerapannya diklaim dapat meningkatkan efisiensi lalu lintas hingga sekitar 30 persen.
Teknologi AI juga dikembangkan untuk mendukung perdagangan lintas batas China–Vietnam melalui smart port. Sistem tersebut memadukan kendaraan tanpa pengemudi, radar, sensor visual berbasis AI, jaringan 5G dan sistem navigasi BeiDou untuk mengangkut barang sekaligus mendukung proses kepabeanan.
Menurut penjelasan yang diterima delegasi, penggunaan sistem tersebut memungkinkan proses pengangkutan dan penyelesaian prosedur kepabeanan dilakukan sekitar 24 jam, dibandingkan proses sebelumnya yang dapat membuat pengemudi menunggu hingga tiga hari.
Para jurnalis juga mencoba sejumlah perangkat berbasis AI, termasuk kacamata penerjemah serta alat pemeriksaan kesehatan yang memadukan teknologi AI dengan pendekatan pengobatan tradisional China.
Perangkat pemeriksaan tersebut menggunakan sejumlah indikator, termasuk wajah, lidah dan denyut nadi, serta sesi tanya jawab untuk menghasilkan informasi kesehatan dan peringatan awal mengenai potensi risiko penyakit kronis.
Dari pusat AI ke rumah sakit
Setelah melihat berbagai aplikasi AI, delegasi melanjutkan kunjungan ke China-ASEAN Healthcare Cooperation Center (Guangxi) yang berbasis di First Affiliated Hospital of Guangxi Medical University.
Di tempat tersebut, para jurnalis melihat lebih dekat bagaimana teknologi digital dan AI diterapkan dalam pelayanan kesehatan, mulai dari membantu pemeriksaan dan diagnosis penyakit hingga konsultasi dengan pasien.
Delegasi juga mengunjungi fasilitas CT Scan dan melihat bagaimana pelayanan medis modern dipadukan dengan sejumlah pendekatan pengobatan tradisional China.

China-ASEAN Healthcare Cooperation Center (Guangxi) dikembangkan sebagai platform kerja sama medis internasional antara China dan negara-negara ASEAN.
Pusat tersebut mulai beroperasi pada September 2025 dengan luas sekitar 115.877 meter persegi dan kapasitas 838 tempat tidur. Fasilitasnya mencakup pusat telemedicine, pelayanan medis internasional, ruang operasi modern serta fasilitas untuk mendukung penanganan pasien kritis.
Selain pelayanan medis, pusat tersebut berfungsi untuk mendukung pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan, penelitian, pertukaran tenaga medis serta pengembangan kerja sama kesehatan China–ASEAN.
Director of International Medical Services, Zhang Lie, mengatakan keberadaan Guangxi Medical University turut memberikan dukungan terhadap pelayanan medis internasional karena universitas tersebut memiliki mahasiswa yang berasal dari berbagai negara.
“Di universitas kedokteran kami terdapat banyak mahasiswa internasional, dan mereka juga memberikan dukungan besar terhadap pelayanan medis internasional kami,” kata Zhang Lie kepada delegasi jurnalis ASEAN.
First Affiliated Hospital of Guangxi Medical University juga telah membangun kerja sama dengan berbagai rumah sakit dan lembaga kesehatan dari negara-negara ASEAN. Lebih dari 1.500 tenaga medis ASEAN tercatat telah mengikuti berbagai program pelatihan yang diselenggarakan institusi tersebut.
Program itu mencakup sejumlah bidang, antara lain diagnosis genetik dan prenatal thalassemia, urologi, intervensi kardiovaskular, teknologi medis dan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan.
Timor-Leste juga telah terlibat dalam kerangka dialog kesehatan China–ASEAN. Wakil Menteri Kesehatan Timor-Leste, José dos Reis Magno, menghadiri Fifth China–ASEAN Health Cooperation Forum di Nanning pada September 2025.
Kehadiran pusat tersebut membuka ruang bagi negara-negara ASEAN, termasuk Timor-Leste, untuk menjajaki kerja sama lebih lanjut dalam bidang pelatihan tenaga kesehatan, telemedicine, penelitian, pertukaran tenaga medis dan pengembangan pelayanan kesehatan berbasis teknologi.
Kunjungan ke pusat AI dan kesehatan tersebut menjadi bagian dari agenda sore sekaligus rangkaian hari terakhir delegasi media ASEAN di Guangxi, setelah mengikuti sejumlah kunjungan lapangan untuk melihat perkembangan konektivitas, perdagangan, industri, teknologi serta kerja sama China–ASEAN.
Reporter: Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz

