Dulu tinggal di Perahu, kini Xiaqi tumbuh jadi Kampung Nelayan Modern

NINGDE, 19 September 2026 (TATOLI) – Deretan rumah permanen, usaha kuliner, perdagangan hasil laut hingga kegiatan budidaya perikanan kini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Xiaqi Village di Ningde, Provinsi Fujian, China. Sulit membayangkan bahwa kurang dari tiga dekade lalu, banyak keluarga di kampung tersebut masih menjadikan perahu sebagai rumah sekaligus sumber kehidupan mereka.
Perubahan itu disaksikan langsung delegasi jurnalis negara-negara ASEAN yang mengunjungi Xiaqi pada Sabtu, sebagai agenda pertama rangkaian ASEAN Media Workshop di Fujian yang berlangsung pada 19 hingga 23 September 2026.
Delegasi tiba di Bandara Fuzhou sekitar pukul 13.30 waktu setempat setelah menyelesaikan rangkaian kegiatan di Guangxi. Dari bandara, rombongan langsung menempuh perjalanan darat sekitar dua jam menuju Ningde untuk melihat transformasi salah satu komunitas nelayan di wilayah tersebut.
Xiaqi dikenal sebagai salah satu permukiman di Fujian timur tempat keluarga-keluarga yang secara turun-temurun hidup di atas perahu dipindahkan secara bersama-sama ke daratan.

Foto-foto masa lalu Kehidupan di Xiaqi Village pada 1997. Foto TATOLI/Cidalia Fatima
Sebelum relokasi, perahu bukan hanya alat mencari ikan. Di ruang yang sangat terbatas itu, keluarga memasak, tidur, menyimpan air bersih dan hasil tangkapan, serta membesarkan anak-anak. Beberapa generasi dalam satu keluarga bahkan dapat menjalani kehidupan di perahu yang sama.
Kondisi tersebut perlahan berubah setelah proses pemindahan masyarakat ke daratan dilakukan sejak akhir 1990-an.
Setelah menetap di daratan, Xiaqi mulai mengembangkan struktur ekonomi yang lebih beragam. Penangkapan ikan tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, tetapi kini dilengkapi dengan budidaya perikanan, perdagangan dan pengolahan hasil laut, restoran, jasa serta kegiatan ekonomi lainnya.
Perubahan itu terlihat dari peningkatan pendapatan masyarakat. Data yang diperoleh delegasi selama kunjungan menyebutkan pendapatan bersih per kapita warga Xiaqi yang sebelum relokasi berada di bawah 1.000 yuan meningkat menjadi 32.788 yuan pada 2023.
Dalam beberapa tahun terakhir, Xiaqi juga mulai menggabungkan sektor perikanan dengan pariwisata melalui konsep “recreational fishery plus eco-tourism”. Identitas dan sejarah kehidupan nelayan kemudian menjadi bagian dari daya tarik bagi pengunjung yang ingin mengenal perjalanan komunitas tersebut.
Lahir di Atas Perahu
Di balik perubahan fisik Xiaqi, terdapat cerita warga yang mengalami langsung kerasnya kehidupan lama tersebut.

Salah satunya adalah Zheng Yue Er, perempuan kelahiran 1979 yang ditemui delegasi jurnalis ASEAN saat mengunjungi kampung itu.
“Saya lahir di atas perahu nelayan. Sejak kecil saya mengalami sendiri kehidupan komunitas nelayan yang tinggal di atas perahu,” kata Zheng kepada delegasi.
Ia berasal dari keluarga nelayan lokal dan menghabiskan masa kecilnya di perahu sebelum kemudian tinggal selama beberapa tahun di rumah panggung.
Setelah menyelesaikan pendidikan, Zheng sempat meninggalkan kampung halaman untuk mencari pekerjaan di tempat lain. Namun, ia kemudian kembali dan mulai bekerja di Xiaqi pada akhir 1990-an. Hingga kini, ia telah menghabiskan hampir 30 tahun bekerja di kampung kelahirannya.
Ketika kembali, menurut Zheng, keluarga-keluarga nelayan masih menjalani kehidupan di atas perahu. Karena itu, ia menyaksikan sendiri proses panjang perpindahan masyarakat dari perahu menuju permukiman permanen.

Foto-foto terkini transformasi kehidupan masyarakat Xiaqi. Foto TATOLI/Cidalia Fatima
“Saya akan mengatakan bahwa perubahan ini merupakan hasil dari upaya bersama pemerintah dan masyarakat,” ujarnya ketika ditanya mengenai pihak yang paling berperan dalam perkembangan Xiaqi.
Menurut Zheng, pada tahap awal pemerintah memberikan lahan dan membantu menyediakan infrastruktur dasar, mulai dari air, listrik, jalan hingga komunikasi untuk mendukung masyarakat membangun kehidupan baru di daratan.
Ia mengatakan warga juga memperoleh bantuan keuangan. Saat proses perpindahan berlangsung, setiap orang menerima bantuan satu kali sekitar 1.300 yuan untuk membantu proses relokasi dan pembangunan tempat tinggal.
Dukungan selanjutnya, kata dia, tidak hanya berfokus pada rumah, tetapi juga mencakup layanan kesehatan dan dukungan bagi warga lanjut usia, pendidikan anak-anak, kesempatan kerja bagi generasi muda serta pelatihan keterampilan.
“Dulu komunitas nelayan kami hampir sepenuhnya bergantung pada penangkapan ikan secara tradisional. Kemudian kami mendapatkan pelatihan budidaya dan berbagai keterampilan lainnya untuk memperluas kesempatan kerja,” jelasnya.

Delegasi jurnalis negara-negara ASEAN mengunjugi Wanda Realm Ningde. Foto TATOLI/Cidalia Fatima
Dari Nelayan ke Beragam Usaha
Setelah masyarakat memiliki rumah di daratan, perubahan berikutnya terjadi pada sumber penghasilan.
Sebelum 1997 dan 1998, Zheng mengatakan penangkapan ikan menjadi mata pencaharian utama masyarakat. Kini, sebagian warga tetap bekerja sebagai nelayan, sementara lainnya beralih atau memperluas kegiatan ke budidaya hasil laut, perdagangan makanan laut, restoran dan sektor jasa.
Generasi muda Xiaqi juga memiliki pilihan pekerjaan yang lebih luas seiring meningkatnya akses terhadap pendidikan tinggi.
“Dalam waktu kurang dari 30 tahun, komunitas nelayan kami mengalami perubahan besar. Kami beralih dari kehidupan yang tidak menentu di atas perahu menuju kehidupan yang lebih stabil dan semakin sejahtera di daratan,” kata Zheng.
Menurutnya, masyarakat juga mulai mengembangkan sendiri rumah yang sebelumnya dibangun satu lantai. Seiring meningkatnya kondisi ekonomi keluarga, sebagian menambah lantai dan memperbaiki tempat tinggal mereka.
Pembangunan infrastruktur dan pengembangan berbagai kegiatan ekonomi kemudian semakin diperluas melalui program revitalisasi pedesaan.
“Kondisi kehidupan masyarakat nelayan kami semakin baik. Pendidikan, peluang bisnis dan ekonomi lokal sekarang jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya,” katanya.
Perubahan Bukan Hanya Soal Pendapatan
Bagi Zheng, salah satu perubahan terbesar yang dirasakan masyarakat justru berkaitan dengan kesehatan dan keselamatan.
Ketika hidup di perahu, keluarga nelayan harus menghadapi angin, gelombang dan cuaca buruk. Akses terhadap fasilitas kesehatan juga sangat terbatas.

Ia menceritakan bagaimana pada masa lalu terdapat warga yang meninggal pada usia relatif muda karena tidak memperoleh pengobatan tepat waktu.
Kondisi bayi dan anak-anak juga lebih rentan karena keterbatasan pelayanan medis. Menurut Zheng, sebagian bayi meninggal beberapa bulan setelah dilahirkan, sementara anak lainnya tidak mencapai usia dewasa.
Situasi tersebut berubah setelah masyarakat menetap di daratan dan memperoleh akses yang lebih mudah terhadap layanan kesehatan.
“Dulu ada yang meninggal pada usia 40 atau 50 tahun karena sulit mendapatkan layanan kesehatan. Sekarang banyak orang dapat hidup sampai usia 70 atau 80 tahun,” jelasnya.
Zheng mengatakan populasi Xiaqi kini mencapai sekitar 3.570 orang. Ketika masyarakat mulai berpindah ke daratan, jumlah penduduk sekitar 2.770 orang.
Artinya, menurut data yang disampaikannya, populasi kampung bertambah sekitar 800 orang dalam waktu kurang dari tiga dekade.
Ningde Sambut Delegasi ASEAN
Setelah menyelesaikan kunjungan di Xiaqi, delegasi ASEAN Media Workshop melanjutkan perjalanan menuju Wanda Realm Ningde untuk menghadiri jamuan makan malam bersama perwakilan Pemerintah Kota Ningde.
Deputy Director of the Publicity Department of the CPC Ningde Municipal Committee, Li Ruihua, menyampaikan selamat datang kepada para jurnalis dan berharap kunjungan tersebut dapat memberikan pemahaman lebih luas mengenai perkembangan Ningde.
“Saya percaya Ningde secara keseluruhan akan meninggalkan kesan yang sangat positif bagi Anda semua,” kata Li Ruihua dalam sambutannya.
Ia berharap seluruh agenda para jurnalis selama berada di daerah tersebut dapat berlangsung lancar.
“Atas nama Komite Partai Kota Ningde dan Pemerintah Kota Ningde, saya dengan tulus menyambut Anda semua. Saya berharap kunjungan Anda berjalan lancar dan sukses,” ujarnya.
Kunjungan ke Xiaqi menjadi pembuka rangkaian kegiatan delegasi ASEAN Media Workshop di Fujian setelah sebelumnya menyelesaikan agenda di Guangxi.
Mulai 20 September, para jurnalis akan melanjutkan kunjungan ke sejumlah lokasi di Ningde dan daerah lainnya di Provinsi Fujian untuk melihat berbagai aspek pembangunan, ekonomi, budaya dan kehidupan masyarakat setempat.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz

