30 Orang tewas tertimbun longsor sampah di Republik Guinea

DILI, 25 Agustus 2026 (TATOLI) – Hujan deras yang mengguyur ibu Republik Guinea, di kota Conakry, memicu longsor besar di sebuah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Dar Es Salam, pada Minggu (23/8/2026) dan menewaskan sedikitnya 30 orang. Tumpukan sampah dalam jumlah besar runtuh dan menimbun tenda serta bangunan-bangunan sederhana di sekitarnya.
Pemerintah Guinea mengatakan longsor terjadi sekitar pukul 02.00 waktu setempat. Selain 30 orang yang meninggal dunia, enam orang dilaporkan mengalami luka serius dan 16 lainnya mengalami luka ringan.
Bencana tersebut terjadi kurang dari sepekan setelah pemerintah mengumumkan rencana menutup lokasi pembuangan sampah tersebut dan memindahkan limbah ke tempat lain karena dianggap membahayakan masyarakat, terutama selama musim hujan.
Sejumlah saksi mata mengatakan skala longsor sangat besar. Material sampah yang runtuh disebut cukup besar untuk menimbun sebuah bangunan apartemen, selain sejumlah tempat tinggal yang kondisinya lebih sederhana dan rentan.
Besarnya dampak longsor terlihat dari kesaksian warga yang kehilangan anggota keluarganya. Seorang perempuan bernama Cire Diallo mengatakan lima anaknya menjadi korban dalam bencana tersebut.
“Saya telah kehilangan semua anak saya. Yang bisa saya lakukan hanyalah mempercayakan diri kepada Tuhan,” kata Diallo, sebagaimana dilansir Reuters.
Pemerintah masih melakukan operasi pencarian dan penyelamatan di lokasi. Alat-alat berat digunakan untuk membuka material longsor guna mencari kemungkinan korban lainnya sekaligus membersihkan kawasan yang terdampak.
Perdana Menteri Guinea Amadou Oury Bah kemudian mendatangi lokasi pada Minggu untuk melihat langsung kerusakan serta mengawasi penanganan bencana.
Dalam pernyataan pemerintah, Amadou Oury Bah meminta masyarakat untuk “tetap tenang, menunjukkan solidaritas, dan secara ketat mengikuti instruksi dari layanan penyelamatan serta pihak berwenang.”
Menteri Administrasi Teritorial Guinea Djenab Toure sebelumnya mengatakan pemerintah menutup tempat pembuangan sampah tersebut dan berencana memindahkan limbah ke lokasi di luar Conakry. Keputusan itu diambil karena kondisi TPA dianggap membahayakan, terutama dengan berlangsungnya musim hujan yang meningkatkan risiko longsor.
Pasca-kejadian, tim gabungan langsung menggelar operasi pencarian dan penyelamatan darurat untuk mengevakuasi korban yang masih mungkin selamat dari balik timbunan sampah. Selain puluhan korban jiwa, enam orang dilaporkan mengalami luka serius dan harus mendapatkan perawatan medis. Bencana longsor ini juga menyapu bersih sejumlah rumah warga yang berdiri di sekitar lokasi TPA.
TPA Dar Es Salam telah dijadwalkan untuk ditutup operasionalnya tepat pada hari Minggu tersebut. Pemerintah daerah sebelumnya juga telah melayangkan surat pengosongan kawasan kepada warga yang bermukim di sekitar lokasi pembuangan. Walaupun sebagian warga telah dipindahkan dan mematuhi imbauan tersebut, masih banyak warga yang nekat bertahan di area rawan bencana itu hingga akhirnya longsor maut terjadi.
TATOLI kutip dari CNBC Indonesia

