Top

PM Xanana nilai AI berikan manfaat, tetapi berisiko picu informasi palsu

Perdana Menteri Kay Rala Xanana Gusmão. Foto TATOLI/Egas Cristovão

DILI, 24 Agustus 2026 (TATOLI) – Perdana Menteri Kay Rala Xanana Gusmão menilai Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) sebagai teknologi baru yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, namun pada saat yang sama juga membawa risiko penyebaran informasi palsu yang dapat berdampak terhadap masyarakat dan kedaulatan negara.

Perdana Menteri Xanana Gusmão mengatakan, perkembangan teknologi baru telah mengubah cara manusia hidup dan bekerja, sekaligus mengubah perekonomian global.

“Kecerdasan Buatan dan komputasi canggih menjadi peluang, terutama bagi negara-negara yang memahami perubahan tersebut dan belajar bagaimana memanfaatkannya. Sementara negara-negara yang tidak mampu melakukannya juga dapat menghadapi risiko,” kata Perdana Menteri Xanana dalam pertemuan di CCD, Senin ini.

Menurutnya, teknologi baru dapat membantu meningkatkan kemampuan yang sudah dimiliki serta memperluas akses masyarakat terhadap pengetahuan. AI menjadi salah satu contoh penting karena teknologi tersebut dapat memberikan akses kepada tenaga kesehatan terhadap pengetahuan medis dan saran yang dalam kondisi tertentu biasanya membutuhkan seorang spesialis.

“AI dapat memberikan akses terhadap sejumlah kemampuan, tetapi kita juga perlu memahami risikonya. Teknologi seperti ini membuat pengetahuan menjadi lebih murah, tetapi juga dapat membuat penipuan menjadi lebih murah,” ujarnya.

Xanana memperingatkan bahwa AI juga dapat membuat penipuan, kecurangan, dan disinformasi politik menjadi semakin meyakinkan melalui penciptaan suara, gambar, maupun video yang terlihat nyata, padahal peristiwa tersebut sebenarnya tidak pernah terjadi.

Menurutnya, bahayanya bukan hanya masyarakat dapat mempercayai sesuatu yang palsu, tetapi teknologi tersebut juga dapat membuat masyarakat meragukan sesuatu yang sebenarnya benar.

“Karena itu, kita perlu memahami apa arti semua ini bagi demokrasi kita dan bagi kepercayaan masyarakat terhadap institusi-institusi publik. Sebab, hal ini juga dapat menimbulkan risiko terhadap kedaulatan kita,” tegas Xanana.

Ia mengatakan, selama ini masyarakat Timor-Leste telah menunjukkan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi, termasuk penggunaan telepon seluler, Facebook, dan WhatsApp. Karena itu, AI diperkirakan juga akan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat, sebagai bagian dari transformasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang lebih luas.

“Tantangan terbesar adalah bagaimana Timor-Leste memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk memahami perubahan-perubahan tersebut serta memanfaatkannya bagi pembangunan kita sendiri. Karena itu, kita perlu memperkuat pendidikan sains dan teknik serta membangun kapasitas universitas-universitas kita,” katanya.

Selain itu, menurut Xanana, Pemerintah juga harus memahami teknologi yang dipilih untuk diadopsi sehingga Timor-Leste dapat memperoleh manfaat sebesar-besarnya dari teknologi tersebut, sekaligus melindungi masyarakat dan negara dari berbagai risiko baru yang muncul.

Reporter: Alexandra da Costa (Penerjemah: Cidalia Fátima)

Editor    : Armandina Moniz

Publisidade

Leave a Reply

Latest Post

error: Content is protected !!