Pemulangan jenazah tiga prelatus : Kewajiban untuk mengenang dan berterima kasih

DILI, 20 Agustus 2026 (TATOLI) – Menteri Perencanaan dan Investasi Strategis, Gastão de Sousa, selaku Perwakilan Pemerintah Timor-Leste yang saat ini berada di Portugal, mengatakan pemulangan tulang jenazah tiga prelatus ke Timor-Leste merupakan kewajiban negara untuk mengenang ketiganya dan berterima kasih atas pengabdian yang telah diberikan kepada rakyat Timor-Leste.
“Pemulangan kembali ketiga tokoh agama itu merupakan wujud kewajiban untuk mengenang dan berterima kasih dari Negara. Mereka tidak akan kembali sebagai sosok asing yang dihormati dari kejauhan, melainkan pada hakikatnya sebagai anak-anak yang akhirnya pulang ke rumah yang senantiasa menjadi milik mereka, untuk beristirahat di tengah masyarakat yang mereka layani dan kepada siapa mereka memiliki ikatan serta jasa yang begitu besar,” ujar Gastão de Sousa dalam Laman Pemerintah yang diakses TATOLI.
Dalam pernyataan yang disampaikan pada Rabu usai Misa Requiem untuk mendiang tiga prelatus yaitu, Dom Jaime Garcia Goulart (Administrator Apostolik Keuskupan Dili, 1941–1945, dan Uskup pertama Keuskupan Dili, 1945–1967), Dom José Joaquim Ribeiro, Uskup Koajutor (1965–1967) dan Uskup kedua Keuskupan Dili (1967–1977), dan Monsignor Martinho da Costa Lopes (Administrator Apostolik (ad nutum Sanctae Sedis) Keuskupan Dili, 1978–1983 di gelar di Gereja Katedral Évora, Portugal.
Dikatakan, sejarah Gereja di Timor-Leste tidak dapat dipisahkan dari kiprah ketiga tokoh hierarki ini, masing-masing dari mereka—dengan cara dan pada masanya sendiri—menandai tahapan krusial dalam perjalanan tersebut.

Sebagai Uskup Dili yang pertama, Dom Jaime Garcia Goulart mengemban tugas mendasar untuk membentuk dan menata keuskupan di wilayah yang memiliki tantangan geografis, sebaran penduduk yang luas, serta keragaman bahasa dan budaya yang luar biasa. Karya pastoralnya melampaui sekadar penataan kelembagaan Gereja; beliau juga mencakup upaya memajukan pendidikan, melatih para imam setempat, serta membangun jaringan paroki yang kelak menjadi pilar kehidupan masyarakat Timor selama beberapa generasi.
Berkat prakarsanyalah iman Kristen—yang dibawa ke Timor berabad-abad sebelumnya oleh para misionaris Portugis—akhirnya memiliki struktur gerejawi tersendiri yang mampu menjangkau dan melayani secara dekat penduduk di wilayah-wilayah paling terpencil. Kepada upaya peletakan dasar inilah Gereja di Timor-Leste berutang—sebagaimana patut diakui dengan penuh rasa syukur—sebagian besar dari kekokohan yang menjadi ciri khasnya saat ini.
Dikatakan, Dom José Joaquim Ribeiro, dari Keuskupan Agung ini, memikul tanggung jawab untuk meneruskan warisan tersebut dan mengukuhkannya di tengah masa transformasi sosial dan politik yang mendalam. Di bawah kepemimpinan pastoralnya, Keuskupan Dili mengalami perkembangan yang berkelanjutan, dengan memadukan kesetiaan pada tradisi doktrinal serta kepekaan terhadap perubahan yang kala itu tengah muncul dalam masyarakat Timor. Pada masa itu pula, Gereja di Timor memperkuat pembinaan para imam dan katekis setempat serta menambah jumlah mereka—sebuah investasi yang terbukti sangat krusial hanya beberapa tahun kemudian; sebab, saat terjadi invasi Indonesia pada tahun 1975 dan masa pendudukan panjang yang menyusulnya, justru di dalam struktur klerus dan parokilah rakyat Timor menemukan salah satu dari sedikit tempat perlindungan yang tersisa untuk menjaga identitas serta membangun perlawanan moral.
Justru kedekatan inilah yang dijunjung tinggi oleh Monsinyur Martinho da Costa Lopes, dengan mengangkatnya ke taraf kesaksian sejarah yang jauh melampaui ranah gerejawi semata. Di masa-masa penderitaan hebat yang dialami rakyat Timor, Monsinyur Martinho da Costa Lopes—dengan ketenangan dan keberanian—mengemban peran sebagai penyambung lidah bagi mereka yang suaranya tidak terdengar; beliau secara terbuka mengecam kekerasan yang kala itu melanda Timor Timur (kini TL) serta menuntut, di hadapan masyarakat internasional, penghormatan terhadap martabat manusia dan hak suatu bangsa atas sejarah serta identitasnya sendiri.
Sebagaimana diketahui, tindakan keberanian pastoral ini mengharuskannya meninggalkan tanah air yang sangat dicintainya secara paksa; namun, hal itu tidak pernah melunturkan tempat istimewanya di hati rakyat Timor, yang hingga kini mengenangnya sebagai salah satu pembela terbesar mereka di masa-masa sulit.
Bagi banyak orang Timor, kenangan akan sosoknya tak terpisahkan dari gagasan tentang martabat bangsa, dan teladannya mengingatkan bahwa iman serta pengabdian kepada rakyat—jika dijalani dengan integritas—melampaui batas antara ranah spiritual dan sipil.

“Bukanlah suatu kebetulan bahwa Gereja Katolik memegang peranan penting dalam sejarah terkini Timor-Leste yang jauh melampaui misi spiritualnya. Di masa-masa paling sulit dalam perjalanan bangsa kita, sering kali di lingkungan paroki, misi, dan melalui para gembalalah rakyat Timor menemukan perlindungan, dukungan, dan wadah untuk menyuarakan aspirasi. Peran tersebut—yang turut dibangun dan diperkuat oleh ketiga mendiang tokoh gerejawi ini—tetap terpatri dalam ingatan kolektif bangsa kita; inilah pula alasan mengapa Pemerintah Timor-Leste memberikan makna khusus pada perayaan ini, yang melampaui sekadar peringatan peristiwa sejarah,” katanya.
“Izinkan saya menegaskan kembali bahwa pemulangan tulang jenazah tiga prelatus ini bukanlah tujuan akhir, melainkan awal dari sebuah komitmen yang diperbarui—komitmen Negara Timor untuk melestarikan memori sejarah dan religius yang tercermin dalam diri para Prelatus ini, serta untuk melanjutkan hubungan persahabatan dan kerja sama yang kami harap akan semakin erat dari generasi ke generasi: antara Gereja Timor dan Gereja Portugal, antara rakyat kita, dan antara negara kita,” tuturnya.
Berdasarkan warisan inilah dapat memahami keputusan Pemerintah Timor-Leste untuk mendukung sepenuhnya upaya Konferensi Waligereja Timor-Leste dalam memulangkan tulang jenazah mendiang ketiga prelatus tokoh gerejawi tersebut ke Timor-Leste.
Pada kesempatan ini, ia juga menyampaikan apresiasi yang mendalam dari Pemerintah Timor-Leste kepada pihak berwenang Portugal—khususnya Pemerintah Portugal, Keuskupan Angra, Keuskupan Agung Évora, dan Keuskupan Agung Lisbon—serta kepada semua pihak lain yang, di sepanjang proses ini, telah mendukung persiapan pemulangan tulang jenazah ketiga prelatus dengan penuh dedikasi.
Ia pun menambahkan bahwa, pemulangan tulang jenazah ketiga prelatus ini juga menjadi sarana untuk memperbarui persahabatan yang mempersatukan Timor-Leste dan Portugal—dua bangsa yang dipertemukan oleh sejarah, dan yang akan senantiasa semakin dipererat oleh kenangan akan ketiga prelatus.
Misa Requiem yang diadakan gelar di Gereja Katedral Évora, Portugal itu turut dihadiri Uskup Agung Évora, Nunsio Apostolik, sejumlah uskup, pejabat sipil dan militer Portugal, serta Uskup Diosis Baucau, Dom Leandro Alves.
Tim TATOLI

