AINARO, 17 oktober 2024 (TATOLI)– Gunung Rabilau yang saat ini dikenal oleh banyak orang sebagai salah satu Pusat Pariwisata Masyarakat di Maubisse, kotamadya Ainaro dulunya dikenal dengan nama Hautrabi.
“Dulunya Rabilau ini bernama Hautrabi yang diambil dari bahasa daerah Maubisse, mambae. Tapi nama ini diubah pada 2012 karena masyarakat membangun sebuah destinasi religi di atas puncak Rabilau,” kata Tetua Adat di Maubisse, Zacarias Bossa di Pusat Pariwisata Masyarakat Rabilau, kamis ini.
Tetua Adat itu menceritakan sebelum dijadikan Pusat Pariwisata awalnya Rabilau dikenal sebagai Hautrabi adalah tempat bagi masyarakat setempat untuk mengembalakan kuda, kerbau, kambing dan ternak lainnya.
Berita terkait : Mengintip “surga kecil” Rabilau di Maubisse
Namun pada tahun 2012, masyarakat dari desa Maubisse khususnya di kampung Rimori, Koulala dan Kanurema melalui dukungan gereja akhirnya membangun Destinasi Religi di puncak gunung yang lebih dikenal Gruta Nossa Senhora Rabilau.
“Tapi setelah dibangun tempat doa, kami berkata mungkin ini takkan dikenal lebih jauh, jadi dengan inisiatif Kepala Desa Maubisse (Wilson Mendonça) bersama ketiga kampung bekerjasama untuk membangun tempat ini menjadi Pariwisata Masyarakat, kami mencoba membuat proposal pada Presiden Republik dan Pemerintah sampai akhirnya hari ini bisa dikembangkan seperti ini,” jelasnya.
Rabilau sendiri dulunya dikenal dengan tempat keramat dan mistis karena kata Hautrabi sendiri artinya adalah bebatuan dan di pegunungan ini sejak dulu hanya ditumbuhi oleh rumput sehingga cocok bagi para ternak.
Pada 2022, Kelompok dari Pusat Pariwisata Masyarakat Rabilau juga menerima kunjungan Presiden Republik, José Ramos Horta untuk Pameran Budaya di Rabilau dimana pada saat itu Kepala Negara berkomitmen untuk segera digelar Festival di Rabilau pada tahun 2024.
“Sebagai masyarakat Ainaro dan Maubisse kami sangat senang karena sejak zaman dahulu ini tempat untuk kerbau dan tidak dibayangkan akan jadi seperti ini tapi dengan dukungan Tuhan yang maha kuasa hari ini Rabilau Maubisse sudah dikenal secara nasional dan internasional,” katanya.
Untuk mengenang Festival Rabilau 2024, Presiden Horta juga meresmikan dua rumah adat di Rabilau bernama Yuit-Lai dan Det-Lai karena sebelumnya tempat tersebut dihuni oleh pendahulu dari kedua rumah adat.
Ketua Pariwisata Masyarakat Rabilau, Adelino Mendonça Espírito Santo juga mengungkapkan dalam sejarah di Maubisse, Rabilau dulu ditinggali oleh pendahulu rumah adat Yuit-Lai dan Det-Lai.
Berita terkait : Festival Rabilau 2024 : Masyarakat ingin infrastruktur yang memadai
“Tempat ini dulunya adalah tempat budaya dan mereka dulu berjumlah sekitar 300 tahun lalu tinggal disini tapi karena takut akan alam yang mistis akhirnya mereka milih untuk menepi ke tempat lain, tapi akhirnya kita membawa kembali dua rumah adat yang dulunya sudah ada disini,” kata Adelino.
Dalam bahasa daerah Mambae nama rumah adat Yuit-Lai artinya mengajak tamu untuk masuk (ke lembah/tempat tinggal) dan Det-Lai adalah merangkul tamu untuk jalan bersama (ke lembah/ tempat tinggal).
Dalam peresmian kedua rumah adat yang didanai oleh pemerintah tersebut, dilakukan juga penanaman pohon beringin oleh Presiden Republik, José Ramos Horta yang diberi Ramos Horta, Wakil Perdana Menteri, Mariano Assanami Sabino juga menanam pohon cemara yang diberi nama Xanana Gusmão.
Reporter: Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz




