iklan

INTERNASIONAL, HEADLINE

Megawati Soekarnoputri : Rekonsiliasi Indonesia dan Timor-Leste jadi teladan dunia

Megawati Soekarnoputri : Rekonsiliasi Indonesia dan Timor-Leste jadi teladan dunia

Presiden Kelima Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri, dalam acara Kuliah Kepresidenan. Foto TATOLI

DILI, 09 Juli 2026 (TATOLI) – Presiden Kelima Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri, menegaskan bahwa proses rekonsiliasi yang dibangun Indonesia dan Timor-Leste telah menjadi contoh bagi dunia dalam menyelesaikan konflik melalui perdamaian, saling menghormati, dan keberanian moral para pemimpin kedua negara.

Pernyataan tersebut disampaikan Megawati dalam Kuliah Kepresidenan bertajuk Dua Negara Merangkai Cita-Cita Bersama: Pembangunan Bangsa, Rekonsiliasi, dan Persaudaraan Asia Tenggara sebagai Jalan Peradaban Dunia di Dili yang diadakan di Istana Kepresidenan, Dili, Kamis ini.

Megawati mengatakan, ketika bersama Xanana Gusmão membangun rekonsiliasi, keduanya bersepakat bahwa perdamaian sejati bukan berarti menghapus masa lalu, melainkan mengambil pelajaran darinya untuk membangun masa depan yang lebih baik.

“Rekonsiliasi tentu memerlukan keberanian moral dari pemimpin kedua negara. Rekonsiliasi tidak melupakan sejarah. Ia mengambil pelajaran berharga dari masa lalu. Rekonsiliasi adalah jalan perdamaian dengan membangun rasa saling percaya disertai penghormatan terhadap martabat kedua negara,” ujar Megawati.

Menurut Megawati, keberhasilan rekonsiliasi Indonesia dan Timor-Leste mendapat perhatian masyarakat internasional. Hal itu juga disampaikan Presiden Timor-Leste, José Ramos-Horta, saat menerima delegasi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan pada awal Juni 2026.

Megawati mengungkapkan bahwa Ramos-Horta menilai dunia banyak belajar dari proses rekonsiliasi yang ditempuh kedua negara. Ia juga menyampaikan kegembiraannya karena Presiden Timor-Leste turut mengadopsi semangat perjuangan Soekarno melalui ajaran Marhaenisme.

Ia menambahkan bahwa rekonsiliasi Indonesia dan Timor-Leste berakar pada prinsip bahwa kemerdekaan merupakan hak setiap bangsa serta penolakan terhadap segala bentuk kolonialisme dan imperialisme, sebagaimana tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.

Megawati mengatakan, keberhasilan rekonsiliasi tersebut membuktikan bahwa bangsa yang pernah mengalami konflik dapat membangun hubungan persaudaraan apabila memiliki keberanian untuk menghadapi sejarah secara jujur dan bersama-sama membangun kepercayaan.

Dalam pidatonya, ia juga menilai Komisi Kebenaran dan Persahabatan sebagai wujud nyata semangat rekonsiliasi kedua negara. Menurutnya, komisi tersebut merupakan satu-satunya lembaga di dunia yang dibentuk atas prakarsa bersama dua negara, bukan karena tekanan pihak luar.

“Indonesia dan Timor-Leste telah menemukan jalan peradaban: mengingat tanpa mendendam, memaafkan tanpa melupakan. Kita mengingat agar tidak terulang. Kita memaafkan agar dapat berjalan,” kata Megawati.

Ia menegaskan bahwa pengalaman kedua negara merupakan bukti hidup bahwa luka sejarah dapat diubah menjadi persaudaraan yang kokoh dan menjadi sumbangan berharga bagi perdamaian dunia.

Perempuan Penentu Rekonsiliasi dan Perdamaian

Megawati juga menyampaikan penghormatan kepada perempuan Timor-Leste yang tetap menjaga harapan pada masa-masa sulit, serta kepada perempuan Indonesia yang berada di garis depan dalam perjuangan perubahan politik pada 1998. Ia juga mengapresiasi tingginya keterwakilan perempuan di Parlemen Nasional Timor-Leste yang menurutnya termasuk yang tertinggi di Asia.

Berdasarkan pengalaman hidupnya, Megawati mengatakan rekonsiliasi dan demokrasi akan tumbuh lebih kuat apabila perempuan diberi ruang dalam proses pengambilan keputusan.

“Di mana perempuan diberi tempat di meja pengambilan keputusan, di situ rekonsiliasi bertahan lebih lama, dan demokrasi berakar lebih dalam, serta perdamaian dirawat dengan lebih tekun,” katanya.

Menurut Megawati, perempuan bukan hanya melahirkan generasi penerus, tetapi juga berperan membangun bangsa. Karena itu, negara yang tidak memberikan kesempatan kepada perempuan sama artinya menutup peluang bagi separuh masa depannya sendiri.

Ia juga mengajak generasi muda Indonesia dan Timor-Leste untuk meneruskan semangat persaudaraan kedua bangsa melalui penguatan kerja sama di berbagai bidang, termasuk pendidikan, parlemen, organisasi perempuan, dan kerangka Association of Southeast Asian Nations, sehingga perdamaian dan rekonsiliasi dapat terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Reporter  : Cidalia Fátima

Editor   : Armandina Moniz

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!