Aksi protes di Prancis berbuntut pembakaran dan penjarahan, lebih dari 1.200 orang ditangkap

DILI, 20 Oktober 2026 (TATOLI) – Kekerasan terjadi di berbagai wilayah Prancis pada Sabtu (17/10), dalam gelombang terbaru demonstrasi yang memprotes kondisi sulit di sekolah-sekolah serta biaya hidup dan kurangnya dana untuk layanan publik di negara tersebut.
Sedikitnya 1.200 orang ditangkap dalam aksi yang oleh pemerintah Prancis disebut sebagai “eskalasi kekerasan”, sementara sekitar 550.000 orang diperkirakan turun ke jalan.
Di Paris, bentrokan besar antara demonstran dan polisi berlangsung hingga malam hari. Polisi menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan massa.
Sejumlah bangunan dibakar di ibu kota Prancis, serta beberapa daerah lain. Di Limoges, kebakaran besar yang melanda balai kota menyebabkan sebagian atap gedung runtuh.
Aksi penjarahan juga terjadi di beberapa kota, sementara laporan mengenai vandalisme meluas yang menyasar balai kota dan berbagai bangunan komersial turut bermunculan.
Perdana Menteri Prancis, Sébastien Lecornu, mengatakan 150 polisi terluka dalam kerusuhan tersebut.

Menanggapi insiden tersebut, Presiden Prancis Emmanuel Macron menegaskan bahwa “tidak ada tempat bagi kekerasan” di negaranya.
Di Paris, aksi demonstrasi pada siang hari tampak berlangsung relatif damai. Sekelompok anak muda mengatakan kepada BBC bahwa mereka adalah “pasifis” yang “hanya ingin mendorong perubahan, tetapi tidak ada yang bergerak”.
Namun, seiring berjalannya hari, sejumlah kelompok mulai menyalakan api di jalan-jalan dan membakar kendaraan, termasuk di lokasi-lokasi ikonik di pusat kota seperti Place de la République.
Sejumlah toko dijarah, setidaknya satu restoran hangus terbakar, dan BBC menyaksikan bentrokan pecah di antara beberapa kelompok demonstran.
Polisi juga terlihat menyerbu salah satu kerumunan di pusat Paris serta memukul sejumlah orang dengan tongkat polisi.
Di Lyon, Wali Kota Grégory Doucet menyebut pembakaran kantor pariwisata kota itu sebagai “tragedi” bagi Lyon.
Kepada BFMTV, ia mengatakan, “Peristiwa ini menghancurkan hati kami karena bangunan ini merupakan bangunan bersejarah yang sangat ikonik dan dikenal luas.”

Menurut kepolisian setempat, sejumlah “individu yang bersikap bermusuhan” menghalangi petugas pemadam kebakaran untuk menangani api dengan aman.
Petugas pemadam kebakaran juga berjuang memadamkan kebakaran di balai kota Limoges. Prefektur setempat mengatakan kebakaran tersebut menyebabkan sebagian bangunan balai kota itu runtuh.
Di tengah kerusuhan, tangan seorang pemuda juga dilaporkan “putus akibat ledakan granat” di Saint-Étienne, kata Wali Kota kota di tenggara Prancis tersebut, Régis Juanico, melalui media sosial.
Ia menambahkan bahwa tragedi tersebut “seharusnya tidak pernah terjadi.”
Kementerian Dalam Negeri Prancis mengatakan aksi protes itu diwarnai “tindakan kekerasan yang disengaja” oleh “individu-individu bertudung” di sejumlah lokasi, termasuk beberapa bagian Paris serta kota-kota seperti Marseille, Rennes, Toulouse, dan Angers.
Kerusakan pada bangunan juga dilaporkan terjadi di berbagai wilayah Prancis, termasuk di Grenoble, Avignon, Pau, Montpellier, dan Valence.
Di Paris, sejumlah toko pakaian dan bahan makanan dijarah. Sementara itu, sebuah toko brand Apple di Lille dibobol dan dikuras isinya.
Meski Prancis bukan negara yang asing dengan gelombang protes maupun kerusuhan, aksi kali ini terjadi ketika negara itu memasuki masa ketidakpastian politik yang mendalam.

Presiden Prancis Emmanuel Macron akan melepas jabatannya tahun depan. Jajak pendapat menunjukkan pemilihan presiden pada April mendatang berpotensi menjadi pertarungan antara pemimpin partai National Rally, Marine Le Pen, dan tokoh kiri radikal Jean-Luc Mélenchon dari partai La France Insoumise.
Pemerintah sendiri telah berupaya meredakan kemarahan publik dengan menawarkan sejumlah konsesi. Pada wawancara televisi 8 Oktober lalu, Menteri Pendidikan Édouard Geffray menjanjikan penambahan 3.000 guru pengganti, untuk membantu mengatasi kekurangan tenaga pengajar di sekolah-sekolah.
Namun demikian, aksi protes belum mereda.
Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Laurent Nuñez mengatakan dalam pidato yang disiarkan televisi bahwa polisi turut membantu memastikan demonstrasi berlangsung damai dengan menahan para pengunjuk rasa yang bertindak kekerasan.
Sementara itu, Konfederasi Umum Buruh Prancis (CGT) menggambarkan gelombang demonstrasi terbaru ini sebagai “tahap baru dalam proses mobilisasi” dan menegaskan bahwa pemerintah “harus segera merespons tuntutan masyarakat” tanpa penundaan.
Di antara tuntutan yang didorong CGT kepada pemerintahan Emmanuel Macron adalah kenaikan upah dan pensiun, serta pemberlakuan kembali pajak kekayaan bagi warga negara yang masuk kategori kaya.
CGT juga “menyerukan kelanjutan mobilisasi damai bersama kaum muda” dalam beberapa hari mendatang. CGT juga telah menyerukan pemogokan dengan aksi puncak pada tanggal 05 November untuk memprotes pemotongan anggaran dan mendukung kenaikan upah.
Hingga kini belum ada laporan mengenai korban luka dari kalangan warga asing (warga internasional) yang terjebak dalam kerusuhan tersebut. Namun, beberapa pemerintah Eropa menyarankan warganya yang bepergian ke Prancis untuk menghindari keramaian dan berhati-hati.
TATOLI kutip dari BBC

