Perairan Timor-Leste jadi habitat bagi 25 jenis Paus, Lumba-Lumba dan Dugong

DILI, 19 Oktober 2026 (TATOLI) — Perairan Timor-Leste menjadi habitat dan jalur migrasi penting bagi sedikitnya 25 jenis dan subspesies mamalia laut, termasuk paus biru, paus sperma, paus bungkuk, berbagai jenis lumba-lumba dan dugong. Kekayaan biodiversitas tersebut menunjukkan potensi besar negara ini dalam pengembangan wisata bahari sekaligus pentingnya perlindungan ekosistem laut.
Informasi tersebut tercantum dalam dokumen Guidelines for Interacting with Cetaceans and Dugongs in Timor-Leste, yang dikembangkan melalui kerja sama Kementerian Pertanian, Peternakan, Perikanan dan Kehutanan (MAPPF) bersama Conservation International Timor-Leste (CI-TL), dengan dukungan proyek Solutions for Marine and Coastal Resilience in the Coral Triangle (SOMACORE).
Dokumen yang diluncurkan pada 30 September 2026 itu memuat daftar mamalia laut yang tercatat di perairan Timor-Leste, termasuk sejumlah spesies yang menghadapi ancaman kepunahan menurut klasifikasi International Union for Conservation of Nature (IUCN).
Dari kelompok paus, beberapa jenis yang tercatat antara lain paus biru (Balaenoptera musculus), paus biru kerdil (Balaenoptera musculus brevicauda), paus sirip (Balaenoptera physalus), paus sei (Balaenoptera borealis), paus Bryde (Balaenoptera edeni), dan paus bungkuk (Megaptera novaeangliae).
Selain itu, terdapat paus sperma (Physeter macrocephalus), paus sperma kerdil (Kogia breviceps), paus sperma kecil (Kogia sima), paus berparuh Cuvier (Ziphius cavirostris), paus pembunuh atau orca (Orcinus orca), paus pilot sirip pendek (Globicephala macrorhynchus), paus pembunuh palsu (Pseudorca crassidens), paus pembunuh kerdil (Feresa attenuata) dan paus kepala melon (Peponocephala electra).

Sementara itu, kelompok lumba-lumba yang tercatat meliputi lumba-lumba bergigi kasar (Steno bredanensis), lumba-lumba Risso (Grampus griseus), lumba-lumba tutul pantropis (Stenella attenuata), lumba-lumba pemintal (Stenella longirostris) dan lumba-lumba pemintal kerdil (Stenella longirostris roseiventris).
Jenis lainnya mencakup lumba-lumba Fraser (Lagenodelphis hosei), lumba-lumba hidung botol Indo-Pasifik (Tursiops aduncus), lumba-lumba hidung botol biasa (Tursiops truncatus) dan lumba-lumba bungkuk Indo-Pasifik (Sousa chinensis). Dokumen tersebut juga mencatat keberadaan dugong (Dugong dugon), mamalia laut pemakan lamun yang hidup di perairan pesisir.
Berdasarkan kategori konservasi yang dicantumkan dalam dokumen, paus biru, paus sirip dan paus sei termasuk spesies berstatus terancam punah (Endangered), sementara paus sperma dan dugong dikategorikan rentan (Vulnerable). Kondisi tersebut memperlihatkan pentingnya upaya perlindungan habitat dan pengurangan aktivitas manusia yang berpotensi mengganggu kehidupan mamalia laut.
Secara geografis, Timor-Leste berada dalam kawasan Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle), yang dikenal memiliki keanekaragaman hayati laut tinggi. Perairan negara ini juga merupakan bagian dari jalur migrasi mamalia laut yang menghubungkan wilayah perairan Indonesia, Timor-Leste dan Australia.
Musim pengamatan paus di Timor-Leste umumnya berlangsung dari Oktober hingga awal Desember, dengan periode yang paling mendukung pengamatan pada akhir Oktober hingga November. Perairan Selat Ombai-Wetar, khususnya di sekitar Dili dan Pulau Atauro, menjadi salah satu kawasan penting yang dilalui mamalia laut selama periode migrasi tersebut.
Keunikan wilayah ini terletak pada perairan dalam yang relatif dekat dengan pesisir, dengan kedalaman laut di sejumlah kawasan mencapai sekitar tiga kilometer. Kondisi geografis tersebut memungkinkan pengamatan mamalia laut tanpa harus melakukan perjalanan terlalu jauh dari daratan, sehingga memberikan peluang pengembangan pariwisata bahari.
Meski demikian, keberadaan mamalia laut juga membutuhkan pengelolaan aktivitas wisata secara bertanggung jawab. Dokumen pedoman nasional menekankan pentingnya menjaga perilaku alami satwa, menghindari gangguan terhadap proses makan, beristirahat dan merawat anak, serta melindungi habitat yang digunakan selama migrasi.
Selain menjadi daya tarik wisata, paus, lumba-lumba dan dugong memiliki peranan ekologis dalam menjaga kesehatan laut. Mamalia laut membantu mendukung siklus nutrisi dalam ekosistem, sementara keberadaannya juga dapat menjadi salah satu indikator kondisi lingkungan laut.
Perlindungan mamalia laut dinilai penting bagi keberlanjutan sumber daya perairan Timor-Leste, terutama karena ekosistem laut yang sehat turut mendukung kegiatan perikanan, ketahanan pangan dan mata pencaharian masyarakat pesisir.
Melalui penguatan konservasi, pengelolaan wisata yang bertanggung jawab serta kerja sama pemerintah dengan masyarakat dan mitra pembangunan, kekayaan mamalia laut Timor-Leste diharapkan dapat terus dilindungi sekaligus memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan bagi generasi mendatang.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz

