DNMG sebut kabut asap saat ini terparah yang pernah terpantau di Timor-Leste

DILI, 12 Oktober 2026 (TATOLI) – Direktorat Nasional Meteorologi dan Geofisika (DNMG) menyebut kabut asap yang saat ini melanda Timor-Leste merupakan fenomena paling parah yang pernah diamati oleh para petugas meteorologi selama bertugas di lembaga tersebut.
Penanggung Jawab Prakiraan Publik DNMG, Angelina Freitas, mengatakan kondisi kabut asap kali ini lebih parah dibandingkan dengan kejadian serupa pada tahun-tahun sebelumnya, terutama dari segi intensitas dan lamanya kabut asap bertahan.
“Sepanjang pengamatan saya selama bertugas bersama rekan-rekan di DNMG, kabut asap kali ini adalah yang paling parah dan terbesar,” kata Angelina Freitas dalam wawancara dengan TATOLI di Dili, Senin.
Ia mengungkapkan, Timor-Leste pernah mengalami fenomena serupa sekitar tahun 2017 atau 2018, ketika asap dari kebakaran besar di Australia mencapai wilayah negara tersebut.
Namun, menurutnya, kabut asap pada periode itu hanya berlangsung sekitar tiga hingga empat hari, sebelum kondisi kembali membaik.
“Dulu sekitar tahun 2017 atau 2018, pernah terjadi kebakaran besar di Australia di mana asapnya juga sampai ke wilayah kita, tetapi saat itu durasinya tidak sampai satu minggu, hanya berlangsung sekitar tiga atau empat hari lalu mereda. Namun saat ini, kejadiannya jauh lebih besar,” jelasnya.

Angelina menilai kondisi sekarang memerlukan perhatian serius karena kabut asap telah bertahan selama beberapa hari dan berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan masyarakat.
Berdasarkan pengamatan visual, ia memperkirakan tingkat keparahan kabut asap saat ini sudah berada dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan.
Menurutnya, apabila kabut asap terus bertahan, kualitas udara berpotensi semakin memburuk dan menimbulkan dampak terhadap kesehatan, khususnya pada kelompok masyarakat yang rentan.
Meski demikian, penilaian mengenai tingkat keparahan tersebut masih memerlukan dukungan data pengukuran kualitas udara untuk memastikan kategori pencemaran berdasarkan indeks yang berlaku.
Sebagai perbandingan, platform pemantauan kualitas udara internasional IQAir mencatat indeks kualitas udara Dili pada Senin (12/10), pukul 09.00 waktu setempat, berada pada angka 49 US AQI, yang termasuk kategori baik (good), dengan konsentrasi PM2.5 sebesar 9 mikrogram per meter kubik.
Data IQAir tersebut berasal dari model berbasis satelit, bukan pengukuran langsung yang telah dikonfirmasi oleh DNMG.
Hasil itu berbeda dengan informasi AccuWeather yang pada hari yang sama menempatkan kualitas udara Dili dalam kategori tidak sehat. Perbedaan tersebut menunjukkan pentingnya memperhatikan metode, waktu pengamatan, dan sumber data sebelum menentukan kondisi kualitas udara secara menyeluruh.

Angelina mengatakan tim teknis DNMG saat ini terus melakukan pemantauan berkala serta berupaya memasang peralatan tambahan pendeteksi kualitas udara agar dapat menyediakan informasi yang lebih terperinci bagi masyarakat.
DNMG juga berencana menerbitkan buletin teknis resmi mengenai kualitas udara untuk menjelaskan kondisi atmosfer dan potensi risiko yang perlu diantisipasi.
Selain pemantauan, Angelina mengimbau masyarakat agar memperhatikan kesehatan selama kabut asap masih berlangsung, terutama dengan mengurangi aktivitas di luar rumah dan menggunakan masker apabila diperlukan.
Ia secara khusus meminta para orang tua membatasi aktivitas anak-anak di luar ruangan untuk mengurangi potensi paparan partikel pencemar.
“Yang paling penting adalah tindakan pencegahan yang bisa kita lakukan. Dari pihak DNMG, kami terus mengimbau seluruh masyarakat, khususnya anak-anak kecil, agar tidak terlalu banyak beraktivitas di luar rumah,” ujarnya.
Menurut Angelina, berdasarkan pengamatannya, sejumlah anak telah mengalami keluhan kesehatan seperti batuk dan demam. Namun, ia mengakui DNMG belum memiliki data resmi dari Kementerian Kesehatan untuk memastikan jumlah kasus maupun penyebab keluhan tersebut.
Ia menambahkan, DNMG juga menjalin kerja sama dengan Palang Merah Timor-Leste (CVTL), khususnya melalui tim Aksi Antisipasi (Ações Antecipatórias), yang terhubung dengan Kementerian Kesehatan.
Kerja sama tersebut diarahkan pada penguatan langkah pencegahan terhadap risiko kesehatan akibat kondisi cuaca dan lingkungan, termasuk pembahasan rencana pembagian masker kepada masyarakat.
“Saat ini sedang didiskusikan langkah konkret bersama rekan-rekan, misalnya rencana pembagian masker kepada masyarakat agar mereka dapat mengantisipasi masalah kesehatan sejak dini,” jelasnya.
Selain itu, DNMG telah mengembangkan platform Climate Risk Information System for Public Health (CRIS), sebuah sistem pendukung keputusan yang dirancang untuk membantu Kementerian Kesehatan memantau indikator iklim dan mengantisipasi risiko kesehatan masyarakat.
Angelina menjelaskan, platform tersebut tidak ditujukan bagi penggunaan publik, melainkan khusus untuk instansi kesehatan dalam mendukung pengambilan keputusan dan langkah mitigasi berdasarkan informasi iklim.
DNMG menegaskan pentingnya kesiapsiagaan dan koordinasi antarlembaga dalam menghadapi potensi memburuknya kualitas udara, sekaligus meminta masyarakat tetap mengikuti informasi resmi mengenai perkembangan kondisi atmosfer.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz

