Bencana Nepal–Tibet, Presiden Timor-Leste sampaikan solidaritas belasungkawa

DILI, 02 September 2026 (TATOLI) – Presiden Republik Timor-Leste, José Ramos-Horta, menyampaikan belasungkawa dan solidaritas kepada Presiden, Pemerintah dan rakyat Republik Rakyat China menyusul bencana banjir dan tanah longsor dahsyat yang menerjang kawasan Nepal–Tibet dan menewaskan korban jiwa.
Dalam surat resmi tertanggal 31 Agustus 2026 yang ditujukan kepada Presiden China, Xi Jinping, Presiden Ramos-Horta mengungkapkan kesedihan mendalam atas jatuhnya korban jiwa, banyaknya orang yang dilaporkan hilang serta kerusakan luas terhadap permukiman dan infrastruktur, khususnya di Daerah Otonom Tibet.
“Saya ingin menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada Yang Mulia, Pemerintah dan rakyat Republik Rakyat China, khususnya kepada keluarga para korban akibat tanah longsor dan banjir dahsyat yang baru-baru ini melanda Daerah Otonom Tibet,” kata Presiden Ramos-Horta.
Presiden sekaligus peraih Nobel Perdamaian itu menyampaikan solidaritas dan belas kasih kepada keluarga yang kehilangan orang-orang tercinta serta berharap masyarakat terdampak memperoleh kekuatan dan harapan untuk menghadapi tragedi tersebut.
“Pada saat penderitaan yang begitu besar ini, saya ingin menyampaikan kepada keluarga yang kehilangan orang-orang tercinta solidaritas dan belas kasih tulus kami, serta harapan kami agar semua yang terdampak tragedi ini diberikan kekuatan dan harapan,” ujarnya.
Presiden Ramos-Horta juga menyampaikan solidaritas kepada tim darurat dan penyelamat yang terus melakukan pencarian terhadap korban hilang serta membantu para penyintas di tengah kondisi yang sulit dan ancaman banjir maupun tanah longsor susulan.
“Kami juga menyampaikan solidaritas kepada tim darurat dan penyelamat yang terus bekerja dalam kondisi yang sangat sulit untuk menemukan mereka yang hilang, membantu para penyintas dan merespons risiko banjir serta tanah longsor lebih lanjut,” katanya.
Timor-Leste menegaskan berdiri bersama rakyat China dalam menghadapi masa sulit tersebut dan berharap operasi pencarian, penyelamatan dan pemulihan dapat berjalan dengan baik sehingga masyarakat terdampak dapat segera bangkit dan membangun kembali kehidupan mereka.
Bencana yang menerjang kawasan perbatasan China–Nepal tersebut telah menimbulkan korban dalam skala besar.

The Guardian melaporkan, berdasarkan data otoritas penanggulangan bencana Nepal pada Selasa, sedikitnya 1.050 orang meninggal di Nepal dan hampir 4.000 lainnya masih hilang.
Sementara itu, media pemerintah China mengonfirmasi sedikitnya 16 orang meninggal di Tibet, sehingga jumlah korban meninggal akibat bencana di kedua sisi perbatasan telah mencapai sedikitnya 1.066 orang.
Palang Merah memperkirakan lebih dari 93.000 orang terdampak akibat bencana tersebut.
Dampak bencana juga meluas ke sektor energi. Banjir menerjang sejumlah fasilitas pembangkit listrik tenaga air dan menyebabkan sekitar 10 persen kapasitas listrik Nepal terganggu.
Berdasarkan perkiraan awal Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP), bencana tersebut meninggalkan sedikitnya 2,2 juta ton puing, mulai dari bagian bangunan hingga batu dan sedimen. Besarnya volume puing menggambarkan skala kerusakan sekaligus tantangan yang dihadapi masyarakat dalam membersihkan permukiman, jalan dan fasilitas umum untuk memulai proses rekonstruksi.
Di antara ribuan orang yang masih dinyatakan hilang di Nepal terdapat sedikitnya 592 warga negara asing, termasuk wisatawan yang melakukan pendakian dan peziarah Hindu menuju Gunung Kailash di Tibet.
Mereka berasal dari sejumlah negara, termasuk India, Amerika Serikat, Inggris, Australia dan Kanada. Keluarga korban di luar negeri telah diminta melakukan profil DNA di laboratorium resmi untuk membantu proses identifikasi.
Nepal juga menerima bantuan internasional senilai lebih dari US$42 juta. Pemerintah Nepal sebelumnya tidak menerima keterlibatan asing secara umum dalam operasi pencarian dan penyelamatan, tetapi membutuhkan dukungan khusus dan teknologi canggih, termasuk perangkat pendeteksi kehidupan, fasilitas pendingin berkapasitas besar serta jembatan prefabrikasi.
China juga melanjutkan bantuan kepada Nepal. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, mengatakan pengiriman bantuan tahap kedua mencakup drone, peralatan pengujian DNA dan perangkat pemurnian air. Tim ahli DNA China juga akan membantu Nepal dalam proses identifikasi jenazah.
Bencana Nepal–Tibet kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap ancaman banjir gletser di kawasan Himalaya di tengah perubahan iklim.
Perdana Menteri Nepal, Balendra Shah, menyebut bencana tersebut sebagai bencana alam yang belum pernah terjadi sebelumnya dan sangat menghancurkan. Ia mengatakan peristiwa itu menunjukkan risiko yang dihadapi kawasan Himalaya semakin meningkat seiring perubahan iklim.
Pada 2020, para peneliti telah mengidentifikasi sedikitnya 47 danau gletser yang berpotensi berbahaya di Nepal, China dan India. Namun, jumlah sebenarnya kini diperkirakan jauh lebih tinggi, dengan populasi yang menghadapi risiko mencapai jutaan orang.
Tiga bulan sebelum bencana terbaru, para ahli dari China dan Nepal juga telah bertemu di Kathmandu pada 27 Mei 2026 untuk membahas risiko bencana di wilayah perbatasan serta meningkatkan koordinasi pemantauan dan respons terhadap ancaman, termasuk banjir dan danau gletser.
Pertemuan itu mendorong langkah bersama untuk mengurangi risiko, termasuk inventarisasi danau gletser dan pemetaan daerah rawan bencana.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz

