Dom Virgílio do Carmo berlutut sambut jenazah mendiang tiga tokoh Gereja Katolik

DILI, 01 September 2026 (TATOLI) – Dalam keheningan di depan tiga peti jenazah mendiang tiga tokoh Gereja, Uskup Agung Metropolitan Dili sekaligus Ketua Konferensi Waligereja Timor (CET), Kardinal Dom Virgílio do Carmo da Silva, berlutut memberikan penghormatan kepada tiga prelatus Gereja Katolik yang akhirnya kembali ke tanah yang pernah mereka layani.
Di hadapannya terbujur peti jenazah Dom Jaime Garcia Goulart, Dom José Joaquim Ribeiro dan Monsinyur Martinho da Costa Lopes. Setelah bertahun-tahun, ketiganya kembali ke Timor-Leste, bukan lagi untuk menjalankan pelayanan pastoral, tetapi untuk beristirahat di tengah bangsa dan umat yang menjadi bagian dari perjalanan hidup mereka.
Momen penuh haru itu berlangsung di depan ruang VVIP Bandara Internasional Presiden Nicolau Lobato, Dili, Selasa (01/09), setelah Pemerintah Timor-Leste secara resmi menyerahkan jenazah ketiga prelatus kepada CET.
Didampingi Uskup Baucau dan Uskup Maliana, Kardinal Dom Virgílio berlutut di hadapan peti-peti jenazah. Di sekelilingnya, para suster, pastor dan umat yang sebagian telah menunggu sejak pukul 10.00 OTL mengikuti penghormatan dalam doa dan nyanyian rohani.
Dalam sambutannya, Kardinal Dom Virgílio menegaskan bahwa kepulangan ketiga prelatus tidak hanya memiliki arti bagi Gereja Katolik. Kehidupan dan pengabdian mereka telah menjadikan ketiganya bagian dari rakyat dan sejarah Timor.
“Kita menerima dengan khidmat jenazah mereka. Mereka bukan hanya milik Gereja, tetapi telah menjadi milik rakyat dan tanah tercinta Timor,” kata Dom Virgílio.
Ketua CET itu menggambarkan 01 September sebagai hari yang sarat dengan makna iman, sejarah, ingatan, penghormatan dan rekonsiliasi.
Baginya, penyerahan resmi jenazah dari Pemerintah kepada Gereja bukan semata sebuah tindakan formal, institusional maupun protokoler. Di balik prosesi tersebut terdapat makna yang lebih dalam tentang hubungan Gereja dan Negara serta perjalanan panjang bangsa Timor-Leste.
“Ini bukan hanya sebuah tindakan formal, institusional dan protokoler, tetapi juga merupakan tanda nyata dari kerja bersama dan kolaborasi yang baik antara Gereja dan Pemerintah,” ujarnya.
Ia menambahkan, peristiwa tersebut juga menjadi sebuah momen spiritual dan historis yang menegaskan kembali identitas religius dan nasional Timor-Leste serta menunjukkan persekutuan antara Gereja dan Negara.
“Mereka menjadi suara bagi yang tak bersuara”
Di hadapan jenazah ketiga prelatus, Dom Virgílio kemudian membawa ingatan kembali ke masa-masa kelam dalam perjalanan Timor-Leste.
Pada masa ketika konflik membawa penderitaan kepada rakyat, kata dia, para prelatus tersebut memilih berdiri bersama mereka yang menderita.
“Dalam masa-masa kelam sejarah perjuangan kita, mereka menjadi suara bagi mereka yang tidak memiliki suara. Mereka berdiri teguh sebagai penolong bagi mereka yang menderita dan mengalami kesulitan akibat perang,” katanya.
Menurut Dom Virgílio, mereka juga menjadi benteng harapan serta pembela yang bersuara dan berjuang untuk martabat manusia dan hak menentukan nasib sendiri bagi Timor-Leste.
Itulah sebabnya, kepulangan jenazah mereka ke tanah Timor memiliki arti lebih dari sekadar pemindahan jasad dari Portugal ke tanah air.

Mereka kembali ke negeri yang pernah dilayani dengan penuh pengabdian. Negara menyambut dengan penghormatan, sementara Gereja menerima mereka kembali dengan tangan terbuka.
Dom Virgílio menggambarkan ketiganya sebagai gembala setia Tuhan yang kini kembali ke tanah misi yang dahulu mereka layani, tempat mereka telah mempersembahkan hidup untuk rakyat.
Bagi Kardinal Dom Virgílio, kehadiran jenazah para prelatus di Timor-Leste juga penting untuk menguatkan kembali ingatan tentang kontribusi Gereja dalam pembentukan bangsa dan rakyat Timor.
“Hari ini mereka kembali berada di tengah-tengah kita, hanya dengan tulang dan abu, agar kita dapat mengenang, menceritakan sejarah, menguatkan iman dan memperbesar persatuan orang Timor,” ujarnya.
Kehidupan fisik mereka telah lama berakhir, tetapi Dom Virgílio percaya bahwa kehadiran spiritual dan warisan pelayanan mereka tidak ikut berakhir.
“Kita percaya bahwa kehadiran spiritual mereka akan semakin memperkuat persatuan kita semua sebagai orang Timor dan anak-anak Tuhan,” tegasnya.
Atas nama para uskup, kaum religius dan seluruh umat Katolik, Ketua CET itu juga menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Konstitusional IX atas kerja sama dalam proses pemindahan jenazah dari Portugal hingga kembali ke Timor-Leste.
Setelah sambutan Dom Virgílio berakhir, penghormatan berlanjut dalam nuansa budaya Timor.
Kelompok Budaya Parókia Imaculada Coração de Maria (PICOMA), Maubisse, yang telah mempersiapkan diri sejak pagi, mempersembahkan penghormatan budaya bagi ketiga prelatus.
Mengenakan pakaian tradisional, anggota PICOMA memberikan penghormatan di hadapan kendaraan yang telah disiapkan untuk membawa peti jenazah.
Pada momen itu, tradisi Timor dan iman Katolik seolah bertemu dalam satu penghormatan. Di tengah persembahan budaya, para suster, pastor dan umat terus mengiringi dengan doa.
Penghormatan PICOMA menjadi bagian terakhir dari prosesi penyambutan di Bandara Internasional Presidente Nicolau Lobato sebelum tiga jenazah melanjutkan perjalanan menuju Tasitolu.
Tepat pukul 15.05 OTL, upacara di bandara berakhir. Rombongan kemudian perlahan bergerak meninggalkan Bandara Internasional Presidente Nicolau Lobato.
Kendaraan Polisi Lalu Lintas berada di barisan depan, disusul kendaraan Polisi Militer, kendaraan Uskup Agung Metropolitan Dili, Uskup Maliana dan Uskup Baucau, serta kendaraan perwakilan Vatikan di Timor-Leste.
Dua sepeda motor patroli memimpin langsung iring-iringan kendaraan pembawa peti jenazah, sementara dua sepeda motor patroli lainnya mengawal dari sisi kanan dan kiri.
Kendaraan pertama membawa peti jenazah Dom Jaime Garcia Goulart. Di belakangnya, kendaraan kedua membawa Dom José Joaquim Ribeiro, sementara kendaraan ketiga membawa Monsinyur Martinho da Costa Lopes.
Ada penghormatan khusus pada kendaraan yang membawa jenazah Monsinyur Martinho da Costa Lopes.
Selain Bendera Nasional Timor-Leste, Bendera FALINTIL turut disematkan pada kendaraan tersebut sebagai penghormatan terhadap kontribusinya dalam perjalanan perjuangan pembebasan dan kemerdekaan Timor-Leste.
Di belakang tiga kendaraan pembawa peti, dua sepeda motor patroli kembali mengawal, disusul dua kendaraan yang membawa anggota F-FDTL serta kendaraan para anggota Pemerintah.
Ketika iring-iringan meninggalkan bandara, penghormatan tidak berhenti di gerbang.
Sebagian umat ikut berjalan kaki sambil mendaraskan doa Rosario. Umat lainnya berdiri di sepanjang sisi jalan, menangkupkan tangan dalam doa sembari menunggu kendaraan yang membawa ketiga jenazah melintas.
Di sejumlah titik, bunga ditaburkan ke jalan sebagai bentuk penghormatan dan salam perpisahan.
Di tengah doa dan keheningan itu, keluarga Monsinyur Martinho da Costa Lopes tidak mampu menyembunyikan emosi. Air mata jatuh ketika mereka menyaksikan kendaraan yang membawa peti jenazah perlahan meninggalkan bandara menuju Tasitolu.
Setelah bertahun-tahun, mereka yang dahulu melayani di tanah Timor akhirnya kembali.
Kepulangan itu disambut bukan dengan hiruk-pikuk, melainkan dengan Rosario di tangan, doa di bibir, bunga di jalan dan keheningan umat yang berdiri memberi penghormatan.
Rombongan selanjutnya bergerak menuju Tasitolu, tempat jenazah Uskup Dom Alberto Ricardo da Silva telah ditempatkan sejak 31 Agustus 2026.
Di sana, jenazah para prelatus akan dipertemukan sebelum perayaan Misa pada pukul 17.00 OTL yang diikuti otoritas negara, pimpinan Gereja dan umat.
Reporter: Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz

