MANATUTO, 22 Juli 2026 (TATOLI) – Institut Nasional Geosains Timor-Leste (IGTL) bersama Ketua Global Geoparks Network (GGN), Artur Sá, melakukan kunjungan ke Situs Arkeologi Laili di Daerah Administratif Laleia, Kotamadya Manatuto, guna meninjau secara langsung potensi warisan geologi dan budaya yang dapat mendukung inisiatif Geopark Global UNESCO.
Wakil Ketua IGTL, Victor Aleluia de Sousa, mengatakan kunjungan tersebut bertujuan untuk mengevaluasi sejarah geologi, sumber daya alam, serta warisan budaya di kawasan tersebut yang dinilai memiliki potensi besar untuk mendukung pembangunan sekaligus proses pencalonan sebagai Geopark Global UNESCO.
Ia menjelaskan bahwa Situs Arkeologi Laili memiliki arti penting karena beberapa tahun lalu Sekretariat Negara Seni dan Budaya (SEAK) bekerja sama dengan Australian National University (ANU) melakukan penelitian dan menemukan berbagai artefak dari permukiman kuno di kawasan tersebut.
“Dalam inisiatif geopark, yang dibahas bukan hanya warisan geologi, tetapi juga warisan budaya. Penemuan di Laili menunjukkan bahwa kawasan ini merupakan salah satu lokasi tertua di Pulau Timor yang diperkirakan berusia sekitar 44.000 tahun,” kata Victor de Sousa.
Menurutnya, data ilmiah yang diperoleh dari Laili sangat penting bagi pengembangan geopark karena tidak hanya didasarkan pada warisan geologi, tetapi juga mencakup warisan budaya dan keanekaragaman hayati yang menjadi faktor penting untuk memperoleh pengakuan internasional.
Karena itu, IGTL menilai pelestarian situs-situs yang memiliki nilai seperti Laili sangat penting guna mendukung upaya Timor-Leste memperoleh status Geopark Global UNESCO.
Ia juga menegaskan bahwa penelitian ilmiah merupakan dasar dari setiap penemuan. Melalui penelitian, studi, dan analisis laboratorium, berbagai temuan baru yang penting bagi negara dapat dihasilkan.
“Selama ini kami melakukan penelitian geologi untuk menunjukkan bahwa dasar dari setiap penemuan baru adalah penelitian ilmiah. Karena itu, kami sangat mendorong penelitian seperti ini tidak hanya dilakukan oleh IGTL, tetapi juga oleh lembaga-lembaga lain agar kita dapat menemukan berbagai informasi penting bagi negara kita,” ujarnya.
Victor juga mengimbau masyarakat Manatuto, khususnya warga yang tinggal di sekitar Situs Arkeologi Laili, agar terus menjaga dan melestarikan kawasan tersebut karena memiliki relevansi internasional dan berpotensi menjadi daya tarik wisata yang memberikan manfaat bagi masyarakat setempat.
Sementara itu, Ketua Global Geoparks Network, Artur Sá, mengatakan bahwa Situs Arkeologi Laili memiliki nilai penting dalam memahami evolusi spesies manusia dan dapat menjadi salah satu elemen penting dalam proyek geopark di masa depan.
“Geopark bertujuan membangun hubungan baru antara manusia dan planet Bumi, baik bagi masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut maupun bagi para pengunjung,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa pada masa lampau, ketika teknologi belum berkembang seperti sekarang, manusia memanfaatkan gua sebagai tempat berlindung dan perlindungan. Oleh sebab itu, situs seperti Laili membantu memahami asal-usul manusia serta hubungannya dengan lingkungan alam.
“Kita tidak boleh hanya memandang seni dan budaya sebagai sesuatu yang perlu dilestarikan semata. Tempat ini memiliki nilai pendidikan, ilmiah, dan budaya. Kawasan ini memiliki relevansi yang sangat tinggi apabila nantinya dimasukkan ke dalam strategi pembangunan wilayah berkelanjutan melalui pembentukan sebuah geopark,” ujarnya.
Artur Sá menegaskan bahwa Situs Arkeologi Laili layak menjadi bagian penting dari Geopark Timor-Leste pada masa mendatang karena memiliki nilai warisan, ilmiah, pendidikan, dan budaya yang sangat kuat.
Dalam kunjungan tersebut, delegasi GGN bersama IGTL juga mengunjungi Fatuk Lenuk yang berada di Kotamadya Baucau.
Reporter : Arminda Fonseca (Penerjemah: Cidalia Fátima)
Editor : Armandina Moniz




