iklan

INTERNASIONAL, HEADLINE

Pemerintah tetapkan tujuh hari Berkabung Nasional atas wafatnya Mantan Presiden “Lú Olo”

Pemerintah tetapkan tujuh hari Berkabung Nasional atas wafatnya Mantan Presiden “Lú Olo”

Pertemuan rapat luar biasa Dewan Menteri dipimpin Perdana Menteri Sementara, dan juga sebagai Wakil Perdana Menteri, Menteri Koordinator Bidang Sosial, dan Menteri Pembangunan Pedesaan dan Perumahan Rakyat, Mariano Assanami Sabino. Foto Portal Pemerintah

DILI, 22 Juni 2026 (TATOLI) – Pemerintah Timor-Leste menetapkan masa Hari Berkabung Nasional selama tujuh hari atas wafatnya mantan Presiden Republik, Francisco Guterres “Lú Olo”, yang meninggal dunia pada usia 71 tahun di Rumah Sakit Prince Court, Kuala Lumpur, Malaysia, saat menjalani perawatan medis intensif.

Keputusan tersebut diambil dalam Rapat Luar Biasa Dewan Menteri yang berlangsung di Auditorium Kay Rala Xanana Gusmão, Kementerian Keuangan, Dili, Senin (22/6). Rapat Luar Biasa Dewan Menteri itu dipimpin Perdana Menteri Sementara, dan juga sebagai Wakil Perdana Menteri, Menteri Koordinator Bidang Sosial, dan Menteri Pembangunan Pedesaan dan Perumahan Rakyat, Mariano Assanami Sabino.

Dalam rapat tersebut, pemerintah menyetujui penyampaian belasungkawa resmi sekaligus menetapkan berkabung nasional sebagai bentuk penghormatan kepada salah satu tokoh penting perjuangan kemerdekaan Timor-Leste.

Masa berkabung nasional berlaku selama tujuh hari, mulai pukul 15.00 waktu Timor-Leste pada 22 Juni hingga pukul 24.00 pada 28 Juni 2026. Selama periode tersebut, bendera nasional dikibarkan setengah tiang di seluruh gedung pemerintah, termasuk kantor kedutaan besar, konsulat, perwakilan negara Timor-Leste di luar negeri, serta kapal-kapal milik negara.

Dalam pernyataan resminya, Pemerintah menyebut Lú Olo sebagai salah satu figur berpengaruh dalam perjuangan pembebasan nasional dan pemimpin yang memberikan kontribusi besar bagi pembangunan negara.

Mantan Presiden Republik, Francisco Guterres “Lú Olo”. Foto spesial

Francisco Guterres “Lú Olo” lahir di Ossú, Kotamadya Viqueque, pada 7 September 1954. Sejak masa pendudukan Indonesia, ia aktif dalam perjuangan perlawanan nasional dan memegang berbagai tanggung jawab penting di dalam gerakan resistensi. Setelah wafatnya Konis Santana pada 1998, Lú Olo mengambil alih kepemimpinan politik perjuangan rakyat Timor-Leste.

Pasca-referendum kemerdekaan, Lú Olo terpilih sebagai Ketua Majelis Konstitusi pada 2001, lembaga yang bertugas menyusun Konstitusi Republik Demokratik Timor-Leste. Ia kemudian menjabat sebagai Presiden Parlemen Nasional pada periode 2002 hingga 2007.

Karier politiknya mencapai puncak ketika terpilih sebagai Presiden Republik pada 2017. Ia menjalankan mandat sebagai Kepala Negara hingga 2022.

Atas jasa dan pengabdiannya kepada bangsa, Lú Olo menerima sejumlah penghargaan nasional dan internasional, termasuk Colar da Ordem de Timor-Leste pada 2009, Grande-Colar da Ordem de Timor-Leste pada 2022, serta Grande-Colar da Ordem do Infante D. Henrique yang dianugerahkan Pemerintah Portugal pada tahun yang sama sebagai pengakuan atas kontribusinya terhadap Timor-Leste dan penguatan hubungan bilateral kedua negara.

Melalui keputusan tersebut, Pemerintah Timor-Leste menyampaikan penghormatan terakhir kepada seorang pejuang kemerdekaan dan negarawan yang telah mendedikasikan sebagian besar hidupnya bagi perjuangan, kemerdekaan, demokrasi, dan kedaulatan bangsa.

Pemerintah juga menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada istri, anak-anak, keluarga besar mendiang, Partai FRETILIN, serta seluruh rakyat Timor-Leste yang kehilangan salah satu tokoh penting dalam sejarah perjuangan nasional.

“Warisan dedikasi dan pengabdian yang ditinggalkan Francisco Guterres ‘Lú Olo’ akan selalu dikenang dalam perjalanan pembangunan Timor-Leste yang merdeka, demokratis, dan berdaulat,” demikian bunyi pernyataan resmi Pemerintah.

Reporter : Cidalia Fátima

Editor   : Armandina Moniz

 

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!