LAUTEM, 23 Juli 2026 (TATOLI) – Ketua Global Geoparks Network (GGN), Artur Sá, mengatakan Timor-Leste memiliki warisan arkeologi dan geologi yang bernilai tinggi karena mencerminkan hubungan erat antara manusia dan alam. Kekayaan tersebut dinilai dapat menjadi fondasi penting bagi pengembangan UNESCO Global Geopark di masa depan.
Artur Sá menyampaikan hal tersebut saat melakukan kunjungan bersama Institut Geosains Timor-Leste (IGTL) ke Taman Nasional Nino Konis Santana, di Kotamadya Lautém. Dalam kunjungan tersebut, rombongan juga mengunjungi Pousada Tutuala, situs arkeologi Ili Kere-Kere untuk mengamati formasi batuan, melihat Pulau Jaco dari kejauhan, serta meninjau Polje Ira Lalaru.
Menurut Artur Sá, formasi batuan di situs arkeologi tersebut menunjukkan bagaimana masyarakat pada masa lampau memahami dan mengekspresikan hubungan mereka dengan alam dan dunia spiritual.
“Nilai ini mengingatkan kita bahwa manusia merupakan bagian dari keanekaragaman hayati yang ada di bumi. Kita bukan makhluk yang datang dari planet lain. Kita hidup berdampingan dengan tumbuhan, satwa, dan seluruh ekosistem. Karena itu, kita harus menjaga situs-situs arkeologi ini melalui perilaku yang bertanggung jawab,” ujar Artur Sá di Danau Ira Lalaru, Kamis ini.
Ia juga mengajak masyarakat dan pemerintah untuk meningkatkan upaya pelestarian warisan alam dan budaya. Menurutnya, ancaman terbesar bukan hanya terhadap planet ini, melainkan terhadap keanekaragaman hayati dan keberlangsungan hidup manusia sendiri.
“Yang berada dalam risiko adalah keanekaragaman hayati, dan karena kita merupakan bagian darinya, maka sesungguhnya kita juga berada dalam risiko. Oleh sebab itu, semua bergantung pada sikap dan tindakan kita untuk menjaga keberlangsungan kehidupan serta berbagai spesies yang hidup di bumi,” katanya.
Saat mengunjungi Polje Ira Lalaru, Artur Sá menjelaskan bahwa kawasan tersebut merupakan contoh luar biasa bentang alam karst, dengan sebuah danau sepanjang lebih dari 20 kilometer dan lebar sekitar lima kilometer. Kawasan itu juga memiliki gua, dolina, serta berbagai formasi geologi unik yang sangat penting bagi penelitian ilmiah.
“Tempat ini memperlihatkan karakteristik yang sangat khas mengenai proses pembentukan planet kita. Di atas permukaan, bumi terus berputar pada porosnya dan mengelilingi matahari, sementara di bawah kaki kita berlangsung proses lain, yaitu pergerakan lempeng tektonik,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa meskipun pergerakan lempeng tektonik hanya sekitar empat sentimeter per tahun, dalam skala geologi selama satu juta tahun pergeseran tersebut dapat mencapai sekitar 40 kilometer.
Menurutnya, kawasan tersebut merupakan “laboratorium alam” untuk memahami dinamika evolusi bumi dan pergerakan lempeng tektonik, sekaligus mendukung penelitian mengenai perubahan iklim dan dampaknya terhadap keanekaragaman hayati.
Artur Sá juga menyoroti kawasan pesisir Valu yang menyimpan banyak terumbu karang fosil. Menurutnya, mempelajari dinamika laut saat ini dapat membantu ilmuwan memahami kondisi laut pada masa lalu sekaligus memprediksi perubahan yang mungkin terjadi di masa depan.
“Hari ini, ketika dunia membahas perubahan iklim, situs ini memberikan gambaran mengenai konsekuensi yang mungkin terjadi apabila perubahan tersebut berlangsung secara ekstrem,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa langkah utama yang harus dilakukan Timor-Leste adalah menyusun inventarisasi warisan geologi secara menyeluruh, memperkuat penelitian ilmiah, serta menjelaskan nilai penting warisan tersebut kepada masyarakat sebelum dikembangkan sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan.
Artur Sá menjelaskan bahwa UNESCO Biosphere Reserve dan UNESCO Global Geopark merupakan dua program yang berbeda, tetapi saling melengkapi. Biosphere Reserve berfokus pada perlindungan keanekaragaman hayati sebagai warisan alam, sedangkan UNESCO Global Geopark menggabungkan pelestarian warisan geologi dengan pendidikan, pariwisata, dan pembangunan ekonomi berkelanjutan.
Ia menambahkan bahwa proses untuk memperoleh status UNESCO Global Geopark memerlukan inventarisasi geositus, penelitian ilmiah yang mendalam, dukungan politik, serta keterlibatan aktif masyarakat.
Saat ini, jaringan UNESCO Global Geoparks mencakup 241 geopark di 51 negara. Menurut Artur Sá, Timor-Leste memiliki persyaratan dasar untuk bergabung karena memiliki warisan geologi yang luar biasa.
“Semua indikasi menunjukkan bahwa Timor-Leste memiliki kondisi dasar yang diperlukan, terutama karena memiliki kekayaan geologi yang sangat istimewa,” katanya.
Sementara itu, teknisi Divisi Penelitian Geologi IGTL, Delio Manuel, mengatakan kehadiran Presiden GGN sangat penting untuk memberikan penilaian ilmiah terhadap potensi geopark di Timor-Leste.
“Kami mendengar langsung bahwa potensi Timor-Leste sangat luar biasa. Namun demikian, kami masih perlu melakukan identifikasi yang lebih mendalam untuk menentukan geositus yang memiliki nilai internasional paling tinggi,” ujarnya.
Delio menjelaskan bahwa IGTL telah melakukan penelitian selama bertahun-tahun di Taman Nasional Nino Konis Santana dan berhasil mengidentifikasi 38 geositus.
Dari jumlah tersebut, tiga lokasi dikategorikan memiliki nilai internasional, yaitu Danau Ira Lalaru, Gunung Paitchau, dan Ili Kere-Kere.
Menurutnya, hasil penelitian menunjukkan bahwa Polje Ira Lalaru merupakan polje struktural terbesar di kawasan ASEAN, dengan sistem drainase alami yang unik dan memiliki nilai ilmiah internasional yang sangat tinggi.
Reporter : Arminda Fonseca (Penerjemah: Cidalia Fátima)
Editora : Armandina Moniz




