FHT dan Asia Centre gelar ToT tingkatkan keamanan dan literasi digital

DILI, 27 Oktober 2025 (TATOLI) — Yayasan Hadomi Timor (FHT) bekerja sama dengan Asia Centre menggelar Training of Trainers (ToT) bertajuk Digital Security and Facilitation Skills selama dua hari, pada 27–28 Oktober 2025, di Yayasan HAK, Farol, Dili.
Kegiatan ini bertujuan memperkuat kapasitas para aktivis hak digital dalam bidang keamanan siber, perlindungan data, serta keterampilan fasilitasi pelatihan di tingkat komunitas.
Pelatihan intensif ini menghadirkan fasilitator dari Asia Centre, Kartini Sunityo, bersama dua pelatih dari FHT, Abrao Monteiro ‘Nicho Linux’ dan Jose Alfredo Martins. TOT ini diikuti oleh perwakilan dari berbagai lembaga masyarakat sipil, kelompok disabilitas, dan institusi hukum di Timor-Leste.
Direktur Eksekutif FHT, Abrao Monteiro ‘Nicho Linux’, dalam sambutannya menekankan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya berkelanjutan FHT dalam memperkuat jaringan aktivis hak digital di seluruh negeri.
“Tujuan kami adalah membentuk jaringan pelatih dan aktivis yang mampu berbagi pengetahuan tentang keamanan digital kepada komunitas masing-masing. Kejahatan siber terus meningkat setiap tahun, dan kita semua perlu memiliki kemampuan untuk mengenali serta melindungi diri dari ancaman digital,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa pelatihan ini tidak hanya membahas aspek teknis keamanan jaringan, tetapi juga berfokus pada faktor manusia, mengingat masyarakat sering menjadi korban utama kejahatan digital.
“Kita perlu memahami kerentanan kita di dunia daring, bagaimana kejahatan terjadi karena adanya celah yang dimanfaatkan. Melalui pelatihan ini, kami ingin peserta mampu mengidentifikasi risiko dan berbagi solusi praktis kepada komunitas mereka,” ujarnya.
Sementara itu, perwakilan dari Asia Centre, Kartini Sunityo, menyampaikan apresiasi atas kolaborasi dengan FHT dan The Asia Foundation. Ia menekankan pentingnya literasi digital dalam konteks hak asasi manusia dan kebebasan berekspresi di era digital.
“Teknologi diciptakan oleh manusia, bukan teknologi yang salah, tetapi bagaimana kita menggunakannya. Melalui pelatihan ini, kami ingin mendorong masyarakat agar menggunakan teknologi secara bertanggung jawab dan aman,” tutur Kartini.
Kartini juga menjelaskan bahwa program pelatihan ini merupakan bagian dari inisiatif regional Asia Centre yang dilaksanakan di 13 negara Asia Selatan dan Tenggara pada periode 2025–2026, dengan dukungan mitra seperti Google Cyber Security.
“Kami ingin memastikan pengetahuan dari pelatihan ini dapat diakses luas oleh berbagai komunitas, termasuk di Timor-Leste. Peserta di sini tidak hanya belajar, tetapi juga akan menjadi pelatih yang menyebarkan ilmu ke masyarakatnya,” tambahnya.
Dalam kesempatan yang sama, Deputy Country Representative The Asia Foundation Timor-Leste, Heidi Arbuckle, menilai kegiatan ini penting bagi Timor-Leste yang kini memasuki fase transformasi digital pasca-aksesi keanggotaan penuh ASEAN.
“Transformasi digital membawa banyak peluang, tapi juga tantangan baru. Karena itu, penting bagi kita semua memahami bagaimana berperilaku aman di ruang digital agar tidak menjadi korban kejahatan siber,” ujarnya.
Ia juga mendorong peserta untuk aktif berdiskusi selama pelatihan.
“Tidak ada pertanyaan yang tidak masuk akal. Dunia digital terus berkembang, dan kita semua perlu belajar bersama agar pengetahuan ini benar-benar bisa diterapkan di komunitas masing-masing,” katanya.
Pelatihan dua hari ini mencakup sesi tentang Online Safety and Digital Security Threats, Cyber Security and Data Protection, serta praktik fasilitasi pelatihan.
Melalui kegiatan ini, FHT dan Asia Centre berharap dapat memperluas jangkauan literasi digital dan membangun jejaring pelatih lokal yang berperan aktif dalam mempromosikan keamanan digital di seluruh Timor-Leste.
Reporter: Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz

