Top

Delegasi Kisar : Batas negara tak mampu pisahkan persaudaraan Timor-Leste dan Indonesia

Camat Kisar Utara, Fernando R. Rupilu. Foto TATOLI/Cidalia Fatima

LAUTÉM, 23 Oktober 2026 (TATOLI) — Delegasi Pulau Kisar, Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku, Indonesia, menegaskan bahwa perbedaan batas administratif negara tidak dapat memisahkan hubungan persaudaraan, sejarah, dan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun antara masyarakat Kisar dan Timor-Leste.

Hal tersebut disampaikan Camat Kisar Utara, Fernando R. Rupilu, dalam wawancara di sela-sela penyelenggaraan Festival Fronteira 2026 di Desa Com, Daerah Administratif Lautém, Kotamadya Lautém.

Menurutnya, kehadiran delegasi Maluku Barat Daya dalam festival edisi keempat tersebut menjadi kesempatan penting untuk mempererat kembali hubungan masyarakat kedua wilayah yang memiliki kedekatan sejarah dan budaya.

“Negara memisahkan kita secara administratif, tetapi kultur dan budaya kita itu tidak bisa dan tidak akan pernah dipisahkan. Karena itu menjadi warisan yang terus kita pertahankan, warisan turun-temurun yang diberikan oleh para leluhur kita,” kata Fernando Rupilu.

Ia menjelaskan, masyarakat Pulau Kisar dan komunitas di wilayah Lautém memiliki sejumlah kesamaan dalam tradisi, nilai budaya, dan kehidupan sosial yang tetap dipertahankan hingga saat ini.

Menurutnya, perbedaan yang muncul seiring perjalanan waktu tidak menghilangkan akar kebudayaan yang menghubungkan masyarakat kedua wilayah.

“Secara kultural, tidak ada perbedaan yang signifikan sebetulnya. Ini masalah waktu saja yang kemudian menyikis perbedaan-perbedaan itu. Tetapi pada prinsipnya, kami adalah bagian dari suku atau budaya dan tatanan yang sama,” ujarnya.

Fernando menilai Festival Fronteira menjadi wadah penting untuk membangun kembali komunikasi dan memperkuat hubungan antarmasyarakat yang selama ini terpisah oleh batas administratif.

Ia berharap kegiatan serupa dapat diselenggarakan secara berkelanjutan dan memberikan kesempatan bagi masyarakat Timor-Leste untuk melakukan kunjungan balasan ke Pulau Kisar.

Selain hubungan budaya, Fernando juga menyoroti pentingnya menghidupkan kembali aktivitas perdagangan tradisional antara masyarakat Kisar dan Timor-Leste.

Ia mengungkapkan bahwa hubungan perdagangan antara kedua wilayah telah berlangsung sejak dahulu. Namun, pengembangan kerja sama tersebut memerlukan komunikasi dan penyesuaian terhadap ketentuan lintas batas negara.

“Ada hubungan dagang yang bisa tetap kami lakukan. Karena itu jauh sebelumnya ada proses hubungan dagang itu. Dan kami ingin menyatu kembali,” katanya.

Menurut Fernando, pihaknya tengah memperjuangkan proses terkait pos lintas batas negara yang secara formal membutuhkan pemenuhan berbagai ketentuan administratif.

Ia berharap komunikasi antara pemerintah dan masyarakat kedua wilayah dapat terus ditingkatkan agar hubungan sosial, budaya, dan ekonomi dapat berkembang.

Fernando juga menekankan pentingnya rekonsiliasi sebagai bagian dari upaya memulihkan hubungan masyarakat yang pernah mengalami perpecahan pada masa lalu.

“Karena luka bukan tujuan kita, tetapi kesatuan dan kebersamaan itu menjadi perjuangan bersama sebetulnya. Karena memang kita berada dalam kawasan yang kultur dan budaya kita adalah sama,” tegasnya.

Sementara itu, salah seorang anggota delegasi masyarakat Kisar, Agustinu Resibere, mengatakan bahwa kehadiran mereka dalam Festival Fronteira bukan sekadar mengikuti kegiatan resmi, melainkan juga menjadi kesempatan untuk bertemu kembali dengan keluarga dan kerabat di Timor-Leste.

Ia menjelaskan bahwa masyarakat Kisar memiliki hubungan kekerabatan yang erat dengan masyarakat di wilayah Lautém, termasuk kedekatan budaya dengan komunitas Fataluku.

“Sejak zaman leluhur, orang tua kita tahu bahwa Timor dan Kisar bukanlah orang lain. Kita tidak bisa dipisahkan hanya karena perbedaan batas negara,” ujarnya.

Agustinu berharap penyelenggaraan festival terus dilanjutkan agar masyarakat kedua wilayah memiliki kesempatan untuk saling mengunjungi dan mempertahankan hubungan kekeluargaan.

Ia juga mengharapkan adanya informasi yang lebih jelas mengenai persyaratan dokumen perjalanan, termasuk paspor dan visa, untuk mempermudah kunjungan masyarakat lintas batas sesuai ketentuan yang berlaku.

“Kedatangan kami kemari bukan semata-mata acara resmi, melainkan juga untuk menjenguk sanak keluarga,” katanya.

Menurutnya, hubungan masyarakat Kisar dan Timor-Leste telah terjalin dari generasi ke generasi dan tetap dipertahankan meskipun kedua wilayah berada dalam negara yang berbeda.

“Kami orang Kisar dengan orang Timor di sini sudah seperti anak-bapak dan kakak-beradik. Tiada sekat pembatas di hati, kita tetap satu rumpun keluarga,” ungkapnya.

Festival Fronteira 2026 yang berlangsung di Com merupakan penyelenggaraan edisi keempat, setelah sebelumnya digelar di Bobonaro pada 2023, Oé-Cusse pada 2024, dan Covalima pada 2025.

Festival tersebut menjadi ruang pertemuan masyarakat Timor-Leste dan Indonesia untuk memperkuat rekonsiliasi, melestarikan warisan budaya, serta membuka peluang kerja sama sosial dan ekonomi di kawasan perbatasan.

Reporter : Cidalia Fátima

Editor    : Armandina Moniz

Publisidade

Leave a Reply

Latest Post

error: Content is protected !!