Top

Ancaman El Niño, Timor-Leste perkuat diplomasi dan konservasi air

Presiden Republik, Jose Ramos – Horta berbicara dalam Simposium Nasional yang bertajuk Air, Perdamaian, dan Diplomasi. Foto TATOLI/ Egas Cristovão

DILI, 26 Oktober 2026 (TATOLI) – Pemerintah Timor-Leste bersama mitra pembangunan internasional terus memperkuat diplomasi dan konservasi sumber daya air guna menghadapi ancaman fenomena El Niño dan perubahan iklim yang berdampak terhadap ketersediaan air serta ketahanan pangan masyarakat.

Upaya tersebut menjadi fokus dalam Simposium Nasional bertajuk Air, Perdamaian, dan Diplomasi yang diselenggarakan Kantor Kepresidenan Republik bekerja sama dengan organisasi nonpemerintah Permakultura Timor-Leste (PERMATIL), University of New South Wales (UNSW) Sydney, Global Water Institute, dan Diplomacy Training Program, di Dili, Senin (26/10).

Presiden Republik, José Ramos-Horta, saat membuka simposium tersebut menegaskan pentingnya memperkuat kerja sama internasional untuk mencari solusi terhadap berbagai tantangan pengelolaan sumber daya air, terutama di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim dan kerentanan pangan.

Menurut Kepala Negara, selama lebih dari dua dekade, Timor-Leste telah menjalin berbagai kemitraan dengan sejumlah negara, termasuk Australia, China, Jepang, Indonesia, Selandia Baru, Korea Selatan, Portugal, dan Prancis.

Kerja sama tersebut dinilai penting tidak hanya untuk menjamin ketersediaan air, tetapi juga untuk mengatasi persoalan ketahanan pangan dan malnutrisi yang masih menjadi tantangan serius bagi masyarakat Timor-Leste.

“Melalui kemitraan ini, selain membahas persoalan air, kita juga melihat masalah ketahanan pangan karena kita masih menghadapi persoalan serius terkait ketahanan pangan, malnutrisi, dan kerentanan pangan yang kini semakin memburuk akibat situasi El Niño,” kata Presiden Ramos-Horta.

Ia berharap simposium tersebut menjadi wadah bagi pemerintah, organisasi masyarakat sipil, akademisi, dan mitra internasional untuk bersama-sama mengidentifikasi solusi konkret dalam menghadapi persoalan air serta memperkuat ketahanan masyarakat terhadap perubahan iklim.

Sementara itu, Direktur Eksekutif PERMATIL sekaligus Duta Khusus untuk Kebudayaan, Lingkungan Hidup, dan Sumber Daya Air, Ego Lemos, mengatakan diplomasi air menjadi semakin penting karena dampak perubahan iklim dan El Niño mulai menimbulkan tantangan serius terhadap akses masyarakat pada sumber daya air.

“Kita melihat dampak El Niño dan perubahan iklim yang terjadi di dunia, khususnya di negara kita. Di banyak tempat, persoalan air mulai muncul dan menjadi tantangan besar bagi akses masyarakat terhadap air,” ujar Ego Lemos.

Menurutnya, simposium tersebut merupakan kesempatan strategis untuk memperkuat kerja sama antarnegara, khususnya anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN), dalam mengembangkan solusi bersama terhadap persoalan pengelolaan air.

Ia secara khusus menyoroti pentingnya kerja sama antara Timor-Leste dan Indonesia sebagai dua negara bertetangga yang memiliki hubungan geografis, sosial, dan lingkungan yang erat.

“Kami berharap kegiatan ini dapat semakin memperkuat kerja sama antarnegara, khususnya negara-negara anggota ASEAN, untuk melihat pentingnya sumber daya air itu sendiri,” katanya.

Simposium tersebut juga menghadirkan pembicara dari sejumlah negara, termasuk Nepal, Laos, Kamboja, Thailand, dan Australia, untuk berbagi pengalaman mengenai pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan tanpa menimbulkan konflik.

Ego Lemos menilai pertukaran pengalaman tersebut dapat menjadi dasar bagi Timor-Leste dan negara-negara mitra untuk mengembangkan pendekatan bersama dalam menghadapi ancaman krisis air akibat perubahan iklim.

PERMATIL pulihkan lebih dari 800 mata air

Selain memperkuat diplomasi internasional, Ego Lemos menegaskan pentingnya tindakan konkret melalui konservasi sumber daya air di tingkat masyarakat.

Ia mengungkapkan bahwa PERMATIL telah menjalankan berbagai program konservasi air sejak 2004, yang awalnya dilaksanakan dalam skala kecil sebelum diperluas pada 2018 setelah menunjukkan hasil positif.

“Kami memulai kegiatan ini pada 2004 dalam skala kecil. Namun, setelah melihat bahwa model tersebut berhasil dan memberikan hasil yang baik, pada 2018 kami mulai memperluas kegiatan hingga berhasil menghidupkan kembali lebih dari 800 mata air,” jelasnya.

Menurutnya, program konservasi yang dijalankan PERMATIL, baik secara langsung maupun tidak langsung, telah menjangkau berbagai desa di seluruh wilayah Timor-Leste, termasuk Daerah Administratif Khusus Oé-Cusse Ambeno.

Kegiatan tersebut meliputi rehabilitasi sumber mata air alami, pembangunan struktur konservasi air, serta penanaman vegetasi untuk menjaga kelembapan tanah dan meningkatkan kemampuan lingkungan dalam menyimpan air.

Sebagai contoh keberhasilan, Ego Lemos menjelaskan bahwa PERMATIL telah membawa sejumlah delegasi internasional mengunjungi Dare, sehari sebelum pelaksanaan simposium, untuk melihat secara langsung hasil kegiatan konservasi air.

Menurutnya, kunjungan tersebut menunjukkan bahwa sejumlah mata air di kawasan itu masih terus mengalir berkat upaya konservasi yang dilakukan bersama masyarakat.

“Ini menunjukkan bahwa kegiatan yang kita lakukan di Timor-Leste dapat menjadi contoh tindakan konkret dan efektif. Upaya ini juga dapat membantu mengurangi konflik antarmasyarakat karena kita mengetahui bahwa perselisihan mengenai air terkadang terjadi di antara komunitas,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa konservasi air tidak hanya bertujuan menjamin ketersediaan sumber daya alam, tetapi juga berperan penting dalam menjaga perdamaian dan stabilitas sosial.

Pasalnya, keterbatasan akses terhadap sumber air di sejumlah komunitas terkadang memicu perselisihan terkait hak penggunaan dan pembagian air.

“Air juga berkontribusi terhadap perdamaian. Kita melihat banyak komunitas di Timor-Leste menghadapi persoalan akses terhadap air. Terkadang, masalah ini menimbulkan perselisihan antarmasyarakat, termasuk mengenai hak untuk mengakses dan menggunakan air dari mata air,” katanya.

Karena itu, PERMATIL meminta dukungan Presiden Republik dan Pemerintah untuk terus memperluas program konservasi air ke seluruh wilayah Timor-Leste sebagai langkah antisipasi terhadap dampak perubahan iklim pada masa mendatang.

Ego Lemos juga menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam upaya perlindungan lingkungan melalui berbagai program pelatihan teknis dan kegiatan konservasi yang diselenggarakan setiap tahun.

“Bersama tim, kami siap terus bekerja dengan generasi muda. Setiap tahun, kami menyelenggarakan perkemahan untuk memberikan pelatihan teknis kepada kaum muda guna meningkatkan pengetahuan dan kapasitas mereka dalam konservasi air serta perlindungan lingkungan,” jelasnya.

Ia berharap dukungan pemerintah dan mitra pembangunan internasional dapat memperluas penerapan berbagai model konservasi yang telah menunjukkan hasil positif, khususnya di wilayah yang masih menghadapi keterbatasan akses terhadap air.

Menurutnya, keberhasilan pengelolaan sumber daya air membutuhkan kerja sama seluruh pihak agar sumber mata air yang telah dipulihkan dapat terus dipertahankan dan dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh masyarakat.

“Kami percaya bahwa upaya ini akan memberikan hasil yang baik. Karena itu, kami merekomendasikan agar semua pihak belajar dari contoh-contoh keberhasilan yang sudah ada dan menerapkannya di tempat lain,” pungkasnya. 

Reporter: Cidalia Fátima

Editora: Armandina Moniz

Publisidade

Leave a Reply

Latest Post

error: Content is protected !!