Komunitas Sri Lanka dan Malaysia terus melestarikan tradisi Portugis

DILI, 29 Juni 2025 (TATOLI)—Komunitas Luso-Asia di Sri Lanka dan Malaysia terus berjuang untuk melestarikan bahasa, budaya, dan identitas Portugis mereka.
Perwakilan komunitas Sri Lanka, Earl Brathelot, menjelaskan bahwa mereka telah mengenal bahasa Portugis sejak abad ke-16. Pada masa itu, nenek moyang mereka berdagang dan membawa produk lokal untuk dijual ke Portugal.
Setelah masa perdagangan, banyak dari mereka menikahi perempuan Portugis, sehingga membentuk identitas budaya baru yang merupakan perpaduan antara budaya Eropa dan Asia.
Brathelot menambahkan bahwa meskipun bahasa Portugis pernah digunakan secara luas di Sri Lanka, bentuknya telah menyesuaikan dengan konteks lokal. Bahasa tersebut tidak lagi mengikuti tata bahasa asli, melainkan bercampur dengan bahasa Sinhala dan Tamil, menghasilkan sebuah bentuk kreol yang dikenal sebagai ‘bahasa Portugis bebas’.
“Bahasa Portugis merupakan warisan dari para leluhur kami. Kami mempelajarinya di rumah karena tidak tersedia dalam buku pelajaran dan tidak digunakan di sektor pendidikan. Sekitar 7.000 orang dalam komunitas kami masih menggunakannya, meskipun tersebar jauh, sehingga kami hanya berbicara Portugis dalam acara keluarga atau keagamaan,” ungkap Brathelot dalam Konferensi Komunitas Portugis-Asia (APCC) edisi keempat, di Pusat Konvensi Dili (CCD), Sabtu ini.
Berita terkait : Profesor Linguistik Benjamin ajak kaum muda Luso-Asia baca buku “State Collection”
Ia juga membandingkan kondisi penggunaan bahasa Portugis di Sri Lanka dengan di Timor-Leste. Menurutnya, meskipun masyarakat Sri Lanka hanya menggunakan bahasa Portugis di lingkungan rumah, di Timor-Leste bahasa ini digunakan secara resmi dalam sistem pendidikan dan pemerintahan.
“Namun, melalui acara seperti ini, kita menunjukkan kepada dunia bahwa kita masih ada. Kita saling mengenal lebih dekat, terutama mengenai budaya dan sejarah para leluhur kita,” ujarnya.
Sementara itu, perwakilan dari Malaysia, Marina Danker, mengatakan bahwa masyarakat Portugis-Malaysia biasanya berbicara dalam bahasa Inggris dan Melayu di sekolah, namun tetap menggunakan bahasa Portugis di rumah sebagai bagian dari warisan budaya.
Ia menambahkan bahwa warisan leluhur yang terus dilestarikan antara lain adalah tarian tradisional seperti Cafrinja dan Lancers, serta resep-resep khas yang masih menggunakan istilah Portugis, seperti char bola, massa, jambu biji, dan jahe.
Bahkan frasa seperti saling menyapa telah diadaptasi menjadi sapaan ‘Bom Dia’, menunjukkan evolusi fonetik yang terus berlangsung dari generasi ke generasi.
Menurut Marina, keikutsertaan dalam Konferensi APCC ini merupakan momen penting dan membanggakan untuk berbagi informasi dan memperkuat jati diri budaya komunitas Luso-Asia.
“Penting untuk menunjukkan kepada dunia bahwa kita masih ada. Sejarah kita tetap hidup dalam bahasa, musik, dan makanan,” tegasnya.
Baginya, acara ini sangat penting untuk menjaga warisan yang ditinggalkan para leluhur, meskipun bahasa Portugis yang digunakan mengalami adaptasi, tetap menjaga inti dari identitas budaya mereka.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Julia Chatarina

