iklan

HEADLINE, PENDIDIKAN

Profesor Linguistik Benjamin ajak kaum muda Luso-Asia baca buku “State Collection”

Profesor Linguistik Benjamin ajak kaum muda Luso-Asia baca buku “State Collection”

Profesor Linguistik Benjamin Corte Real. Foto Tatoli/Francisco Sony

DILI, 27 Juni 2025 (TATOLI) – Dalam Konferensi Komunitas Portugis Asia (Asian Portuguese Community Conference/APCC), Profesor Linguistik Benjamin Corte Real mengajak generasi muda Luso-Asia untuk membaca buku “State Collection of the 4th Luso-Asian Conference”. Buku ini memuat beragam artikel tentang sejarah dan budaya komunitas Luso-Asia.

Profesor Benjamin sebagai salah satu pembicara dalam konferensi tersebut menegaskan pentingnya kaum muda membaca buku tersebut karena di dalamnya terdapat 12 artikel yang mengangkat sejarah dan budaya komunitas Luso-Asia dari berbagai negara. Semua artikel disusun untuk memberikan pemahaman menyeluruh tentang peran historis dan nilai budaya yang diwariskan hingga kini.

“Artikel ke-12, misalnya, menjelaskan bagaimana hubungan historis Timor-Leste dengan Portugal dimulai, serta bagaimana budaya berkembang pada masa itu. Ini menjadi bagian penting dari narasi sejarah setiap komunitas Luso-Asia yang tercantum dalam buku ini,” jelasnya di Pusat Konvensi Dili (CCD), Jumat ini.

Menurutnya, selama ini banyak cerita sejarah yang tidak diteruskan atau bahkan disembunyikan dari generasi muda. Namun kini, melalui buku-buku seperti ini, generasi baru dapat mengakses informasi yang selama ini tersembunyi, sehingga mampu memahami akar budaya mereka sendiri.

“Ini penting bagi Timor-Leste sebagai negara merdeka agar tidak melupakan pentingnya hidup berdampingan antarbudaya. Dengan membaca dan memahami sejarah, kita dapat membangun pengertian antarbangsa, mempromosikan perdamaian, dan mencegah distorsi sejarah,” kata Benjamin.

Berita terkait : Timor-Leste jadi tuan rumah APCC 2025, lestarikan warisan budaya Portugis

Ia juga mengingatkan bahwa kemajuan teknologi tidak boleh membuat generasi muda mengabaikan nilai-nilai budaya.

“Di era teknologi yang serba cepat, jika kita tidak berhati-hati, kita bisa merusak dan melupakan warisan budaya kita. Buku-buku seperti ini penting untuk menjaga kesinambungan sejarah dari satu abad ke abad berikutnya,” tegasnya.

Lebih lanjut, Ia mengatakan bahwa pengembangan teknologi dan ilmu pengetahuan harus dibarengi dengan penguatan nilai budaya dan identitas diri. “Kita perlu menjaga jiwa budaya agar tetap terhubung dengan akar kita sebagai bangsa Timor modern,” ujarnya.

Benjamin menekankan pentingnya kerja sama antarnegara Luso-Asia untuk memperkuat pengertian lintas budaya.“Meski konteks kita berbeda, kehadiran warisan Portugis bisa menjadi alasan bahwa kita mampu hidup berdampingan, membangun perdamaian dan harmoni di kawasan, tidak hanya dalam negeri,” pungkasnya.

Reporter  : Cidalia Fátima

Editor      : Armandina Moniz

 

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!