Pemakaman Empat Prelatus, Ramos-Horta : Warisan yang ditinggalkan adalah bagian penting dalam sejarah TL

DILI, 10 September 2026 (TATOLI) – Presiden Republik José Ramos-Horta mengatakan kenangan dan warisan yang ditinggalkan keempat Prelatus sebagai bagian penting dari sejarah Gereja Katolik dan masyarakat Timor-Leste.
Kepala Negara menyampaikan pidatonya usai upacara pemakaman empat jenazah prelatus Dom Jaime Garcia Goulart (Administrator Apostolik Keuskupan Dili, periode 1941–1945, dan Uskup pertama Keuskupan Dili, periode 1945–1967), Dom José Joaquim Ribeiro, Uskup Koajutor periode 1965–196 dan Uskup kedua Keuskupan Dili periode 1967–1977), Monsignor Martinho da Costa Lopes (Administrator Apostolik Keuskupan Dili, periode 1978–1983) dan Dom Alberto Ricardo da Silva (Uskup Keuskupan Dili, periode 2004-2015), di Gereja Katedral Imaculada Conceição Dili, Kamis ini.
Upacara pemakaman yang dilakukan secara kenegaraan sebagai penghormatan terakhir kepada empat Prelatus Dom Jaime Garcia Goulart, Dom José Joaquim Ribeiro, Monsignor Martinho da Costa Lopes dan Dom Alberto Ricardo da Silva itu dilaksanakan di Gereja Katedral Dili, pada Kamis (10/09) malam. Dimana, saat pemakaman, tembakan salvo dan meriam dari prajurit anggota F-FDTL mengiringi prosesi pemakaman jenazah keempat prelatus.

Presiden Republik dalam pidatonya mengatakan bahwa meskipun keempat prelatus tersebut menjalankan pelayanan pastoral pada periode sejarah yang berbeda, mereka semua memiliki ikatan erat dengan rakyat Timor-Leste serta mendedikasikan seluruh hidup mereka bagi Gereja dan masyarakat.
Kepala Negara menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Gereja Katolik, Negara Portugal, dan semua pihak yang telah merawat jenazah para prelatus tersebut dengan penuh hormat dan bermartabat.
Presiden Ramos-Horta juga menyampaikan terima kasih kepada Konferensi Waligereja Timor-Leste (CET), Keuskupan Dili, Keuskupan Baucau, dan Keuskupan Maliana, para imam dan biarawati, serta semua pihak yang berkontribusi dalam proses pemulangan jenazah empat prelatus ke Timor-Leste.
Ramos-Horta mengatakan bahwa dengan pemulangan jenazah keempat prelatus tersebut, Timor-Leste telah mendapatkan kembali bagian penting dari sejarahnya.
Presiden Republik juga mengibaratkan keempat tokoh gereja tersebut sebagai pembangun jembatan, karena masing-masing dari mereka—dengan caranya sendiri—telah membangun hubungan antara Gereja dan umat, antara Timor-Leste dan dunia, serta antar-generasi dalam sejarah Timor-Leste.

Upacara pemakaman dilangsungkan pada pukul 22.30 di Katedral Dili, dengan dihadiri oleh para tokoh agama, Presiden Republik José Ramos-Horta, Perdana Menteri Xanana Gusmão, jajaran pemerintah, anggota parlemen, aparat keamanan, serta umat Katolik.
Untuk diketahui bahwa, Uskup Dom Jaime Garcia Goulart, sebagai Uskup pertama Keuskupan Dili, mendedikasikan dirinya pada penataan dan konsolidasi Gereja Katolik, termasuk di bidang pendidikan dan pembinaan umat.
Sementara itu, Uskup Dom José Joaquim Ribeiro menjalankan pelayanannya di tengah masa penuh perubahan dan penderitaan yang dihadapi oleh rakyat Timor-Leste, dengan upaya untuk senantiasa dekat dengan umat.
Monsinyur Martinho da Costa Lopes sendiri merupakan sosok penting yang menyuarakan pembelaan terhadap martabat dan hak-hak rakyat Timor-Leste. Bahkan setelah meninggalkan Timor-Leste, beliau terus berbicara di luar negeri mengenai penderitaan rakyat Timor serta berupaya menarik perhatian pemerintah, berbagai lembaga, dan masyarakat internasional.
Sementara itu, Uskup Alberto Ricardo da Silva, seorang putra Timor asal Aileu, mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk pembinaan kaum klerus dan pelayanan bagi Gereja. Sebagai Uskup Dili, beliau melanjutkan babak baru sejarah nasional yang berfokus pada pembangunan dan konsolidasi negara yang merdeka.
Tim TATOLI

