Top

PM Xanana : Gereja berperan besar membentuk identitas bangsa Timor-Leste

Perdana Menteri, Kay Rala Xanana Gusmão. Foto spesial

DILI, 10 September 2026 (TATOLI) – Perdana Menteri Timor-Leste, Kay Rala Xanana Gusmão, menegaskan Gereja Katolik memiliki peran besar dalam membentuk identitas bangsa Timor-Leste melalui pendidikan, evangelisasi, pengembangan bahasa Tetum hingga keterlibatannya dalam perjalanan perjuangan rakyat menuju kemerdekaan.

PM Xanana menyampaikan hal tersebut dalam rangkaian penghormatan terhadap empat prelatus Gereja Katolik di Tasi-Tolu, Dili, Kamis.

Menurut Kepala Pemerintah itu, sejarah Timor-Leste tidak dapat dipisahkan dari kehadiran dan kontribusi Gereja Katolik yang telah berlangsung jauh sebelum negara ini memperoleh kemerdekaan.

“Gereja telah melakukan upaya yang sangat besar dalam membangun identitas rakyat Timor,” kata Xanana.

Ia mengatakan pada masa pemerintahan Portugis, ketika akses masyarakat terhadap pendidikan masih sangat terbatas, Gereja hadir dengan mendirikan sekolah dan memberikan pendidikan kepada masyarakat di berbagai wilayah.

PM Xanana mengenang sejumlah pusat pendidikan yang dikembangkan Gereja, termasuk Soibada, serta sekolah-sekolah di Ossu, Baucau, Fuiloro, Maliana dan wilayah lainnya.

Ia juga mengenang kehadiran para imam, biarawan dan biarawati dari berbagai negara yang memberikan pelayanan kepada masyarakat Timor-Leste, terutama di bidang pendidikan dan evangelisasi.

Selain pendidikan, Xanana menilai Gereja memberikan kontribusi penting terhadap perkembangan bahasa Tetum. Menurutnya, Gereja menggunakan Tetum sebagai sarana komunikasi untuk mengajarkan katekismus dan iman kepada masyarakat.

Para guru yang mendapatkan pendidikan di Soibada, katanya, turut menggunakan dan mengajarkan Tetum ketika menjalankan tugas di berbagai wilayah.

Karena itu, menurut Xanana, perjalanan Tetum hingga menjadi bahasa nasional juga tidak dapat dilepaskan dari peran Gereja yang sejak lama menggunakannya sebagai sarana komunikasi dengan umat.

“Bahasa Tetum menjadi bahasa nasional karena Gereja mengadopsinya sebagai sarana komunikasi untuk mengajarkan iman kepada kita,” ujarnya.

Xanana mengatakan kontribusi Gereja tidak berhenti pada bidang keagamaan dan pendidikan. Pada masa konflik, Gereja juga hadir bersama masyarakat dan memberikan kontribusi terhadap perjuangan rakyat untuk menentukan nasib sendiri.

Ia mengenang kunjungan Paus Yohanes Paulus II ke Timor-Leste pada 1989 sebagai salah satu peristiwa penting dalam sejarah bangsa karena turut menarik perhatian masyarakat internasional terhadap situasi Timor-Leste.

Xanana juga mengenang sejumlah rohaniwan yang secara langsung maupun tidak langsung membantu rakyat pada masa perjuangan, termasuk para imam yang mendampingi masyarakat ketika situasi keamanan sangat sulit.

Menurutnya, hal tersebut menunjukkan bahwa Gereja bukan hanya sebuah institusi keagamaan, tetapi menjadi bagian dari perjalanan rakyat dalam mempertahankan identitas dan memperjuangkan masa depan bangsa.

Penghormatan terhadap empat prelatus, kata Xanana, karena itu juga merupakan bentuk penghargaan rakyat Timor-Leste terhadap peran Gereja sejak masa evangelisasi hingga perjuangan menuju kemerdekaan.

Ia turut mengingat kembali kunjungan Paus Fransiskus ke Timor-Leste pada September 2024 yang mampu menyatukan masyarakat dari berbagai wilayah.

“Rakyat Timor tidak perlu dipanggil satu per satu. Mereka datang karena Paus Fransiskus dan bersatu. Itulah peran Gereja,” katanya.

Xanana mengatakan penghormatan terhadap empat prelatus harus menjadi momentum bagi masyarakat untuk mengingat kembali sejarah dan kontribusi Gereja terhadap bangsa, sekaligus mempertahankan nilai perdamaian, persaudaraan dan rekonsiliasi.

Oldenito Raimundo Maia. Foto TATOLI

Atas nama rakyat Timor-Leste, Kepala Pemerintahan menyampaikan penghargaan kepada Gereja Katolik atas kontribusinya sejak masa lampau hingga negara ini memperoleh kemerdekaan.

Sementara itu, umat Paroki São José Aimutin, Oldenito Raimundo Maia, mengatakan generasi muda mempunyai tanggung jawab untuk menjaga warisan perjuangan para pendahulu.

Oldenito mengaku bangga dapat mengikuti Misa penghormatan terhadap empat prelatus di Tasi-Tolu, terlebih tempat tersebut juga menjadi lokasi Misa bersama Paus Fransiskus dua tahun sebelumnya.

“Sebagai generasi muda, kita harus menghargai para pejuang kita dan mengikuti teladan mereka. Mereka telah berjuang untuk kemerdekaan, dan kita juga harus berusaha agar warisan yang mereka tinggalkan tetap terjaga untuk masa depan,” katanya.

Empat prelatus yang mendapat penghormatan adalah Dom Jaime Garcia Goulart, Uskup pertama Keuskupan Dili; Dom José Joaquim Ribeiro, Uskup kedua Keuskupan Dili; Monsinyur Martinho da Costa Lopes, mantan Administrator Apostolik Keuskupan Dili; serta Dom Alberto Ricardo da Silva, mantan Uskup Dili periode 2004–2015.

Reporter : Cidalia Fátima

Editor   : Armandina Moniz

Publisidade

Leave a Reply

Latest Post

error: Content is protected !!