Top

Festival Fronteira jadi panggung budaya dan pasar bagi produk lokal

Perwakilan Sanggar Sandalwood dari Kefamenanu, Teofilo da Silva. Foto TATOLI/Cidalia Fatima

LAUTÉM, 23 Oktober 2026 (TATOLI) — Festival Fronteira 2026 yang berlangsung di Com, Daerah Administratif Lautém, Kotamadya Lautém, tidak hanya menjadi ajang mempererat persaudaraan antara masyarakat Timor-Leste dan Indonesia, tetapi juga membuka ruang promosi budaya serta peluang ekonomi bagi pelaku usaha lokal melalui pameran kerajinan tradisional dan kuliner.

Festival yang memasuki penyelenggaraan keempat tersebut menghadirkan berbagai pertunjukan seni dan budaya dari kedua negara, termasuk delegasi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Maluku, sekaligus memberikan kesempatan kepada masyarakat setempat untuk memperkenalkan produk unggulan kepada pengunjung.

Salah satu kelompok seni yang berpartisipasi adalah Sanggar Sandalwood dari Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara, Provinsi NTT, Indonesia, yang menampilkan tarian kreasi Dawan dari Pulau Timor dalam acara makan malam bersama Perdana Menteri Kay Rala Xanana Gusmão, pejabat Pemerintah Timor-Leste, serta delegasi Indonesia.

Perwakilan Sanggar Sandalwood, Teofilo da Silva, mengatakan bahwa kelompoknya membawa 15 anggota untuk mengikuti festival tersebut sebagai bagian dari delegasi NTT.

Menurutnya, tarian yang ditampilkan mengandung pesan spiritual dan persaudaraan, yakni menggambarkan bagaimana Tuhan menuntun dan mempersatukan manusia dalam kasih-Nya.

“Malam ini kami menampilkan sebuah tarian kreasi dari Dawan, Pulau Timor. Tarian ini menceritakan tentang bagaimana Tuhan menuntun dan mengumpulkan kita dalam kasih-Nya,” kata Teofilo kepada TATOLI di Com.

Ia mengaku merasa terhormat karena Sanggar Sandalwood kembali mendapat kesempatan untuk berpartisipasi dalam Festival Fronteira, yang menjadi ruang pertemuan masyarakat dari kedua negara dengan latar belakang budaya yang memiliki banyak kesamaan.

“Kami sangat merasa terhormat, karena ini merupakan tahun keempat kami diundang di Festival Fronteira. Festival ini semakin menguatkan rasa cinta kami dengan budaya kita yang sama, hanya berbeda politik dan negara,” ujarnya.

Teofilo menilai bahwa meskipun masyarakat Timor-Leste dan NTT berada dalam wilayah administrasi negara yang berbeda, keduanya tetap memiliki kesamaan dalam tradisi, cara hidup, serta nilai-nilai budaya yang diwariskan oleh para leluhur.

Menurutnya, kegiatan pertukaran budaya seperti Festival Fronteira berperan penting dalam mempertahankan hubungan persaudaraan lintas batas sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya masyarakat Pulau Timor kepada generasi muda.

Selain menghadirkan pertunjukan budaya, festival tersebut juga menjadi kesempatan bagi masyarakat Lautém untuk memperkenalkan dan memasarkan berbagai produk lokal, terutama kain tenun tradisional tais, kerajinan tangan, serta makanan khas daerah.

Salah seorang perajin sekaligus pedagang tais asal Desa Souro, Kotamadya Lautém, Rosa Moreira Rato, menyambut positif penyelenggaraan festival karena mampu menarik pengunjung dari berbagai daerah, termasuk wisatawan mancanegara.

Menurut Rosa, kehadiran pengunjung memberikan peluang bagi masyarakat untuk meningkatkan penjualan produk kerajinan dan kuliner yang mereka hasilkan.

“Festival ini sangat bagus. Ketika para tamu datang dari luar, kami senang karena mereka membeli makanan, barang, dan tais yang kami jual,” ungkap Rosa.

Ia mengungkapkan bahwa pada hari pertama festival, dirinya berhasil memperoleh pendapatan sekitar US$100 dari penjualan produk kepada pengunjung asal Australia.

“Pada hari pertama saya mendapatkan US$100 karena wisatawan dari Australia datang berbelanja. Namun, untuk pendapatan teman-teman pedagang lainnya, saya belum mengetahui secara pasti,” jelasnya.

Rosa yang telah menjalankan usaha kerajinan tais sejak 2003 menilai kegiatan seperti Festival Fronteira memiliki manfaat penting dalam membantu perajin lokal memperkenalkan hasil produksi mereka kepada masyarakat luas.

Menurutnya, kain tais bukan sekadar produk yang diperjualbelikan, melainkan juga warisan budaya bernilai tinggi yang menjadi bagian dari identitas masyarakat Timor-Leste.

Ia berharap setiap kegiatan budaya yang melibatkan perajin lokal dapat memberikan ruang lebih besar bagi mereka untuk berpartisipasi, baik dalam kegiatan pameran maupun prosesi adat penyambutan tamu.

Rosa juga mengusulkan agar penyelenggara menyediakan mekanisme pencatatan pendapatan pedagang selama festival berlangsung, sehingga manfaat ekonomi kegiatan tersebut dapat diketahui secara lebih jelas.

Ia berharap Festival Fronteira tidak hanya menjadi ajang perayaan budaya dan persahabatan, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat, khususnya perempuan perajin dan pelaku usaha kecil.

Festival Fronteira 2026 merupakan penyelenggaraan edisi keempat setelah sebelumnya digelar di Bobonaro pada 2023, Oé-Cusse pada 2024, dan Covalima pada 2025.

Melalui perpaduan pertunjukan budaya, pameran produk lokal, dan pertemuan masyarakat lintas batas, festival tersebut menjadi wadah untuk memperkuat hubungan persaudaraan Timor-Leste dan Indonesia sekaligus membuka peluang promosi bagi produk tradisional dan usaha masyarakat di kawasan perbatasan. 

Reporter : Cidalia Fátima

Editor    : Armandina Moniz

Publisidade

Leave a Reply

Latest Post

error: Content is protected !!