Presiden Ramos-Horta kunjungi Australia, bahas demokrasi ASEAN dan transisi energi global

DILI, 14 Oktober 2026 (TATOLI) – Presiden Republik Timor-Leste sekaligus penerima Hadiah Nobel Perdamaian, José Ramos-Horta, dijadwalkan melakukan kunjungan kerja ke Australia pada 16 hingga 20 Oktober 2026 untuk menghadiri sejumlah agenda penting di Sydney dan Perth, dengan fokus pada penguatan demokrasi, peran Timor-Leste dalam ASEAN, serta kerja sama internasional di bidang ketahanan energi dan perubahan iklim.
Berdasarkan siaran pers Kepresidenan Republik yang diterbitkan pada Rabu (14/10), kunjungan tersebut akan mencakup penyampaian kuliah umum di University of Sydney dan partisipasi dalam Konferensi Tingkat Tinggi Global Citizen NOW: Perth 2026, yang mempertemukan para pemimpin dunia, sektor swasta, akademisi, dan organisasi masyarakat sipil.
Di Sydney, Presiden Ramos-Horta akan menyampaikan kuliah umum pada 16 Oktober 2026 dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh Sydney Southeast Asia Centre (SSEAC) di University of Sydney.
Kuliah umum tersebut mengangkat tema “Revisiting Democracy in Turbulent Times: Lessons from Southeast Asia and Southeast Asia’s Role in the World” atau “Meninjau Kembali Demokrasi di Tengah Masa Bergejolak: Pelajaran dari Asia Tenggara dan Peran Asia Tenggara di Dunia”.
Kegiatan tersebut memiliki makna penting karena berlangsung menjelang peringatan satu tahun keanggotaan Timor-Leste dalam Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN), setelah resmi bergabung sebagai anggota ke-11 pada 26 Oktober 2025.
Keanggotaan Timor-Leste merupakan perluasan pertama ASEAN sejak 1999, sekaligus menjadi tonggak bersejarah bagi negara tersebut dalam memperkuat keterlibatannya dalam kerja sama regional dan internasional.
Dalam kuliah umum itu, Kepala Negara akan membahas perjalanan panjang Timor-Leste dari masa pendudukan dan perjuangan kemerdekaan hingga menjadi negara demokratis, termasuk tantangan dalam membangun ketahanan demokrasi di tengah perubahan geopolitik global.
Presiden Republik juga akan mengulas implikasi keanggotaan Timor-Leste dalam ASEAN terhadap persatuan kawasan, serta berbagai tantangan yang dihadapi negara-negara Asia Tenggara, termasuk kemunduran demokrasi dan meningkatnya persaingan geopolitik.
Sebagai bagian dari kegiatan tersebut, Presiden Ramos-Horta akan menyampaikan pidato utama bertajuk “Revisiting Democracy in Turbulent Times from 1975 to 2025”, yang dilanjutkan dengan diskusi interaktif bersama panelis.
Pengalaman panjang Ramos-Horta dalam memperjuangkan kemerdekaan Timor-Leste, termasuk perannya sebagai penerima Hadiah Nobel Perdamaian 1996, Menteri Luar Negeri, Perdana Menteri pada 2006–2007, serta Presiden Republik pada 2007–2012 dan sejak Mei 2022, menjadi landasan penting dalam pembahasan mengenai transisi demokrasi dan ketahanan sebuah bangsa.
Kenang 51 Tahun Tragedi Balibo Five
Selain membahas demokrasi, kunjungan Presiden Ramos-Horta ke Sydney juga akan menjadi momentum untuk mengenang 51 tahun tragedi Balibo Five, yakni lima jurnalis yang terbunuh di Balibo, Timor-Leste, pada 16 Oktober 1975.
Peringatan tersebut akan menjadi bagian khusus dalam rangkaian kuliah umum di University of Sydney, dengan sesi penghormatan selama sepuluh menit untuk mengenang keberanian dan pengorbanan kelima jurnalis tersebut.
Dalam kesempatan itu, juga akan dilakukan penyerahan bunga kepada salah satu anggota keluarga korban yang masih hidup sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan perjuangan Balibo Five dan pentingnya kebebasan pers.
“Pada peringatan 51 tahun kematian Balibo Five, saya merasa terhormat dapat bergabung dengan komunitas University of Sydney untuk mengenang para jurnalis pemberani tersebut,” kata Presiden Ramos-Horta sebagaimana dikutip dalam siaran pers Kepresidenan.
Presiden menegaskan bahwa kuliah umum tersebut juga menjadi kesempatan untuk merefleksikan perjalanan Timor-Leste dari masa pendudukan dan perlawanan menuju negara demokratis yang kini melanjutkan perjalanannya sebagai anggota penuh ASEAN.
Hadiri Global Citizen NOW: Perth 2026
Setelah menyelesaikan agenda di Sydney, Presiden Ramos-Horta akan melanjutkan perjalanan ke Perth, Australia Barat, untuk menghadiri Global Citizen NOW: Perth 2026 Summit yang dijadwalkan berlangsung pada 18 hingga 20 Oktober 2026 di Perth Convention and Exhibition Centre.
Konferensi internasional tersebut diselenggarakan menjelang Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-31 (COP31), dengan tujuan memperkuat kolaborasi global dalam menghadapi tantangan perubahan iklim, ketahanan energi, serta percepatan transisi menuju energi bersih.
Forum ini akan mempertemukan para pemimpin pemerintahan, pelaku bisnis, organisasi filantropi, komunitas masyarakat adat, akademisi, dan organisasi masyarakat sipil untuk membahas solusi nyata dalam memperluas akses energi bersih, mempercepat elektrifikasi, memperkuat keamanan energi, serta mendukung pembangunan global yang berkelanjutan.
Pada Senin, 19 Oktober 2026, Presiden Ramos-Horta dijadwalkan menjadi salah satu pembicara dalam diskusi bertajuk “Energy, Security & Independence” atau “Energi, Keamanan, dan Kemandirian”.
Diskusi tersebut akan dipandu oleh Tzeporah Berman, Ketua Fossil Fuel Non-Proliferation Treaty, dan membahas keterkaitan antara ketahanan energi, keamanan nasional, serta pentingnya kemandirian energi dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.
Sejumlah tokoh internasional yang diumumkan akan berpartisipasi dalam konferensi tersebut antara lain Perdana Menteri Antigua dan Barbuda, Gaston Browne; Perdana Menteri Australia Barat, Roger Cook; mantan Perdana Menteri Australia sekaligus Presiden dan CEO Global Asia Society, Kevin Rudd; Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol; serta kapten tim Fremantle Dockers, Alex Pearce.
Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Amina J. Mohammed, juga dijadwalkan memberikan sambutan melalui video.
Kehadiran para pemimpin dari berbagai sektor tersebut diharapkan dapat memperkuat kemitraan internasional, mendorong komitmen baru, serta memobilisasi investasi guna mempercepat transisi energi global.
Ramos-Horta tekankan kerentanan Timor-Leste terhadap perubahan iklim
Presiden Ramos-Horta menegaskan bahwa partisipasi Timor-Leste dalam konferensi tersebut memiliki arti penting, mengingat negara ini termasuk wilayah yang sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim.
Menurut Kepala Negara, persoalan keamanan energi, ketahanan iklim, dan transisi menuju masa depan berkelanjutan merupakan tantangan mendasar yang membutuhkan kerja sama dan tindakan nyata dari masyarakat internasional.
“Global Citizen NOW: Perth merupakan platform untuk menghadapi berbagai tantangan utama zaman kita, yakni keamanan energi, ketahanan terhadap perubahan iklim, dan transisi menuju masa depan yang berkelanjutan,” ujar Presiden Ramos-Horta.
Ia mengaku merasa terhormat dapat bergabung dengan sejumlah pemimpin internasional, termasuk mantan Presiden Kiribati, Anote Tong, Perdana Menteri Gaston Browne, Premier Roger Cook, dan mantan Perdana Menteri Kevin Rudd, bersama berbagai tokoh dari pemerintahan, dunia usaha, dan masyarakat sipil.
“Bagi Timor-Leste, sebagai negara yang sangat rentan terhadap perubahan iklim, pembahasan ini bukan sekadar persoalan abstrak, melainkan menyangkut kelangsungan hidup bangsa,” tegasnya.
Presiden Republik berharap konferensi tersebut dapat menghasilkan solusi yang mendukung kemandirian energi, stabilitas regional, serta transisi energi yang adil dan inklusif bagi semua negara, termasuk negara-negara berkembang dan kepulauan kecil.
Melalui rangkaian kunjungan kerja ini, Presiden Ramos-Horta diharapkan dapat memperkuat keterlibatan Timor-Leste dalam dialog internasional mengenai demokrasi, kebebasan pers, pembangunan berkelanjutan, dan kerja sama menghadapi perubahan iklim.
Setelah menyelesaikan seluruh agenda di Sydney dan Perth, Presiden Republik dijadwalkan kembali ke Dili pada 21 Oktober 2026.
Agenda kuliah umum Presiden Ramos-Horta pada 16 Oktober juga tercantum dalam kalender resmi University of Sydney, sementara penyelenggara Global Citizen mengonfirmasi keikutsertaannya dalam konferensi di Perth pada 18–20 Oktober 2026
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz

