Santos tunggu dokumen Pemerintah Timor-Leste untuk lanjutkan negosiasi Proyek Bayu-Undan

DILI, 09 Oktober 2026 (TATOLI) – Perusahaan energi asal Australia, Santos, masih menunggu sejumlah dokumen resmi dari Pemerintah Timor-Leste melalui Kementerian Perminyakan dan Sumber Daya Mineral (MPRM) sebagai dasar untuk memulai negosiasi formal terkait kelanjutan pengembangan proyek Bayu-Undan.
Dalam pernyataan resmi tertanggal 01 Oktober 2026, Santos menyampaikan bahwa dokumen yang dibutuhkan mencakup rancangan perjanjian, kerangka regulasi, pengaturan fiskal, serta dokumen pendukung lainnya yang menjelaskan rencana pemerintah mengenai masa depan Bayu-Undan.
Perusahaan tersebut berharap dokumen-dokumen itu dapat segera disampaikan agar proses negosiasi formal dapat dimulai pada Oktober 2026.
“Santos tetap siap melanjutkan komunikasi konstruktif dan memajukan visi pengembangan Bayu-Undan bagi Timor-Leste. Kami menantikan dokumen yang diusulkan MPRM agar negosiasi formal dapat dimulai pada Oktober,” demikian pernyataan Santos.
Menurut perusahaan tersebut, pada Februari 2026, Santos telah mengajukan kepada Pemerintah Timor-Leste konsep pengembangan yang lebih luas, mencakup pembangunan pusat penangkapan dan penyimpanan karbon (Carbon Capture and Storage/CCS), serta fasilitas produksi dan pengolahan energi.
Konsep tersebut dikembangkan dengan mempertimbangkan masukan dari MPRM dan visi bersama mengenai pemanfaatan kembali infrastruktur Bayu-Undan untuk mendukung pengembangan sektor energi Timor-Leste pada masa mendatang.
Sejak pengajuan tersebut, Santos menyatakan terus melakukan pembahasan konstruktif dengan Pemerintah Timor-Leste guna memahami persyaratan dan ketentuan yang diinginkan pemerintah sebelum pengembangan proyek dapat dilanjutkan.
Santos menjelaskan bahwa MPRM telah menginformasikan proses penyusunan kerangka kerja komprehensif untuk mengakomodasi tiga jalur proyek potensial dalam pengembangan Bayu-Undan.
Namun, perusahaan mengakui bahwa penyusunan kerangka tersebut merupakan proses yang kompleks sehingga membutuhkan pembahasan lebih lanjut sebelum kedua pihak dapat mencapai kesepakatan akhir.
Santos menilai proyek energi berskala besar seperti Bayu-Undan memerlukan negosiasi mengenai kerangka perjanjian bersama antara perusahaan dan pemerintah sebelum penandatanganan kesepakatan final, sebagaimana proses yang juga dilakukan dalam pengembangan Greater Sunrise.
Karena itu, perusahaan berharap dokumen yang telah diminta dapat segera diterima agar proses pembahasan dapat berlanjut sesuai rencana.
Santos juga menekankan bahwa pengembangan kembali Bayu-Undan berpotensi menarik investasi signifikan serta menciptakan sumber pendapatan baru bagi Timor-Leste selama bertahun-tahun, bahkan sebelum proyek Greater Sunrise mulai dikembangkan.
Menurut perusahaan, pengembangan tersebut dapat membantu memperkuat kapasitas tenaga kerja lokal, meningkatkan keterampilan masyarakat, serta menyediakan sumber pendanaan untuk mendukung ambisi nasional dalam sektor energi.
Selain itu, kelanjutan proyek dinilai penting untuk mempertahankan tenaga kerja berpengalaman yang sebelumnya terlibat dalam pengoperasian Bayu-Undan, sekaligus memastikan transfer pengetahuan dan keterampilan bagi proyek-proyek energi berikutnya.
Santos menegaskan bahwa ketersediaan dokumen dan informasi yang diperlukan secara tepat waktu akan membantu perusahaan melanjutkan perencanaan pengembangan Bayu-Undan sehingga manfaat ekonomi dari proyek baru tidak mengalami penundaan.
Perusahaan tersebut telah berinvestasi di Timor-Leste selama lebih dari dua dekade dan saat ini menjadi operator Bayu-Undan, yang menurut Santos telah memberikan kontribusi lebih dari US$25 miliar kepada Dana Perminyakan Timor-Leste.
Sementara itu, Chief Strategy Officer (CSO) Santos, Tracey Winters, mengatakan pemanfaatan kembali Bayu-Undan dapat membuka peluang bagi Timor-Leste untuk menjadi salah satu pusat pengembangan energi dan dekarbonisasi di kawasan.
Dalam pidatonya pada Australia–ASEAN Business Forum di Adelaide, Australia, pada 29 September 2026, Winters menyampaikan bahwa keanggotaan Timor-Leste dalam ASEAN memberikan peluang baru untuk memperluas peran negara tersebut dalam pengembangan infrastruktur energi regional.
“Timor-Leste memiliki kesempatan untuk mengubah aset energi yang sudah ada menjadi bagian dari infrastruktur dekarbonisasi masa depan kawasan. Aset tersebut adalah Bayu-Undan,” kata Winters.
Ia menjelaskan bahwa selama dua dekade terakhir, Bayu-Undan telah menghasilkan pendapatan, menciptakan lapangan kerja, dan mendukung aktivitas ekonomi Timor-Leste.
Melalui rencana pengembangan baru, Santos bersama pemerintah berupaya memanfaatkan kembali fasilitas tersebut sebagai proyek CCS berskala besar, sekaligus mengembangkan sisa cadangan gas Bayu-Undan dan kemungkinan pengolahan gas dari ladang-ladang terdekat.
Menurut Winters, pendekatan tersebut memungkinkan infrastruktur dan pengalaman yang telah tersedia digunakan kembali untuk membangun industri energi baru.
Ia mencontohkan proyek CCS Moomba milik Santos di Australia Selatan, yang menurutnya telah menyimpan lebih dari 2,3 juta ton setara karbon dioksida (CO₂).
“Bayu-Undan dapat menciptakan pendapatan baru, lapangan kerja, kapasitas lokal, serta memberikan Timor-Leste peran penting dalam pusat dekarbonisasi regional,” ujarnya.
Santos menegaskan komitmennya untuk terus bekerja sama dengan Pemerintah Timor-Leste dalam merealisasikan potensi pengembangan Bayu-Undan, sembari menunggu dokumen resmi dari MPRM sebagai dasar untuk melanjutkan negosiasi formal.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz

