Top

Timor – Leste butuh laboratorium nasional untuk tembus pasar China

Bendera Republik Demokrat Timor-Leste. Foto TATOLI

DILI, 02 Oktober 2026 (TATOLI) – Timor-Leste perlu segera memiliki laboratorium nasional untuk menguji kualitas produk pertanian dan perikanan jika ingin memperluas ekspor ke pasar China, kata Duta Besar Timor-Leste untuk Republik Rakyat China, Maubere Lorosae da Silva Horta atau Loro Horta.

Menurut Dubes, keanggotaan Timor-Leste di ASEAN membuka peluang ekonomi yang lebih luas, termasuk melalui perdagangan bebas dengan negara-negara di kawasan dan China. Namun, peluang tersebut juga membawa tantangan bagi pelaku usaha nasional yang harus menghadapi persaingan lebih besar.

“China ASEAN Free Trade Agreement (CAFTA) memberikan banyak peluang bagi Timor-Leste, tetapi juga memiliki banyak tantangan. Dengan perdagangan bebas, barang dapat masuk dengan tarif yang lebih rendah sehingga harga bisa turun dan ini baik bagi masyarakat dan konsumen. Namun, ketika kita membuka perbatasan, pengusaha kita juga akan menghadapi kesulitan untuk bersaing,” kata Loro Horta kepada TATOLI di Beijing.

Ia melihat China sebagai pasar potensial bagi produk Timor-Leste, khususnya dari sektor pertanian dan perikanan.

Namun, untuk memasuki pasar tersebut, produk nasional harus memenuhi standar kualitas serta persyaratan karantina yang berlaku.

“Timor-Leste memiliki sektor pertanian, kopi dan perikanan, sementara China adalah pasar yang sangat besar. Saya sudah berkali-kali mengatakan kepada Pemerintah bahwa Timor-Leste sangat membutuhkan laboratorium nasional. Kalau kita ingin mengekspor ke China, kita harus memiliki laboratorium untuk menguji kualitas produk,” ujarnya.

Menurutnya, keberadaan laboratorium nasional penting karena China menerapkan ketentuan karantina yang ketat terhadap produk yang memasuki negaranya.

Loro Horta mengatakan Menteri Koordinator Urusan Ekonomi, Francisco Kalbuadi Lay, mendukung pembentukan laboratorium nasional dan menyebut terdapat kemungkinan fasilitas tersebut dapat diwujudkan pada 2027.

Dubes menilai sektor perikanan dan pertanian memiliki potensi besar untuk memasuki pasar China apabila hambatan standar dan pengujian kualitas dapat diatasi.

Peluang tersebut terlihat dari besarnya skala hubungan perdagangan China dengan ASEAN. Publikasi Vision on China–ASEAN Economic and Trade Cooperation 2026–2027 mencatat perdagangan barang China dengan negara-negara ASEAN terus berkembang dalam satu dekade terakhir.

Jurnalis Kantor Berita TATOLI, IP, Cidalia Fatima dan Arminda Fonseca melakukan wawancara dengan Duta Besar Timor-Leste di China, Loro Horta disela-sela kunjungan dalam program ASEAN-China Media Workshop yang belangsung di China. Dua jurnalis TATOLI juga ikut dalam program ASEAN-China Media Workshop. Foto Spesial

Ekspor China ke ASEAN meningkat dari sekitar US$274,3 miliar pada 2015 menjadi sekitar US$586,5 miliar pada 2024. Dalam periode yang sama, impor China dari ASEAN meningkat dari sekitar US$198,5 miliar menjadi US$395,1 miliar, sehingga total perdagangan barang kedua pihak pada 2024 mencapai sekitar US$981,6 miliar.

Pada Januari hingga Juli 2025, perdagangan barang China–ASEAN mencapai sekitar US$1,05 triliun. Dari jumlah tersebut, ekspor China ke ASEAN tercatat sekitar US$665,22 miliar dan impor dari ASEAN sekitar US$389,43 miliar.

Dalam perdagangan dengan masing-masing negara ASEAN pada 2025, Vietnam tercatat sebagai mitra terbesar China dengan nilai sekitar US$206,14 miliar, diikuti Malaysia US$191,67 miliar, Indonesia US$167,49 miliar, Thailand US$153,26 miliar dan Singapura US$119,25 miliar.

Sementara itu, nilai perdagangan barang China dengan Timor-Leste tercatat sekitar US$0,53 miliar, menunjukkan skala hubungan perdagangan bilateral yang masih jauh lebih kecil dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya.

Kondisi tersebut sekaligus menunjukkan ruang bagi Timor-Leste untuk memperluas perdagangan dengan China, terutama melalui komoditas yang memiliki keunggulan domestik.

Loro Horta mengatakan peluang Timor-Leste bukan terletak pada persaingan memproduksi barang industri seperti kendaraan, televisi atau peralatan rumah sakit yang telah diproduksi China dalam skala besar, melainkan pada pemanfaatan sektor yang dimiliki negara seperti kopi, pertanian dan perikanan.

Menurutnya, peluang pasar tidak akan dapat dimanfaatkan sepenuhnya tanpa kemampuan nasional untuk menjamin kualitas dan keamanan produk.

Hal itu semakin penting seiring perkembangan China–ASEAN Free Trade Area (CAFTA) 3.0 yang memperluas kerja sama dari liberalisasi perdagangan konvensional menuju ekonomi digital, ekonomi hijau serta harmonisasi standar.

Vision on China–ASEAN Economic and Trade Cooperation 2026–2027 memproyeksikan China dan ASEAN akan memperkuat pengakuan bersama terhadap standar dan hasil penilaian kesesuaian pada sejumlah bidang. Harmonisasi tersebut diharapkan dapat mengurangi kebutuhan pengujian dan sertifikasi berulang dalam perdagangan lintas batas.

Bagi Timor-Leste, kemampuan melakukan pengujian produk secara nasional menjadi semakin penting agar produsen domestik dapat memenuhi standar negara tujuan dan memanfaatkan akses pasar yang lebih luas.

Loro Horta juga menyoroti kopi sebagai salah satu komoditas penting yang membutuhkan investasi baru. Menurut data yang dikutipnya, Timor-Leste pernah menghasilkan sekitar 20.000 ton kopi pada 1988, sementara produksi pada 2019 berada di bawah 10.000 ton.

“Karena itu kita perlu melakukan reinvestasi di sektor pertanian, termasuk kopi, vanila dan produk lainnya,” katanya.

Ia menilai pasar China yang besar dapat menjadi salah satu tujuan potensial bagi peningkatan produksi tersebut apabila Timor-Leste mampu memenuhi persyaratan kualitas dan karantina.

Reporter : Cidalia Fátima

Editor   : Armandina Moniz

Publisidade

Leave a Reply

Latest Post

error: Content is protected !!