Loro Horta dorong generasi muda TL manfaatkan belajar mandarin dan teknologi di China

DILI, 02 Oktober 2026 (TATOLI) – Duta Besar Timor-Leste (TL) untuk Republik Rakyat China, Maubere Lorosae da Silva Horta atau Loro Horta, mendorong generasi muda Timor-Leste memanfaatkan kesempatan belajar di China, khususnya dalam menguasai bahasa Mandarin serta memperdalam pengetahuan di bidang teknologi, sains, pertanian dan bidang strategis lainnya.
Loro Horta mengatakan pendidikan di China dapat menjadi pilihan bagi generasi muda Timor-Leste di tengah perkembangan pesat negara tersebut dalam teknologi, infrastruktur dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
“Pesan saya kepada masyarakat Timor-Leste, China merupakan negara yang baik untuk melanjutkan pendidikan dalam berbagai bidang seperti teknologi, sains dan pertanian,” kata Loro Horta kepada TATOLI di Kedutaan Besar Timor-Leste, Tayuan Diplomatic Residence Compound, Chaoyang, Beijing.
Menurut Dubes, mempelajari bahasa Mandarin juga memiliki nilai strategis bagi generasi muda Timor-Leste karena kemampuan tersebut dapat melengkapi penguasaan bahasa Inggris dan membuka kesempatan lebih luas pada masa mendatang.
“Kesempatan belajar di China sangat penting. Kita juga perlu berinvestasi dalam pendidikan. Kalau belajar di China, kita bisa mempelajari bahasa Mandarin. Jika dikombinasikan dengan bahasa Inggris, kemampuan ini dapat saling melengkapi untuk masa depan,” ujarnya.
Dorongan penguasaan teknologi tersebut berlangsung ketika China dan ASEAN semakin memperluas kerja sama dalam ekonomi digital dan AI.
Publikasi Vision on China–ASEAN Economic and Trade Cooperation 2026–2027 menempatkan AI sebagai salah satu bidang baru yang diperkirakan semakin menentukan kerja sama ekonomi kedua pihak.
Laporan tersebut mencatat pengembangan jaringan 5G, pusat data, cloud computing dan aplikasi AI sebagai bagian dari perluasan kerja sama digital China–ASEAN.
Dalam sektor robotika, pasar mobile robot China pada 2025 tercatat sekitar RMB26,1 miliar dengan penjualan sekitar 182.000 unit. Sementara itu, pangsa ekspor robot industri China meningkat dari sekitar 25,87% pada 2022 menjadi 37,12% pada 2024 dan melampaui 40% pada 2025.
Perkembangan tersebut juga mulai terhubung langsung dengan Asia Tenggara melalui kerja sama robotika, transportasi pintar, layanan kesehatan, manufaktur, pertanian dan berbagai aplikasi AI lintas batas.
Guangxi, wilayah China yang menjadi salah satu pintu utama kerja sama dengan ASEAN, mengembangkan pola “R&D di Beijing, Shanghai dan Guangzhou, integrasi di Guangxi dan aplikasi di ASEAN” untuk mendorong penerapan teknologi AI di negara-negara Asia Tenggara.
Pengembangan sumber daya manusia menjadi bagian penting dari transformasi tersebut karena pemanfaatan teknologi tidak hanya membutuhkan infrastruktur, tetapi juga tenaga kerja yang memiliki kemampuan digital dan bahasa untuk berinteraksi dalam lingkungan kerja sama China–ASEAN.
Loro Horta mengatakan sekitar 120 warga Timor-Leste yang berada di China saat ini merupakan mahasiswa yang mengikuti program sarjana, magister, doktoral dan pendidikan vokasional.
Jika digabungkan dengan diplomat serta warga Timor-Leste yang menetap karena perkawinan, menurutnya, komunitas Timor-Leste di China diperkirakan mencapai sekitar 130 hingga 140 orang. Angka tersebut bersifat dinamis karena mahasiswa kembali ke Timor-Leste setelah menyelesaikan pendidikan.
Mahasiswa Timor-Leste tersebar di berbagai wilayah China. Menurut Dubes, sekitar 24 orang belajar di Beijing, sementara mahasiswa lainnya berada di berbagai provinsi dan kota, termasuk Nanning.
Mereka menempuh berbagai bidang pendidikan seperti teknik dan kedokteran. China juga menjadi tempat pelaksanaan sejumlah program pelatihan bagi anggota Kepolisian Nasional Timor-Leste (PNTL), F-FDTL, pemadam kebakaran, jurnalis dan profesi lainnya.
“Bahasa China tidak mudah. Misalnya untuk membaca surat kabar, kita perlu mengenal sedikitnya 2.000 karakter. Itu sulit, tetapi saya sangat mengapresiasi mahasiswa kita karena mereka mampu melakukannya,” katanya.
Loro Horta memperkirakan sekitar 99% mahasiswa Timor-Leste yang belajar di China berhasil menyelesaikan pendidikan mereka.
Menurut data Kedutaan Besar yang disampaikan Dubes, hingga kini sekitar 130 warga Timor-Leste telah menyelesaikan pendidikan tinggi di China pada tingkat sarjana, magister dan doktoral.
Selain pendidikan formal, lebih dari 5.000 warga Timor-Leste disebut telah mengikuti berbagai pelatihan jangka pendek di China, mulai dari satu atau dua minggu hingga beberapa bulan.
Catatan TATOLI berdasarkan data imigrasi yang diperoleh selama kunjungan di China juga menunjukkan lebih dari 2.000 warga Timor-Leste datang ke China sepanjang 2025 untuk mengikuti berbagai pelatihan dan lokakarya.
Loro Horta mengatakan Pemerintah Timor-Leste terus berupaya meningkatkan kesempatan beasiswa bagi generasi muda untuk belajar di China.
Menurutnya, China saat ini menyediakan sekitar 45 beasiswa setiap tahun bagi warga Timor-Leste dan jumlah tersebut diharapkan dapat bertambah pada masa mendatang.
Ia menilai kemampuan bahasa Mandarin yang dipadukan dengan pendidikan teknologi dapat menjadi modal bagi generasi muda Timor-Leste ketika kerja sama China dengan ASEAN semakin bergerak ke sektor digital, AI dan industri berbasis teknologi.
“Sangat penting bagi mahasiswa kita untuk mempelajari bahasa China. Saya mendukung sepenuhnya warga Timor-Leste yang ingin datang belajar di China,” ujarnya.
Loro Horta mengatakan warga Timor-Leste yang berminat melanjutkan studi di China dapat menghubungi Kedutaan Besar Timor-Leste untuk memperoleh informasi mengenai peluang pendidikan dan beasiswa.
Kedutaan Besar Timor-Leste di Beijing saat ini juga menempati fasilitas yang lebih luas untuk mendukung pelayanan diplomatik dan konsuler, dengan ruang kerja untuk Duta Besar dan sejumlah bagian, termasuk konsuler, pertahanan, imigrasi, perdagangan, pendidikan, sekretariat, keuangan dan administrasi.
Reporter: Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz

