China berpotensi dukung infrastruktur Timor – Leste jelang ASEAN 2029

DILI, 02 Oktober 2026 (TATOLI) – Duta Besar Timor-Leste untuk Republik Rakyat China, Maubere Lorosae da Silva Horta atau Loro Horta, menilai China berpotensi mendukung Timor-Leste dalam pengembangan infrastruktur dan teknologi sebagai bagian dari persiapan Timor-Leste memegang Keketuaan ASEAN pada 2029.
Loro Horta mengatakan, menjadi Ketua ASEAN untuk pertama kalinya akan menjadi salah satu tantangan terbesar bagi Timor-Leste sejak restorasi kemerdekaan pada 2002, karena negara tersebut harus mempersiapkan berbagai fasilitas untuk menerima para pemimpin ASEAN dan mitra dialognya.
“Pada 2029, Timor-Leste akan memegang Presidensi ASEAN dan harus menyelenggarakan KTT para kepala negara. Ini merupakan tantangan besar, mungkin salah satu tantangan terbesar bagi Timor-Leste sejak restorasi kemerdekaan pada 2002,” kata Loro Horta kepada TATOLI di Kedutaan Besar Timor-Leste, Tayuan Diplomatic Residence Compound, Chaoyang, Beijing.
Menurutnya, KTT ASEAN tidak hanya melibatkan para pemimpin negara anggota ASEAN, tetapi juga sejumlah mitra dialog seperti China, Jepang, Korea Selatan, Australia, Selandia Baru, India, Uni Eropa dan Kanada.
Ia memperkirakan Timor-Leste perlu mempersiapkan diri menerima sekitar 20 kepala negara atau pemerintahan dengan jumlah delegasi yang dapat mencapai sekitar 3.000 hingga 4.000 orang. Karena itu, pembangunan dan peningkatan infrastruktur harus dilakukan sejak dini.
“Timor-Leste perlu mempercepat pembangunan infrastruktur seperti bandara, jalan, hotel dan akomodasi, meningkatkan jaringan telekomunikasi serta mempersiapkan keamanan,” ujarnya.
Menurut Dubes, China memiliki pengalaman dan kapasitas di bidang pembangunan infrastruktur dan teknologi, mulai dari jalan, jembatan, transportasi, listrik, internet hingga kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Ia menilai pengalaman tersebut dapat dimanfaatkan Timor-Leste untuk memperkuat kesiapan menjelang 2029, termasuk memastikan jaringan telekomunikasi dan pasokan listrik tetap stabil selama berlangsungnya pertemuan tingkat tinggi.
“Ketika kita menyelenggarakan acara besar, tidak boleh ada masalah dengan akses internet dan listrik tidak boleh padam. China memiliki teknologi modern dan kapasitas untuk membantu Timor-Leste dalam infrastruktur, telekomunikasi dan pelatihan sumber daya manusia,” katanya.

Loro Horta mengatakan China juga memiliki pengalaman mendukung pembangunan infrastruktur dan telekomunikasi di sejumlah negara ASEAN, termasuk Kamboja dan Laos.
Hubungan ekonomi China dan ASEAN sendiri telah berkembang dari perdagangan konvensional menuju infrastruktur, konektivitas dan teknologi digital.
Publikasi Vision on China–ASEAN Economic and Trade Cooperation 2026–2027, yang diluncurkan pada China–ASEAN Expo (CAEXPO) ke-23 di Nanning, Guangxi, memproyeksikan kerja sama kedua pihak akan semakin berkembang pada bidang digitalisasi, pembangunan hijau dan standardisasi.
Laporan tersebut melihat pengembangan jaringan komunikasi 5G, pusat data, layanan komputasi awan dan aplikasi kecerdasan buatan sebagai bagian dari bidang kerja sama digital China–ASEAN yang berpotensi terus berkembang.
Dalam sektor AI, Guangxi juga mengembangkan pola kerja sama “R&D di Beijing, Shanghai dan Guangzhou, integrasi di Guangxi dan aplikasi di ASEAN”, yang diarahkan untuk membawa teknologi dan aplikasi AI China ke pasar negara-negara Asia Tenggara.
Di sektor transportasi dan logistik, pengembangan pelabuhan pintar telah memanfaatkan teknologi seperti 5G, sistem navigasi satelit BeiDou, kendaraan otonom dan integrasi kendaraan-jalan-cloud. Teknologi tersebut menjadi bagian dari perluasan penggunaan AI dalam konektivitas China–ASEAN.
Data dalam publikasi itu juga menunjukkan skala hubungan investasi kedua pihak. Investasi langsung China di ASEAN mencapai sekitar US$26,24 miliar pada 2025. Hingga Juli 2025, akumulasi investasi dua arah China dan ASEAN telah mencapai lebih dari US$400 miliar, sementara nilai proyek kontrak yang telah diselesaikan perusahaan China di negara-negara ASEAN mencapai lebih dari US$480 miliar.
Pemerintah Timor-Leste sendiri telah memulai persiapan formal Keketuaan ASEAN 2029. Persiapan nasional mencakup lima sektor strategis, yakni sumber daya manusia dan kapasitas institusi, infrastruktur dan fasilitas, keamanan dan ketertiban umum, komunikasi dan diplomasi, serta keuangan, pengadaan dan koordinasi strategis.
Pemerintah juga mengidentifikasi kebutuhan peningkatan kapasitas bandara, tempat penyelenggaraan pertemuan, hotel, sumber daya manusia serta sistem logistik dan operasional.
Pada September 2026, Pemerintah menyetujui rezim khusus dan sementara pengadaan publik guna mempercepat pembangunan dan rehabilitasi infrastruktur di Dili untuk Keketuaan ASEAN 2029, termasuk pembangunan Pusat Konvensi Internasional.
Sementara itu, Loro Horta menilai investasi langsung China di Timor-Leste saat ini masih relatif terbatas. Ia memperkirakan sekitar 15 perusahaan China melakukan investasi langsung, meskipun perusahaan-perusahaan China telah memenangkan berbagai kontrak pembangunan di negara itu.
Ia menekankan perlunya membedakan investasi langsung dengan perusahaan asing yang memperoleh kontrak proyek yang dibiayai Pemerintah Timor-Leste.
“Kalau perusahaan China memenangkan kontrak dari Pemerintah Timor-Leste dan pemerintah yang membayar kontrak itu, itu bukan investasi. Investasi langsung adalah ketika perusahaan China menggunakan uangnya sendiri untuk berinvestasi di Timor-Leste,” jelasnya.
Menurutnya, Pemerintah dan Kedutaan Besar perlu terus mendorong terciptanya kondisi yang mampu menarik lebih banyak investasi langsung China ke Timor-Leste.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz

