Top

Menelusuri Warisan Quanzhou dari keramik hingga keberagaman agama

Delegasi jurnalis negara-negara ASEAN melakukan kunjungan ke Dehua Ceramics Museum di China. Foto TATOLI/Cidalia Fatima

QUANZHOU, 22 September 2026 (TATOLI) – Dari tradisi keramik yang telah berkembang selama lebih dari 3.700 tahun di Dehua hingga jejak Buddhisme, Islam dan Taoisme di pusat kota, delegasi jurnalis negara-negara ASEAN menelusuri kekayaan warisan Quanzhou, Provinsi Fujian, China, yang tumbuh bersama perdagangan dan pertukaran budaya selama berabad-abad.

Penelusuran tersebut menjadi agenda hari ketiga rangkaian ASEAN Media Workshop di Fujian, Senin (21/09), dengan perjalanan dimulai dari Kabupaten Dehua sebelum berlanjut menuju pusat Kota Quanzhou.

Dehua dikenal sebagai salah satu pusat penting industri keramik China. Jejak awal pembuatan keramik di wilayah tersebut, termasuk proto-celadon, dapat ditelusuri hingga lebih dari 3.700 tahun lalu. Tradisi itu kemudian berkembang dari generasi ke generasi dan melahirkan porselen putih Dehua yang dikenal secara internasional sebagai “Blanc de Chine” atau “China White.”


Museum Dehua Ceramics di China. Foto TATOLI/Cidalia Fatima

Saat ini, warisan tersebut tidak hanya dipertahankan sebagai bagian dari sejarah, tetapi juga berkembang menjadi industri besar. Dehua memiliki lebih dari 4.500 perusahaan keramik dengan lebih dari 100.000 pekerja, sementara produknya dipasarkan ke lebih dari 190 negara dan wilayah.

Pada Januari hingga Juli 2025, nilai ekspor keramik Dehua tercatat mencapai sekitar 2,138 miliar yuan atau sekitar US$297,9 juta, sementara skala klaster industri keramiknya mencapai sekitar 41,61 miliar yuan atau US$5,797 miliar. 

Melihat perjalanan panjang keramik Dehua

Delegasi memulai kunjungan di Dehua Ceramics Museum, tempat para jurnalis melihat langsung berbagai koleksi yang merekam perjalanan panjang perkembangan keramik di daerah tersebut.

Berbagai peninggalan dengan bentuk, motif, warna dan fungsi berbeda memperlihatkan bagaimana masyarakat terdahulu mengolah tanah menjadi peralatan yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari hingga berkembang menjadi karya seni bernilai tinggi.

Meseum di Dehua Quanzhou. Foto TATOLI/Cidalia Fatima

Koleksi museum juga memberikan gambaran mengenai perubahan teknik dan estetika keramik dari masa ke masa, sekaligus menunjukkan bagaimana kerajinan tersebut menjadi bagian penting dari identitas Dehua.

Perjalanan kemudian berlanjut menuju Qudougong Kiln Site, salah satu situs penting untuk memahami produksi keramik Dehua pada masa lalu.

Situs Qudougong ditemukan pada 1953. Penggalian arkeologi kemudian dilakukan pada 25 hingga 26 April 1976 dengan melibatkan Fujian Museum, Departemen Arkeologi School of History Xiamen University serta instansi pemerintah terkait. 

Area yang digali mencapai sekitar 1.015 meter persegi

Salah satu temuan penting di lokasi tersebut adalah tungku naga atau dragon kiln bertingkat yang dibangun mengikuti kemiringan tanah. Tungku tersebut memiliki panjang sekitar 57,1 meter dan lebar antara 1,4 hingga 2,95 meter, dengan orientasi kepala tungku sekitar 345 derajat dan kemiringan lantai antara 12 hingga 22 derajat.

Meski bagian atap tungku telah runtuh, sejumlah struktur penting masih dapat dikenali, termasuk ruang pembakaran, kamar-kamar tungku, pintu, dinding serta bagian pendukung lainnya.

Temuan-temuan tersebut memberikan kesempatan kepada delegasi untuk melihat bagaimana produksi keramik dilakukan pada masa dinasti terdahulu dan bagaimana China mempertahankan situs arkeologi tersebut sebagai warisan lintas generasi.

Foto TATOLI/Cidalia Fatima

Bagi para jurnalis ASEAN, kunjungan singkat itu memberikan gambaran bahwa keberhasilan industri keramik Dehua saat ini memiliki akar sejarah produksi yang panjang. 

Tradisi lama menjadi industri global

Sebelum makan siang, delegasi melanjutkan perjalanan ke Shunmei Ceramics Cultural World untuk melihat bagaimana keterampilan tradisional tersebut dikembangkan menjadi industri keramik modern.

Jika peninggalan di museum dan Qudougong menunjukkan perjalanan masa lalu, Shunmei memperlihatkan wajah lain keramik Dehua yang kini mengikuti kebutuhan pasar global.

Para jurnalis melihat berbagai produk yang tidak lagi terbatas pada piring, mangkuk, cangkir atau perlengkapan rumah tangga. Keramik dikembangkan menjadi karakter kartun, dekorasi Natal, suvenir hingga berbagai patung dan ornamen keagamaan, termasuk figur Yesus dan produk bertema Kekristenan.

Business Director Supply Chain Manager Fujian Quanzhou Shunmei Group, Young Zheng, mengatakan perusahaan saat ini menjalin kerja sama dengan pelanggan di lebih dari 100 negara.

“Kami sekarang bekerja sama dengan lebih dari 100 negara,” kata Young Zheng kepada jurnalis.

Ia mengatakan perusahaan mengirim sekitar 200 kontainer produk setiap bulan.

Shunmei sendiri telah mengembangkan inovasi dalam industri keramik dengan sedikitnya 11 paten penemuan, 38 paten utility model dan delapan paten desain. Data sebelumnya juga mencatat pada 2017 perusahaan membukukan ekspor sekitar US$18,48 juta dengan produk menjangkau lebih dari 80 negara serta memiliki kolaborasi yang berkaitan dengan merek hiburan internasional seperti Disney dan Universal.

Menurut Young Zheng, perusahaan tidak memiliki pabrik di luar China karena Dehua dan daerah sekitarnya memiliki bahan baku yang dibutuhkan untuk produksi.

Hasil produksi keramik. Foto TATOLI/Cidalia Fatima

“Kami juga membuat bahan sendiri di kota kami,” ujarnya.

Ketika ditanya TATOLI mengenai kemungkinan produknya masuk ke Timor-Leste, Young Zheng mengatakan dirinya pernah bertemu orang dari Timor-Leste, namun tidak dapat memastikan apakah telah terjadi transaksi pembelian.

Ia menjelaskan perusahaan memiliki banyak tenaga penjualan yang menangani pelanggan masing-masing sehingga dirinya tidak mengetahui seluruh transaksi yang dilakukan. 

Dari Dehua menuju pusat perdagangan maritim

Setelah makan siang, delegasi meninggalkan Dehua dan menempuh perjalanan darat sekitar satu jam 30 menit menuju pusat Kota Quanzhou.

Perjalanan kemudian berlanjut ke Quanzhou Maritime Museum, sebuah museum yang secara khusus merekam sejarah komunikasi luar negeri kuno dan Jalur Sutra Maritim.

Museum tersebut menyimpan sekitar 9.365 benda atau set peninggalan budaya. Koleksinya antara lain mencakup bangkai kapal laut kuno dari Dinasti Song, ukiran batu keagamaan dari masa Song dan Yuan serta porselen ekspor dari berbagai periode.

Masjid di Licheng Quanzhou, China. Foto TATOLI/Cidalia Fatima

Di tempat tersebut, delegasi melihat bagaimana laut menjadi penghubung Quanzhou dengan berbagai wilayah dunia.

Barang-barang yang dibawa kapal dagang hanyalah satu bagian dari perjalanan tersebut. Mobilitas manusia juga membawa bahasa, kepercayaan, budaya dan cara hidup baru ke Quanzhou.

Kedatangan pedagang dari berbagai wilayah, termasuk Arab dan Persia, kemudian ikut membentuk masyarakat multikultural yang jejaknya masih dapat ditemukan di kota itu hingga sekarang.

Quanzhou sendiri memiliki sedikitnya 945 unit peninggalan budaya yang dilindungi pada berbagai tingkat. Pada 2021, “Quanzhou: Emporium of the World in Song-Yuan China” masuk dalam Daftar Warisan Dunia UNESCO. 

Kaiyuan Temple dan jejak Buddhisme

Perjalanan berlanjut ke Kaiyuan Temple, kompleks kuil Buddha yang menjadi salah satu landmark penting Quanzhou.

Berdasarkan informasi yang ditampilkan di lokasi, Kaiyuan Temple pertama kali didirikan pada 686, pada masa Dinasti Tang.

Kuil tersebut awalnya diberi nama Lotus Flower Temple, kemudian mengalami beberapa kali perubahan nama sebelum akhirnya memperoleh nama Kaiyuan pada 738.

Delegasi jurnalis negara-negara ASEAN melakukan kunjungan ke Kaiyuan Temple, kompleks kuil Buddha. Foto TATOLI/Cidalia Fatima

Sejarah lokal juga mengaitkan pendirian kuil dengan sebuah kebun murbei milik Huang Shougong. Menurut tradisi yang diceritakan di kompleks tersebut, Huang bermimpi seorang biksu meminta tanahnya untuk membangun kuil. Ia disebut bersedia memberikan tanah tersebut apabila pohon murbeinya berbunga seperti lotus. Beberapa hari kemudian, pohon itu dikisahkan benar-benar berbunga sehingga tanah tersebut disumbangkan untuk pembangunan kuil.

Pada akhir Dinasti Song pada 1276, Kaiyuan Temple tercatat memiliki 120 cloister yang menampung guru dari berbagai aliran Buddhisme. Pada 1285, pada masa Dinasti Yuan, kompleks tersebut kemudian disatukan menjadi satu kuil Chan.

Kini kompleks Kaiyuan Temple menempati area sekitar 80.000 meter persegi dan dikenal sebagai kuil Buddha terbesar di Provinsi Fujian.

Kaiyuan Temple juga menjadi salah satu dari 22 komponen warisan yang membentuk situs UNESCO “Quanzhou: Emporium of the World in Song-Yuan China.”

Saat delegasi berkunjung, fungsi keagamaan kompleks tersebut masih terlihat jelas. Umat datang untuk bersembahyang, sementara wisatawan berjalan mengelilingi kuil untuk melihat arsitektur dan peninggalan sejarahnya.

Di beberapa sudut, warga lokal terlihat mengenakan pakaian tradisional China dan mengambil foto dengan kompleks bersejarah tersebut sebagai latar.

Perjalanan delegasi kemudian berlanjut dengan menyusuri kawasan kota tua West Street Cultural Block di Distrik Licheng.

Delegasi jurnalis negara-negara ASEAN melakukan kunjungan ke Kaiyuan Temple, kompleks kuil Buddha. Foto TATOLI/Cidalia Fatima

West Street merupakan salah satu kawasan yang berkembang paling awal di Quanzhou dan termasuk kawasan kota tua yang paling terpelihara di pusat kota. Sejarahnya telah berlangsung lebih dari 1.300 tahun, sementara jalan utamanya membentang sekitar 1.700 meter.

Keberagaman Quanzhou semakin terlihat ketika delegasi menyusuri kawasan kota tua dan melihat Qingjing Mosque, peninggalan penting komunitas Muslim yang hidup di Quanzhou pada masa perdagangan maritim.

Berdasarkan informasi yang terdapat di lokasi, Qingjing Mosque awalnya dikenal sebagai Masjid al-Ashab dan dibangun pada 1009, pada masa Dinasti Song Utara.

Masjid tersebut disebut sebagai masjid Islam pertama yang dibangun di Quanzhou.

Pada 1310, seorang peziarah dari Shiraz, Persia, bernama Ahmad Bin Muhammad Quds mendanai restorasi masjid sehingga membentuk tata kompleks yang jejaknya masih bertahan hingga saat ini.

Qingjing Mosque dibangun dengan karakteristik arsitektur Islam. Struktur yang masih tersisa mencakup gerbang, ruang salat, Mingshan Hall, sumur kuno serta sejumlah prasasti yang berkaitan dengan perjalanan sejarah masjid.

Lokasinya di kawasan perdagangan Quanzhou kuno memberikan bukti mengenai keberadaan pedagang Muslim Persia dan Arab yang tinggal dan menjalankan aktivitas perdagangan di Quanzhou pada masa Dinasti Song dan Yuan.

Masjid tersebut juga menjadi salah satu komponen situs “Quanzhou: Emporium of the World in Song-Yuan China” yang merekam keberadaan komunitas multikultural di kota pelabuhan tersebut.

Kompleks kuil Buddha. Foto TATOLI/Cidalia Fatima

Jejak Islam itu menunjukkan bahwa hubungan dagang melalui laut tidak berhenti pada pertukaran barang. Para pedagang yang datang membawa agama, tradisi dan cara hidup mereka, kemudian menjadi bagian dari sejarah sosial Quanzhou.

Di sepanjang perjalanan, delegasi tidak hanya melihat bangunan bersejarah dan aktivitas masyarakat lokal, tetapi juga berkesempatan memasuki sebuah kuil Taoisme.

Sejumlah warga terlihat datang untuk bersembahyang. Berdasarkan penjelasan yang diterima delegasi, sebagian pengunjung membawa harapan pribadi, termasuk memohon keberuntungan, rezeki dan pasangan hidup.

Tradisi tersebut menarik perhatian sejumlah jurnalis. Beberapa peserta mencoba mengikuti pengalaman budaya yang tersedia, sementara sebagian lainnya mencoba aktivitas peramalan di lokasi.

Kunjungan tersebut menjadi salah satu gambaran nyata mengenai keberagaman tradisi keagamaan yang berkembang di Quanzhou.

Dalam perjalanan sehari, delegasi dapat melihat kuil Buddha Kaiyuan, peninggalan Islam Qingjing Mosque serta praktik kepercayaan Taoisme yang masih berlangsung di tengah kehidupan masyarakat. 

Warisan yang tetap hidup

Rangkaian perjalanan pada Senin itu memperlihatkan hubungan antara produksi, perdagangan dan pertukaran budaya yang membentuk Quanzhou selama berabad-abad.

Dehua memperlihatkan bagaimana tanah dan keterampilan masyarakat berkembang menjadi keramik yang kini dipasarkan ke lebih dari 190 negara dan wilayah. Situs Qudougong menjadi bukti akar sejarah produksinya, sementara Shunmei menunjukkan bagaimana warisan tersebut bertransformasi menjadi industri modern yang mengirim ratusan kontainer produk setiap bulan.

Sementara itu, Quanzhou Maritime Museum, Kaiyuan Temple, Qingjing Mosque dan kawasan kota tua menunjukkan sisi lain dari perjalanan tersebut: perdagangan laut membawa tidak hanya barang, tetapi juga manusia dan keyakinan.

Dari keramik berusia ribuan tahun hingga Buddhisme, Islam dan Taoisme yang jejaknya masih dapat ditemukan dalam satu kota, Quanzhou memperlihatkan bagaimana warisan masa lalu tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan perkembangan ekonomi saat ini.

West Street Cultural Block menjadi akhir rangkaian kunjungan delegasi hari itu sebelum para jurnalis menuju C&D Hotel atau Yuehua Hotel di pusat Kota Quanzhou untuk beristirahat.

Pada Selasa, 22 September, delegasi dijadwalkan melanjutkan rangkaian ASEAN Media Workshop dengan mengunjungi Anta Group, sebelum meneruskan perjalanan menuju Kota Xiamen, masih di Provinsi Fujian. 

Reporter: Cidalia Fátima

Editor   : Armandina Moniz

Publisidade

Leave a Reply

Latest Post

error: Content is protected !!