Kardinal Dom Virgílio: Kematian mengingatkan manusia tentang makna dan warisan kehidupan

DILI, 10 September 2026 (TATOLI) – Uskup Agung Dili, Dom Virgílio Kardinal do Carmo da Silva mengatakan kesadaran akan kematian seharusnya tidak membawa manusia kepada ketakutan, tetapi mendorong setiap orang untuk merenungkan makna kehidupan dan warisan yang akan ditinggalkan setelah meninggal dunia.
Kardinal menyampaikan refleksi tersebut saat memimpin Misa penghormatan terakhir kepada empat prelatus Gereja Katolik di Esplanada Tasi-Tolu, Dili, Kamis.
Di hadapan umat, Kardinal mengarahkan perhatian pada empat peti jenazah yang berada di lokasi Misa. Menurutnya, apa yang tersisa dari tubuh manusia setelah kematian memperlihatkan kerapuhan kehidupan fisik.
“Di dalam peti ini hanya ada abu dan tulang. Ini menunjukkan kerapuhan dan kefanaan manusia,” kata Kardinal Dom Virgílio.
Menurutnya, tubuh manusia memiliki keterbatasan. Tubuh yang selama hidup dirawat dan dihargai pada akhirnya akan menua, kemudian kembali menjadi bagian dari tanah.
Kenyataan tersebut mengingatkan manusia bahwa keberadaan fisik tidak bersifat kekal.
“Kematian memanggil kita untuk menyadari bahwa kita tidak akan hidup selamanya. Keberadaan fisik manusia tidak kekal. Hari ini kita ada, tetapi besok keadaan dapat berubah,” ujarnya.
Namun, Kardinal menegaskan kesadaran terhadap kematian bukan alasan bagi manusia untuk hidup dalam ketakutan.
Sebaliknya, kenyataan tersebut menjadi panggilan untuk melakukan refleksi yang lebih dalam mengenai tujuan hidup.
“Kesadaran akan kematian bukan untuk membawa kita kepada ketakutan, tetapi memanggil kita untuk melakukan refleksi mendalam tentang makna kehidupan dan bertanya kepada diri kita sendiri: nilai apa yang kita gunakan dalam kehidupan ini dan warisan apa yang akan kita tinggalkan ketika kita sudah tidak ada?” katanya.
Menurut Kardinal, manusia tidak hanya memiliki dimensi fisik. Kehidupan spiritual memberikan makna terhadap keberadaan manusia dan menggerakkan seseorang untuk mengasihi Tuhan serta peduli terhadap sesama ciptaan.
Karena itu, sesuatu yang ditinggalkan setelah kematian tidak selalu harus berbentuk harta atau pencapaian material.
Manusia dapat meninggalkan warisan berupa harapan, kebaikan, kasih dan pelayanan kepada sesama.
Kardinal mengatakan setiap orang memiliki panggilan untuk meninggalkan sesuatu yang berguna bagi generasi setelahnya, terutama warisan spiritual dan perbuatan baik.
Ia juga mengingatkan bahwa kematian membuat manusia menyadari keterbatasan nilai kekayaan, pencapaian maupun ketenaran.
Pada akhirnya, segala sesuatu yang dikumpulkan selama hidup akan ditinggalkan.
Kesadaran itu, menurutnya, seharusnya membantu manusia melepaskan kesombongan dan menyadari bahwa kehidupan tidak dijalani hanya untuk diri sendiri.
“Kita belajar melepaskan kesombongan dan menerima sesama sebagai saudara agar kita mengetahui bagaimana saling mengasihi,” katanya.
Kardinal menilai kehidupan empat prelatus yang mendapat penghormatan pada hari itu memberikan contoh mengenai warisan yang tetap hidup setelah seseorang meninggal dunia.
Mereka telah meninggalkan pelayanan pastoral, pendidikan, perbuatan baik dan karya kasih yang masih dapat dikenang masyarakat.
Karena itu, penghormatan terakhir kepada empat prelatus juga menjadi kesempatan bagi setiap umat untuk bertanya kepada dirinya sendiri mengenai apa yang sedang dibangun selama hidup dan apa yang kelak akan ditinggalkan bagi orang lain.
Empat prelatus yang mendapat penghormatan tersebut adalah Dom Jaime Garcia Goulart, Dom José Joaquim Ribeiro, Monsinyur Martinho da Costa Lopes dan Dom Alberto Ricardo da Silva.
Reporter: Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz

