Gereja dan Pemerintah Timor-Leste resmikan Monumen Paus Yohanes Paulus II

DILI, 9 September 2026 (TATOLI)— Pemerintah Timor-Leste bersama Gereja Katolik, pada Rabu (09/09) sore meresmikan Monumen Santo Yohanes Paulus II dan Uma-Lisan di Tasi-Tolu, Dili, sebagai upaya melestarikan dan menghargai warisan, dan sejarah Timor-Leste terkait kunjungan Paus Yohanes Paulus II ke Tasi-Tolu pada bulan Oktober 1989.
Peresmian Monumen Santo Yohanes Paulus II dilakukan oleh Perdana Menteri (PM) Kay Rala Xanana Gusmão, Uskup Agung Keuskupan Agung Metropolitan Dili sekaligus Ketua Konferensi Waligereja Timor (CET), Kardinal Dom Virgílio do Carmo da Silva, SDB, Uskup Keuskupan Baucau, Dom Leandro Maria Alves, dan Uskup Keuskupan Maliana, Dom Norberto Amaral.
Sebelumnya, melakukan peresmian, Uskup Agung Keuskupan Agung Metropolitan Dili sekaligus Ketua CET, Kardinal Dom Virgílio terlebih dahulu memberkati Monumen Santo Yohanes Paulus II. Acara peresmian dan pemberkatan tersebut diawali dengan ibadah Sabda yang dipimpin oleh Kardinal Virgílio do Carmo da Silva.
Pemerintah Timor-Leste dan Gereja Katolik bersama-sama mengambil inisiatif untuk merehabilitasi dan merekonstruksi Taman Monumen Santo Yohanes Paulus II guna melestarikan serta menghargai situs bersejarah yang memiliki makna penting bagi masyarakat dan umat Kristiani Timor, mengingat tempat tersebut menjadi lokasi kunjungan Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1989 untuk memimpin Misa Ekaristi Kudus.

Setelah pemberkatan Monumen tersebut, Perdana Menteri Kay Rala Xanana Gusmão, dalam pidatonya memberikan penghormatan kepada mereka yang telah tiada dan kepada Gereja.
“Tahun ini kita semua bersukacita dengan berbagai cara serta memberikan penghormatan kepada mereka yang telah tiada dan kepada Gereja. Seluruh rakyat Timor memberikan penghormatan kepada Gereja Katolik atas perannya dalam sejarah budaya dan bahasa di Timor—sebuah sejarah yang penuh tantangan, namun dijalani dengan keberanian dan komitmen besar untuk membawa umat kepada Tuhan, di mana para imam datang dari luar negeri dan pergi ke berbagai penjuru untuk mengajarkan katekismus kepada semua orang,” kata PM Xanana.
Perdana Menteri menjelaskan bahwa pada masa lalu pemerintah Portugis tidak membangun sekolah di Timor, namun pihak Gereja-lah yang mendirikan sekolah bagi masyarakat Timor; para guru pun berangkat dari Soibada dengan misi untuk terus mengajarkan bahasa Tetum, karena Tetum merupakan bahasa yang sangat mudah dipelajari oleh siapa saja.
PM Xanana juga mengingatkan kaum muda akan peran budaya dan keagamaan yang telah dijalankan oleh Gereja Katolik di Timor-Leste di masa lampau.

“Ini adalah kisah yang tidak mudah untuk diceritakan, karena mereka memiliki keberanian dan komitmen yang luar biasa,” ujar PM di Tasi-Tolu.
Tasi-Tolu merupakan simbol bersejarah bagi rakyat dan negara ini karena kunjungan Paus Yohanes Paulus II ke Tasi-Tolu menjadi bagian penting dalam ingatan masyarakat Timor-Leste. Tasi-Tolu bukan sekadar tempat untuk perayaan Misa, melainkan tempat yang mempertautkan iman, identitas, penderitaan, dan harapan rakyat Timor-Leste.
Selain itu, Taman Monumen tersebut telah menjadi simbol nasional dan ikon wisata penting yang merepresentasikan sejarah, iman, dan identitas masyarakat Timor.
Taman tersebut dinamakan Yohanes Paulus II untuk mengenang kunjungan Paus Yohanes Paulus II ke Timor-Leste pada tahun 1989, di masa pendudukan Indonesia.
Dimana, pada kunjungan bersejarah tersebut, Paus Yohanes Paulus II memimpin Misa di Tasi-Tolu, sebuah peristiwa yang sangat bermakna bagi rakyat Timor-Leste.
Tim TATOLI

