BCTL : Bunga kredit Timor-Leste masih tinggi di atas 10 persen

DILI, 10 September 2026 (TATOLI) – Bank Sentral Timor-Leste (BCTL) menilai suku bunga kredit perbankan di Timor-Leste masih relatif tinggi, meskipun menunjukkan tren penurunan secara bertahap dalam beberapa tahun terakhir.
Dalam laporan Timor-Leste 2026 Mid-Year Economic Review, BCTL mencatat rata-rata suku bunga pinjaman sektor perbankan turun dari sekitar 10,8 persen pada Desember 2022 menjadi sekitar 10,2 persen pada Juni 2026. Penurunan sekitar 0,6 poin persentase tersebut menunjukkan biaya pinjaman bergerak turun, namun dalam tingkat yang relatif terbatas.
BCTL menjelaskan, penurunan suku bunga berlangsung secara bertahap dan bukan secara drastis. Kondisi tersebut menunjukkan bank-bank komersial secara perlahan menyesuaikan tingkat bunga pinjaman di tengah likuiditas yang melimpah dalam sistem perbankan, kondisi makroekonomi yang stabil, serta tekanan inflasi yang relatif rendah.
Meski demikian, BCTL menegaskan bahwa suku bunga pinjaman yang masih berada di atas 10 persen tetap menjadi biaya pembiayaan yang relatif tinggi bagi rumah tangga maupun dunia usaha.
“Terlepas dari perbaikan ini, suku bunga pinjaman tetap di atas 10 persen, yang terus menjadi biaya pembiayaan yang relatif tinggi bagi rumah tangga dan bisnis,” demikian BCTL dalam laporan tersebut.
Menurut BCTL, penurunan suku bunga yang relatif kecil tersebut belum tentu cukup untuk mendorong peningkatan pinjaman sektor swasta secara signifikan ataupun mempercepat proses intermediasi keuangan di dalam negeri.
Lembaga tersebut mengidentifikasi sejumlah kendala struktural yang dinilai lebih berpengaruh terhadap pertumbuhan kredit, termasuk risiko kredit yang tinggi, terbatasnya proyek yang layak mendapatkan pembiayaan bank, lemahnya kerangka jaminan atau agunan, serta belum beragamnya saluran pembiayaan.
Di sisi lain, tingkat bunga simpanan perbankan tercatat jauh lebih rendah. BCTL mencatat bunga deposito berjangka selama periode Desember 2022 hingga Juni 2026 hanya bergerak pada kisaran 0,65 hingga 0,68 persen, dan berada di sekitar 0,68 persen pada akhir periode tersebut.
Perbedaan yang lebar antara bunga pinjaman yang berada di atas 10 persen dan bunga simpanan di bawah satu persen menunjukkan biaya intermediasi keuangan di Timor-Leste masih relatif tinggi. BCTL menjelaskan bahwa sebagian kesenjangan tersebut berkaitan dengan biaya operasional, risiko kredit, kebutuhan pencadangan, serta skala sistem keuangan Timor-Leste yang masih kecil. Namun, kondisi itu sekaligus menunjukkan bahwa melimpahnya likuiditas di sistem perbankan belum menghasilkan penurunan biaya pinjaman secara proporsional.
BCTL juga mencatat tingkat bunga simpanan giro atau demand deposit rata-rata hanya sekitar 0,13 persen, dengan perubahan yang relatif kecil selama periode laporan. Rendahnya imbal hasil simpanan tersebut mencerminkan tingginya ketersediaan likuiditas di sektor perbankan dan terbatasnya persaingan antarbank dalam menghimpun tambahan dana masyarakat.
Sementara itu, laporan BCTL menunjukkan bahwa sistem perbankan Timor-Leste sebenarnya memiliki likuiditas yang cukup besar. Total aset perbankan meningkat 19,5 persen secara tahunan menjadi sekitar US$3 miliar pada Juni 2026. Namun, sebagian besar pertumbuhan aset tersebut berasal dari penempatan dana pada bank lain, sementara pertumbuhan pinjaman memberikan kontribusi yang lebih kecil.
Kondisi tersebut menunjukkan tantangan sektor keuangan Timor-Leste tidak hanya terletak pada ketersediaan dana, tetapi juga pada kemampuan sistem perbankan untuk menyalurkan likuiditas yang tersedia menjadi kredit domestik secara efektif.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz

