DILI, 24 Juli 2026 (TATOLI) – Kopi tetap menjadi komoditas pertanian terpenting di Timor-Leste. Selain menjadi penyumbang utama ekspor nonmigas, sektor ini juga menjadi sumber mata pencaharian bagi lebih dari 60.000 keluarga petani yang tersebar di berbagai wilayah pedesaan.
Menteri Pertanian, Peternakan, Perikanan, dan Kehutanan (MAPPF), Marcos da Cruz, mengatakan kopi memiliki posisi yang sangat penting dalam sejarah, perekonomian, dan identitas nasional Timor-Leste. Selama beberapa generasi, komoditas tersebut telah menopang kehidupan masyarakat pedesaan, menghasilkan devisa melalui ekspor, sekaligus menghubungkan Timor-Leste dengan pasar internasional.
“Saat ini kopi masih menjadi komoditas ekspor pertanian terpenting Timor-Leste dan menjadi sumber penghidupan bagi lebih dari 60.000 keluarga petani,” ujar Marcos dalam seremoni penandatanganan hibah tambahan Coffee and Agroforestry Livelihood Improvement Project (CALIP) di Auditorium Kay Rala Xanana Gusmão, Kementerian Keuangan, Dili, Jumat ini.
Ia menjelaskan bahwa nilai strategis kopi tidak hanya diukur dari kontribusinya terhadap ekonomi nasional. Sebagian besar perkebunan kopi di Timor-Leste dibudidayakan di bawah naungan pepohonan dalam sistem agroforestri yang turut menjaga keanekaragaman hayati, melindungi sumber daya air, meningkatkan kesuburan tanah, mengurangi erosi, serta memperkuat ketahanan terhadap dampak perubahan iklim.
“Berinvestasi di sektor kopi berarti bukan hanya berinvestasi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pedesaan, tetapi juga untuk menjamin pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan,” katanya.
Meski memiliki potensi besar, Marcos mengakui sektor kopi nasional masih menghadapi berbagai tantangan. Banyak kebun kopi terdiri atas tanaman yang sudah tua sehingga produktivitasnya terus menurun. Di sisi lain, petani masih mengalami keterbatasan akses terhadap bibit unggul, teknologi budidaya modern, mekanisasi, fasilitas pascapanen, serta akses pembiayaan dan pasar.
Ia menambahkan, perubahan iklim, serangan hama dan penyakit tanaman, serta lemahnya keterhubungan dengan pasar turut membatasi produktivitas dan daya saing kopi Timor-Leste. Menurutnya, persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan melalui program yang bersifat parsial, melainkan membutuhkan strategi jangka panjang yang didukung investasi berkelanjutan dan kemitraan yang kuat.
Karena itu, pemerintah menjadikan revitalisasi sektor kopi sebagai salah satu prioritas nasional. Melalui tambahan pendanaan CALIP, pemerintah akan mempercepat rehabilitasi kebun kopi yang sudah tua, memperluas budidaya kopi berbasis agroforestri yang tahan terhadap perubahan iklim, meningkatkan produksi bibit berkualitas, memperkuat kualitas kopi dan penanganan pascapanen, serta memperbaiki sistem pemasaran dan rantai nilai kopi.
Selain itu, program tersebut juga akan memperkuat penelitian pertanian, layanan penyuluhan, peningkatan kapasitas petani, serta mendorong investasi sektor swasta guna meningkatkan daya saing kopi Timor-Leste di pasar regional maupun internasional.
Marcos optimistis berbagai investasi tersebut akan meningkatkan produksi dan mutu kopi, menciptakan lebih banyak lapangan kerja, mendorong pertumbuhan ekonomi pedesaan, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah penghasil kopi.
“Penandatanganan hari ini bukan sekadar investasi untuk sektor kopi. Ini adalah investasi bagi para petani, masyarakat pedesaan, hutan, perekonomian, dan masa depan Timor-Leste,” tegasnya.
Ia berharap seluruh pemangku kepentingan dapat terus bekerja sama membangun sektor kopi yang lebih produktif, kompetitif, tangguh terhadap perubahan iklim, berkelanjutan secara lingkungan, dan diakui dunia karena kualitasnya.
“Mari kita pastikan kopi Timor-Leste terus menjadi sumber kebanggaan nasional sekaligus penggerak kemakmuran bagi generasi sekarang dan generasi yang akan datang,” pungkas Marcos.
Reporter : Cdalia Fátima
Editor : Armandina Moniz




