iklan

HEADLINE

Selamat Jalan Lú Olo, Sang Pejuang kini beristirahat di TMP Metinaru

Selamat Jalan Lú Olo, Sang Pejuang kini beristirahat di TMP Metinaru

Proses pemakaman mantan Presiden Republik Timor-Leste, Francisco Guterres Lú Olo, di Taman Makam Pahlawan (TMP) Metinaru, Jumat (26/06). Foto TATOLI

DILI, 26 Juni 2026 (TATOLI) – Matahari mulai condong ke barat ketika iring-iringan kendaraan militer F-FDTL yang membawa jenazah mantan Presiden Republik Timor-Leste, Francisco Guterres Lú Olo, akhirnya memasuki kawasan Taman Makam Pahlawan (TMP) Metinaru, Jumat (26/06), sekitar pukul 15.00 waktu setempat.

Perjalanan dari Parlemen Nasional menuju TMP yang seharusnya hanya memakan waktu singkat berubah menjadi hampir dua jam. Ribuan masyarakat telah memenuhi setiap sisi jalan sejak pagi, menunggu kesempatan terakhir untuk mengucapkan selamat jalan kepada salah satu tokoh terbesar dalam sejarah perjuangan bangsa Timor-Leste.

Sesampainya di Metinaru, kawasan yang biasanya tenang berubah menjadi lautan manusia. Ribuan pelayat mengenakan kaos bergambar Lú Olo, atribut Partai FRETILIN, serta mengibarkan bendera merah-hitam partai yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari perjalanan politik mendiang.

Begitu mobil jenazah memasuki kompleks TMP, pekikan “A Luta Continua!” menggema dari ribuan suara yang hadir. Seruan itu menjadi simbol bahwa perjuangan yang diwariskan Lú Olo diyakini akan terus hidup di hati rakyat Timor-Leste.

Prosesi dilanjutkan dengan pembacaan riwayat hidup mendiang serta pesan keluarga yang disampaikan oleh putrinya, Dalia. Setelah itu, Uskup Emeritus Dom Leandro Maria Alves memberikan doa serta memberkati liang makam sebelum peti jenazah diturunkan ke peristirahatan terakhir.

Liang makam telah dihiasi kain berwarna menyerupai bendera nasional Timor-Leste, seolah menyambut kepulangan seorang pejuang yang telah mengabdikan hampir seluruh hidupnya bagi bangsa.

Sekitar 20 prajurit F-FDTL mengawal proses pemakaman dengan penuh kehormatan. Setelah peti jenazah diturunkan ke dalam liang lahat, 12 anggota pasukan kehormatan mengangkat senjata dan melepaskan salvo ke udara sebagai penghormatan militer terakhir.

Dentuman tembakan itu langsung disambut pekikan ribuan masyarakat.

“Viva Lú Olo! Viva FRETILIN!” terdengar bersahut-sahutan memenuhi kawasan TMP Metinaru.

Namun, di balik penghormatan militer tersebut, tersimpan duka yang begitu mendalam.

Dari kejauhan terlihat istri mendiang memeluk erat anak-anaknya sambil mengusap foto sang suami yang berada di pelukannya. Air mata terus mengalir tanpa henti. Kondisinya yang masih lemah tampak jelas dari bekas infus yang masih melekat di tangan kirinya. Beberapa kali tubuhnya kehilangan keseimbangan hingga harus ditopang oleh anak-anaknya.

Suasana menjadi semakin haru ketika keluarga dipersilakan menggenggam segenggam tanah untuk kemudian menjatuhkannya ke atas peti jenazah.

Tangis keluarga pecah. Banyak pelayat yang tak lagi mampu menahan air mata. Isak tangis terdengar dari berbagai sudut, sementara sebagian masyarakat berteriak memanggil nama Lú Olo untuk terakhir kalinya.

Perlahan-lahan liang makam mulai ditutup.

Di tengah keheningan itu, lagu “Maubere Oan” mengalun mengiringi prosesi penutupan makam. Lagu yang begitu lekat dengan perjalanan sejarah bangsa Timor-Leste membuat suasana berubah semakin hening. Banyak warga hanya mampu menundukkan kepala, sementara yang lain terus meneteskan air mata.

Usai pemakaman, Presiden Republik José Ramos-Horta menyerahkan langsung bendera nasional Timor-Leste kepada putra kedua mendiang, Eldinho Nobre Guterres.

Sementara itu, Kepala Staf Umum F-FDTL, Letnan Jenderal Domingos Raúl “Falur Rate Laek” menyerahkan bendera FALINTIL kepada putra ketiga mendiang, didampingi oleh Lere Anan Timur dan Taur Matan Ruak sebagai simbol penghormatan terakhir dari keluarga besar perjuangan kemerdekaan.

Mewakili keluarga, Domingos Guterres menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh masyarakat, relawan, aparat keamanan, pemerintah, berbagai institusi, serta semua pihak yang selama hampir satu minggu bergotong royong menyukseskan seluruh rangkaian penghormatan terakhir bagi Lú Olo.

“Namanya akan selalu dikenang. Semoga apa yang telah ia bangun dapat diteruskan oleh generasi selanjutnya. Ia adalah orang yang adil dan jujur,” ujarnya.

Domingos juga mengajak seluruh elemen bangsa untuk melanjutkan semangat persatuan yang diwariskan mendiang.

Ia berharap sistem kesehatan nasional terus diperbaiki, khususnya untuk menjamin pelayanan bagi para veteran yang telah berjuang demi kemerdekaan Timor-Leste.

Kepada para pemimpin politik dan seluruh simpatisan FRETILIN, ia juga berpesan agar terus menjaga kesabaran dan perdamaian sebagaimana yang selalu dicontohkan Lú Olo.

“Lebih baik bersahabat daripada bermusuhan,” katanya.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal FRETILIN sekaligus mantan Perdana Menteri Mari Alkatiri mengatakan pemakaman Lú Olo di Taman Makam Pahlawan merupakan bentuk penghormatan yang pantas diberikan kepada seorang pejuang kemerdekaan.

Menurutnya, keberadaan TMP bukan sekadar tempat pemakaman, tetapi ruang sejarah agar pengorbanan para pejuang terus dikenang oleh generasi mendatang.

Alkatiri juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah, seluruh institusi negara, masyarakat, serta semua pihak yang telah memberikan penghormatan terbaik kepada Lú Olo hingga akhir hayatnya.

Dalam pidato kenegaraannya, Presiden Republik José Ramos-Horta menyebut kepergian Lú Olo sebagai kehilangan besar bagi bangsa Timor-Leste.

“Lú Olo adalah seorang kepala negara, pejuang kemerdekaan, pemimpin politik, dan simbol hidup perjuangan bangsa,” kata Presiden.

Ramos-Horta mengatakan nama Lú Olo akan selalu dikenang sebagai bagian dari generasi yang memperjuangkan kemerdekaan ketika segala sesuatu tampak mustahil.

Menurut Presiden, Lú Olo mengajarkan bahwa kebebasan bukanlah hadiah, melainkan hasil dari pengorbanan, keberanian, pertumpahan darah, dan ketekunan.

Ia berharap sosok Lú Olo akan terus menjadi inspirasi bagi generasi muda Timor-Leste untuk terus menjaga cita-cita kemerdekaan dan membangun negara.

Mengutip Kitab Pengkhotbah, Presiden mengatakan bahwa debu akan kembali ke bumi dan roh akan kembali kepada Allah yang telah memberikannya.

“Beristirahatlah dalam damai, Putra Timor-Leste. Rakyatmu tidak akan pernah melupakanmu,” tutup Ramos-Horta.

Setelah pidato Presiden, prosesi penghormatan ditutup dengan penaburan bunga oleh keluarga, para pejabat negara, veteran, tokoh masyarakat, dan ribuan pelayat yang masih bertahan di kawasan TMP.

Satu per satu mereka meninggalkan Taman Makam Pahlawan Metinaru. Namun bagi bangsa Timor-Leste, kepergian Francisco Guterres Lú Olo bukanlah akhir dari sebuah perjuangan. Namanya akan terus hidup dalam sejarah sebagai pejuang kemerdekaan, negarawan, dan salah satu putra terbaik yang pernah dimiliki negeri ini.

Reporter : Cidalia Fátima

Editor   : Armandina Moniz

 

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!