DILI, 23 Juni 2026 (TATOLI) – Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Koordinator Bidang Sosial dan Menteri Pembangunan Pedesaan dan Perumahan Masyarakat, Mariano Assanami Sabino, mengenang mendiang mantan Presiden Republik, Francisco Guterres Lú Olo, sebagai sosok pemimpin yang sederhana, dekat dengan rakyat, namun tetap teguh memegang prinsip dan nilai-nilai perjuangan.
Pernyataan tersebut disampaikan Mariano Sabino usai memberikan penghormatan terakhir kepada mendiang Lú Olo di kediamannya di Farol, Dili.
Mariano mengisahkan bahwa dirinya telah mengenal nama Lú Olo sejak masa perjuangan kemerdekaan. Namun, pertemuan langsung dengan tokoh FRETILIN tersebut terjadi menuju persiapan referendum tahun 1999 ketika ia bersama sejumlah aktivis muda terlibat dalam mobilisasi dan pengorganisasian untuk melakukan demo.
Menurut Mariano, kesan pertama yang ia peroleh dari Lú Olo adalah sosok pemimpin gerilya yang sederhana tetapi memiliki pesan dan visi yang kuat bagi generasi muda.
“Saat itu saya melihat beliau sebagai seorang pemimpin gerilya yang sangat sederhana. Namun setiap pesan yang disampaikannya selalu kuat dan mendorong kaum muda untuk mengambil tanggung jawab dalam melanjutkan perjuangan bangsa,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa setelah wafatnya Nino Konis Santana, Lú Olo menjadi salah satu tokoh yang melanjutkan kepemimpinan perjuangan dan arah politik FRETILIN. Dalam berbagai kesempatan, Lú Olo terus mendorong generasi muda untuk berani tampil sebagai penerus perjuangan bangsa.
Mariano juga mengenang percakapannya dengan Lú Olo ketika dirinya bersama mendiang Fernando “Lasama” de Araújo membentuk Partai Demokrat (PD). Saat itu, Lú Olo berharap keduanya tetap berada di FRETILIN karena dianggap sebagai bagian dari generasi penerus partai tersebut.
Meski akhirnya memilih mendirikan PD, Mariano mengatakan hubungan mereka tetap terjalin baik dan penuh rasa saling menghormati.
“Beliau ingin kami tetap berada di FRETILIN, tetapi kami memilih membangun Partai Demokrat sebagai bagian dari perjuangan untuk memperkuat demokrasi. Meski demikian, hubungan kami tetap baik karena tujuan kami sama, yaitu membangun Timor-Leste,” ujarnya.
Mariano menilai salah satu karakter kuat Lú Olo adalah kemampuannya mendengarkan berbagai pandangan, termasuk dari pihak yang berbeda secara politik. Hal itu terlihat ketika dirinya berada di parlemen saat Lú Olo menjabat sebagai Ketua Parlamen Nasional.
Menurutnya, Lú Olo selalu memberikan ruang bagi anggota parlemen untuk menyampaikan pendapat dan kontribusi dalam berbagai perdebatan politik.
“Beliau adalah pemimpin yang mau mendengar. Ketika kami mengangkat tangan untuk berbicara, beliau selalu memberi kesempatan dan ingin mengetahui apa yang bisa kami sumbangkan dalam diskusi,” katanya.
Namun demikian, Mariano menegaskan bahwa sikap terbuka tersebut tidak mengurangi ketegasan Lú Olo dalam mengambil keputusan. Jika suatu keputusan telah ditetapkan berdasarkan prinsip dan kepentingan yang lebih besar, Lú Olo akan mempertahankannya dengan konsisten.
“Beliau sederhana tetapi tegas. Jika suatu keputusan sudah diambil demi kepentingan organisasi atau negara, maka keputusan itu harus dijalankan,” ujarnya.
Selain dikenal sebagai pemimpin yang tegas, Mariano menilai Lú Olo memiliki pandangan kenegaraan yang kuat. Menurutnya, mendiang selalu mengingatkan bahwa negara harus melayani seluruh rakyat tanpa membedakan latar belakang politik.
“Beliau selalu menekankan bahwa negara adalah milik semua warga negara, bukan hanya milik partai tertentu. Itulah pesan persatuan yang terus beliau bawa,” katanya.
Mariano juga mengajak generasi muda, khususnya kader FRETILIN dan organisasi politik lainnya, untuk meneladani karakter kepemimpinan Lú Olo yang mengedepankan persatuan, kesederhanaan, dan pengabdian kepada negara.
Ia menegaskan bahwa meskipun Lú Olo telah berpulang dan akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, nilai-nilai perjuangan serta prinsip kepemimpinannya harus terus diwariskan kepada generasi penerus.
“Kita semua merasa kehilangan. Namun saya percaya generasi muda akan melanjutkan prinsip, gagasan, dan karakter kepemimpinan beliau. Warisan terbesar yang ditinggalkan Lú Olo adalah semangat pengabdian kepada bangsa dan persatuan rakyat Timor-Leste,” tuturnya.
Reporter: Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz




