Presiden Ramos-Horta luncurkan buku “Cinquenta Anos de Independência”

DILI, 10 Agustus 2026 (TATOLI)— Presiden Republik, José Ramos-Horta, pada Senin ini, meluncurkan buku berjudul “Cinquenta Anos de Independência” (Lima Puluh Tahun Kemerdekaan) yang ditulis oleh dosen dari Universitas Nasional Lorosa’e (UNTL).
Peluncuran buku setebal 407 halaman itu dicetak oleh Airlangga University Press yang ditulis dalam bahasa Portugis oleh dosen UNTL yaitu, Aurélio Sérgio Cristøvão Guterres, Amândio de Araújo Sarmento, Ivo Mateus Conçalves da Cruz Fernandes, Janio Tilman dan José António Lourenço da Costa. Peluncuran buku tersebut dilakukan Istana Kepresidenan Nicolau Lobato, Bairru Pite, Dili.
“Selamat kepada para penulis buku ini. Hampir lima orang yang menulisnya. Ini merupakan kontribusi penting bagi sejarah 50 tahun kemerdekaan kita,” ujar Presiden Republik, José Ramos-Horta, kepada para wartawan usai peluncuran buku tersebut.
Ia menjelaskan bahwa buku yang memiliki sub judul “ “Uma Reflexão Nacional Sobre a Trajetória de Timor-Leste: Recordando do Passado e Projetando o Futuro” (Refleksi Nasional tentang Arah Perjalanan Timor-Leste: Mengenang Masa Lalu dan Memproyeksikan Masa Depan) ini penting untuk dibaca dan dipelajari oleh generasi muda Timor-Leste.
“Buku seperti ini sangat penting untuk dibaca dan dipelajari oleh kaum muda kita. Ini juga merupakan bagian dari pelatihan kepemimpinan yang kita pelajari dari sejarah. Buku ini mengajak kita untuk mengenang kembali kisah-kisah masa lalu,” ujarnya.
Kepala Negara menegaskan bahwa buku tersebut ditulis oleh kalangan akademisi, sehingga penyusunannya dilakukan dengan ketelitian ilmiah dan penuh tanggung jawab.
“Buku ini mencakup segalanya. Tidak hanya soal diplomasi, tetapi terutama mengenai penataan negara,” ujarnya.
Di tempat yang sama, perwakilan dari kelima penulis, Aurélio Sérgio Cristóvão Guterres, menyampaikan bahwa motivasi penulisan buku ini karena Timor-Leste baru saja merayakan 50 tahun kemerdekaan yang mencakup berbagai aspek.
“Dalam rangka perayaan 50 tahun kemerdekaan, kami berupaya melihat keseluruhan proses dari berbagai aspek—mulai dari ekonomi, sejarah, politik, dan diplomasi, hingga peran kaum muda, serta dari masa perjuangan hingga saat ini,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa tim penulis menyusun buku tersebut berdasarkan wawancara dengan para tokoh nasional Timor-Leste.
“Untuk buku ini, kami mewawancarai hampir seluruh tokoh nasional kami. Tujuannya adalah untuk melakukan refleksi serta meninjau kembali apa yang telah kami capai dan tantangan apa yang kami hadapi selama 50 tahun ini,” katanya.
Ia juga menjelaskan bahwa buku tersebut mencakup tiga aspek: akademis, kelembagaan, dan kebijakan publik.
“Kami memberikan rekomendasi mengenai cara memajukan kontribusi generasi muda bagi negara ini, dengan meninjau masa lalu, masa kini, dan masa depan,” ujarnya.
Buku tersebut direncanakan untuk dijual kepada masyarakat umum dengan harga tertentu, serta kepada para pelajar dengan harga khusus sebesar $10.
Rektor Universitas Nasional Timor Lorosa’e (UNTL), Joviano António da Costa, menyatakan bahwa buku tersebut mengungkapkan bahwa Proklamasi Kemerdekaan Timor-Leste bukan sekadar tonggak sejarah, melainkan juga wujud perlawanan demi martabat serta pengorbanan demi kebebasan.
“Buku ini menegaskan kembali ketangguhan suatu bangsa yang mengubah penderitaan menjadi harapan, perlawanan menjadi martabat, dan pengorbanan menjadi kebebasan. Tanggal 28 November 1975 tetap menjadi momen penentu bagi penentuan nasib sendiri dan keberanian, yang mengingatkan kita bahwa kemerdekaan tidak sekadar diperoleh, melainkan direbut melalui perjuangan berbagai generasi yang meyakini kedaulatan,” itulah sekilas yang disampaikan Rektor UNTL itu dalam Pengantar Buku tersebut.
Selama lima dekade terakhir, ujarnya, perjalanan bangsa ini telah dipandu oleh ingatan hidup akan semangat perlawanan serta nilai-nilai abadi berupa persatuan, keadilan, solidaritas, dan pengorbanan.
Prinsip-prinsip ini bukan sekadar milik masa lalu; nilai-nilai tersebut terus menjadi pedoman etis dalam membentuk masa kini dan merancang masa depan. Melestarikan warisan ini berarti memastikan bahwa fondasi identitas nasional kita tidak melemah, melainkan terus diperbarui dari generasi ke generasi.
Dalam proses ini, kaum muda dan akademisi memegang peran sentral sebagai agen perubahan. Kaum muda memiliki tanggung jawab untuk melestarikan dan menafsirkan kembali warisan nasionalisme, serta mewujudkannya dalam bentuk inovasi, pembangunan, dan partisipasi aktif sebagai warga negara.
Perguruan tinggi mendorong pemikiran kritis, menghasilkan pengetahuan, dan menumbuhkan kesadaran sejarah, guna memastikan bahwa kemerdekaan tetap menjadi sebuah upaya yang hidup dan terus berkembang, yang diwujudkan melalui keadilan sosial dan kemajuan bangsa.
Presiden Republik, José Ramos-Horta, menulis pesan dalam buku tersebut dengan menyatakan bahwa peringatan hari jadi Proklamasi Kemerdekaan Timor-Leste menandai sejarah pengorbanan sekaligus mengukuhkan takdir Timor-Leste.
“Dengan rasa bangga dan tanggung jawab yang mendalam, saya turut serta dalam peringatan lima puluh tahun Proklamasi Kemerdekaan Timor-Leste.
Ia menambahkan, ini bukan sekadar momen untuk mengenang, melainkan juga saat untuk melakukan refleksi bersama—menghargai masa lalu dengan penuh rasa syukur serta menatap masa depan dengan harapan.
Buku “Cinquenta Anos de Independência” merupakan bukti nyata kedewasaan politik, sosial, dan budaya negara Timor-Leste.
Hal ini menyatukan berbagai suara, kenangan, dan perspektif yang menangkap esensi perjalanan Timor-Leste: keberanian untuk melawan, tekad untuk membangun kembali, dan komitmen teguh demi kepentingan bersama. Ini menegaskan dedikasi kuat Timor-Leste terhadap kebebasan, keadilan, dan kemajuan yang berkelanjutan.
Mulai dari Proklamasi tahun 1975 hingga konsolidasi tata kelola negara hukum yang demokratis, rakyat Timor telah menunjukkan ketangguhan yang luar biasa. Timor-Leste telah berhasil mengatasi berbagai kesulitan berat dan menegaskan identitas kedaulatannya di hadapan masyarakat internasional.
Saat ini, Timor-Leste dipanggil untuk menghormati warisan ini, tidak hanya melalui kata-kata, tetapi juga melalui tindakan nyata yang mendorong tata kelola pemerintahan yang baik, inklusi sosial, pendidikan berkualitas, dan pembangunan berkelanjutan.
Publikasi buku ini dapat menginspirasi generasi baru untuk mempelajari sejarah nasional, mengakui perjuangan para pahlawan yang kerap terlupakan, serta berpartisipasi aktif dalam membangun Timor-Leste yang lebih adil.
Tim TATOLI

