DILI, 30 Desember 2025 (TATOLI)— Kepala Departemen Penyakit Tidak Menular di Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Mateus Hornai mengatakan bahwa, data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa 50% kematian di Timor-Leste disebabkan oleh penyakit tidak menular.
“Menurut faktor dari penyakit tidak menular yang baru disetujui oleh Menteri Kesehatan, disebutkan bahwa lebih dari 50% kematian di Timor-Leste disebabkan oleh penyakit tidak menular. Pertama adalah penyakit jantung dimana sekitar 20% kematian di Timor-Leste. Diikuti Diabetes, kecelakaan dan kanker, maka dari data itu menunjukkan bahwa penyakit tersebutlah yang saat ini menjadi masalah di Kemenkes,” kata Direktur Mateus kepada wartawan di kantornya, Lahane, Dili, Selasa ini.
Ia menjelaskan, penyakit tidak menular merupakan faktor risiko perkembangan seperti merokok tembakau, minum alkohol, gaya hidup tidak berolahraga, pola makan tidak sehat, dan ini merupakan faktor risiko peningkatan penyakit tidak menular, seperti tekanan darah tinggi, diabetes, kanker, dan penyakit lainnya.
“Data penyakit tidak menular dari Januari hingga November yang kami miliki seperti diabetes berjumlah 1.476 pasien, pasien tekanan darah tinggi 16.140, penyakit jantung 346, stroke 428, penyakit paru kronis 6.035 dan asma bronkial 2.596. Jadi, data ini kami ambil di layanan kesehatan primer, dan semuanya kembali lagi ke iklim, alergi makanan, dari generasi ke generasi, dan juga merokok, minum beralkohol, dan tidak berolahraga,” jelasnya.
Ia mengatakan, pencegahan penyakit dimulai dengan harus melakukan perubahan gaya hidup, harus mengurangi merokok, mengurangi minum minuman kaleng, mengurangi makanan yang tidak bergizi atau berlemak, dan menghindari stres jangka panjang, tetapi harus berolahraga secara teratur.
“Kegiatan skrining yang kami lakukan adalah hipertensi dan diabetes bertujuan untuk mendeteksi dini agar mendapatkan pengobatan dini terhadap komplikasi seperti stroke, serangan jantung atau kematian dini, kami mulai melakukan skrining hipertensi dan diabetes pada mereka yang berusia 30 tahun ke atas, dan kami memeriksa kadar gula darah mereka untuk mendeteksi kadar gula darah mereka,” katanya.
Ia menjelaskan, tahun ini Kemenkes berhasil melacak 257.377 kasus hipertensi, di mana 52.603 orang berhasil menjalani pengobatan hipertensi atau mengikuti protokol penyakit tersebut di tingkat wilayah. Dari jumlah tersebut, 39.909 orang berhasil mengontrol tekanan darah mereka, setidaknya mereka yang memiliki tekanan darah tinggi.
“Melacak 27.884 kasus diabetes, kami berhasil memasukkan 6.117 orang untuk menjalani pengobatan gula darah atau diabetes, dan setelah itu 5.017 orang berhasil mengendalikan gula darah mereka,” pungkasnya.
Reporter : Mirandolina Barros Soares
Editor : Armandina Moniz




