DILI, 20 Juli 2026 (TATOLI) – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merilis pedoman terbaru untuk menekan risiko demensia. Lembaga kesehatan global itu menegaskan, hingga 45 persen kasus demensia sebenarnya berkaitan dengan faktor risiko yang bisa dicegah, mulai menghindar dari merokok, hindari konsumsi alkohol, hingga kurangnya aktivitas fisik.
Data WHO menunjukkan, lebih dari 57 juta orang di dunia hidup dengan demensia. Setiap tahun, hampir 10 juta kasus baru terdiagnosis. Penyakit Alzheimer menjadi bentuk demensia paling umum dengan porsi sekitar 60-70 persen dari seluruh kasus.
Demensia merupakan gangguan akibat penyakit otak yang memengaruhi daya ingat, kemampuan berpikir, hingga fungsi sehari-hari. Kondisi ini bukan hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga mengurangi kemandirian, martabat, dan keselamatan penderitanya.
Melansir laman WHO, disebutkan bahwa meskipun belum ada obat untuk demensia, organisasi tersebut menekankan bahwa bukti ilmiah menunjukkan penerapan gaya hidup sehat, pengelolaan penyakit kronis secara tepat, dan pengurangan paparan terhadap faktor lingkungan dapat secara signifikan menurunkan risiko terkena kondisi tersebut.
“Kita kini memiliki pemahaman yang lebih baik dari sebelumnya mengenai faktor-faktor yang meningkatkan risiko demensia, dan pedoman ini menerjemahkan pengetahuan tersebut menjadi tindakan nyata,” ujar Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus.
Menurutnya, berbagai negara kini memiliki rekomendasi jelas yang dapat segera diterapkan untuk melindungi kesehatan kognitif penduduknya.
Pedoman baru ini memperbarui rekomendasi yang diterbitkan oleh WHO pada tahun 2019 serta memasukkan kemajuan ilmiah terkini terkait pencegahan penurunan fungsi kognitif di sepanjang tahapan kehidupan.
WHO merilis pedoman tersebut pada 15 Juli ini, dan dalam rekomendasi utamanya mencakup aktivitas fisik secara rutin, berhenti merokok, pengurangan konsumsi alkohol, dan penerapan pola makan sehat. \
Organisasi tersebut juga menyoroti pentingnya pelatihan kognitif, partisipasi dalam kegiatan sosial, serta penanganan kondisi kesehatan seperti tekanan darah tinggi, diabetes, dan kadar kolesterol tinggi.
Untuk pertama kalinya, WHO juga memasukkan upaya pengurangan paparan polusi udara ke dalam strategi pencegahan demensia. Penggunaan alat bantu dengar juga diidentifikasi sebagai langkah yang dapat membantu mengurangi risiko penyakit tersebut pada sebagian orang.
Sebaliknya, organisasi tersebut tidak menyarankan penggunaan suplemen vitamin B atau E, asam lemak omega-3, atau multivitamin semata-mata untuk tujuan pencegahan demensia, kecuali jika terdapat bukti adanya kekurangan zat gizi tersebut. WHO menilai bahwa bukti ilmiah yang ada belum cukup kuat untuk menunjukkan bahwa manfaat suplemen-suplemen ini sepadan dengan risiko potensialnya.
Menurut organisasi tersebut, selain hilangnya daya ingat dan penurunan kemampuan kognitif, demensia mengganggu otonomi, martabat, dan keselamatan para penderitanya, sekaligus menimbulkan beban emosional, sosial, dan finansial yang berat bagi keluarga dan pengasuh.
WHO memperkirakan dampak ekonomi global akibat demensia mencapai sekitar US$1,3 triliun per tahun, dengan sekitar separuh dari jumlah tersebut berasal dari perawatan informal yang diberikan oleh anggota keluarga dan teman.
Mengingat situasi ini, organisasi tersebut menganjurkan integrasi pencegahan demensia ke dalam layanan penanganan penyakit tidak menular dan kesehatan jiwa, serta ke dalam inisiatif promosi kesehatan otak, dengan tujuan mengurangi angka kejadian penyakit ini dan memungkinkan lebih banyak orang menjalani masa tua dengan kemandirian, kesehatan, dan kualitas hidup yang lebih baik.
Tim TATOLI




