DILI, 26 November 2025 (TATOLI)—Presiden Republik, José Ramos-Horta menyerukan kepemimpinan pemuda dan memberi penghormatan kepada para pendiri bangsa Timor Leste.
Hal tersebut Kepala Negara sampaikan menjelang Peringatan Proklamasi Kemerdekaan ke-50 dalam program ‘Meet The Press’ yang diselenggarakan oleh Sekretariat Negara Komunikasi Sosial (SECOMS) di Istana Kepresidenan, Bairru Pité.
Presiden Republik, José Ramos-Horta menyampaikan refleksi sejarah yang mendalam, dengan mengenang kembali momen-momen krusial tahun 1974 dan 1975.
Kepala Negara menghormati warisan pendiri bangsa, termasuk Nicolau Lobato dan Francisco Xavier do Amaral, sembari merinci rintangan diplomatik besar yang dihadapi oleh gerakan perlawanan.
“Kedaulatan negara dibangun di atas pengorbanan kolektif ‘Generasi 75’, yang banyak di antaranya menyerahkan nyawa mereka selama masa pendudukan, meninggalkan warisan ketangguhan untuk dijaga oleh bangsa ini,” Kata Presiden Ramos-Horta.
Berita terkait : Pemerintah tetapkan tema nasional peringati 50 tahun Proklamasi Kemerdekaan Timor-Leste
Menanggapi pertanyaan mengenai transisi kekuasaan kepada generasi muda, Presiden menyoroti kemajuan dramatis yang telah dicapai Timor-Leste dalam hal modal manusia, mencatat peningkatan dari segelintir lulusan sarjana pada tahun 2002 menjadi ribuan pemegang gelar Master dan Doktor saat ini.
Presiden menantang kaum muda untuk memahami bahwa ijazah akademik saja tidak cukup untuk kepemimpinan politik; kepemimpinan sejati menuntut kemampuan untuk menangkap imajinasi nasional dan memenangkan kepercayaan rakyat melalui pemilihan umum yang demokratis.
“Generasi muda untuk belajar dengan tekun dan membuktikan kapasitas mereka untuk memimpin, daripada hanya menunggu kekuasaan diserahkan begitu saja kepada mereka.”tegas PR.
Dalam pesan yang kuat mengenai persatuan nasional dan rekonsiliasi, Presiden Ramos-Horta memberikan penghormatan atas kontribusi abadi para pemimpin kontemporer, secara khusus mengakui Perdana Menteri Xanana Gusmão sebagai “restaurador kemerdekaan” (pemulih kemerdekaan) dan membandingkan pengaruh pemersatunya dengan Nelson Mandela.
Presiden menegaskan bahwa meskipun protokol negara menunjuknya sebagai tuan rumah perayaan 28 November, penghargaan atas perdamaian dan pembangunan bangsa adalah milik upaya kolektif semua pemimpin nasional, termasuk Mari Alkatiri dan para mantan Presiden, memastikan bahwa semangat perlawanan tetap menjadi landasan bagi masa depan Timor-Leste.
Reporter : Mirandolina Barros Soares
Editora : Julia Chatarina




