GUINEA-BISSAU, 22 November 2025 (TATOLI) – Tim Misi Pemantau Pemilu (MOE) g7+ pada Sabtu (22/11) berpartisipasi dalam pertemuan yang diselenggarakan oleh Komunitas Ekonomi Negara-negara Afrika Barat (ECOWAS) dan Misi Pemantau Pemilu Uni Afrika.
Direktur Operasional g7+, Felix Piedade, menginformasikan bahwa pertemuan tersebut merupakan pertemuan yang sudah menjadi tradisi para kepala misi pemantau internasional yang akan memantau pemilihan presiden dan parlemen Guinea-Bissau yang diselenggarakan pada 23 November 2025.
“Hari ini, setiap misi dari organisasi internasional saling berbagi informasi mengenai pengamatan yang akan kami lakukan untuk pemilihan presiden dan parlemen yang digelar besok,” ujar Felix Piedade pada TATOLI di Hotel Ceiba.
Direktur Operasional itu menjelaskan bahwa tujuan utama pertemuan ini adalah agar setiap organisasi pemantau internasional dapat berbagi mengenai apa yang telah dan akan mereka lakukan mulai dari hari pemungutan suara hingga setelah pemilu.
“Hasil konkret dari pertemuan ini adalah bahwa para anggota mengusulkan untuk mengadakan pertemuan lanjutan setelah pemilu. Pertemuan tersebut akan digelar pada Senin, dengan mengundang semua kepala delegasi untuk berbagi hasil awal sehingga mereka dapat memberikan dukungan kepada Pemerintah Guinea-Bissau dan CNE guna peningkatan di masa mendatang,” ujarnya.
Menurutnya, pesan umum dalam pertemuan tersebut adalah bahwa setiap misi menyampaikan informasi serupa, semua sepakat bahwa situasi pemilu berjalan baik dan masyarakat memiliki kebebasan untuk menyampaikan pandangan mereka.
“Hari ini, laporan dari setiap misi menunjukkan pesan yang hampir sama, yaitu bahwa para pemimpin partai politik, baik dari pihak pemerintah maupun oposisi di Guinea-Bissau, memiliki gagasan yang sama untuk menjaga perdamaian dan stabilitas karena mereka tidak ingin negara kembali ke situasi konflik, melainkan ingin terus maju,” tegasnya.
Di tempat yang sama, Kepala Misi Pemantau Pemilu g7+, Christina Joanna Mitini, mengatakan bahwa pertemuan g7+ hari ini membahas kegiatan yang telah dilakukan tim sejak tiba di Guinea-Bissau.
“Tim kami melaporkan kegiatan yang telah dilakukan, seperti pertemuan dengan partai politik, Komisi Pemilihan Umum, pemantauan pemungutan suara awal untuk militer dan polisi, serta pemantauan kampanye terakhir partai politik kemarin,” ujarnya.
Ia menjelaskan, dalam pertemuan tersebut juga disampaikan pengantar singkat tentang g7+ yang didirikan pada tahun 2010 di Timor-Leste. g7+ adalah organisasi antarpemerintah yang menyatukan 20 negara yang terdampak kerapuhan dan konflik. Misi utama kelompok ini adalah membantu negara-negara anggota mencapai perdamaian, stabilitas, dan ketahanan. Menurutnya, g7+ berkantor pusat di Dili, Timor-Leste, serta telah membuka kantor di Lisbon pada tahun 2017 dan di New York pada September 2024.
g7+ memiliki tiga layanan prioritas, yaitu advokasi pembangunan perdamaian dan pembangunan negara di tingkat global, berbagi pengalaman antarnegara anggota dalam kerangka kerja sama rapuh-ke-rapuh, dan penguatan kelembagaan.
Kerja sama rapuh-ke-rapuh berfokus pada bidang-bidang seperti berbagi pengalaman dalam pengelolaan sumber daya alam, akses terhadap keadilan, perdamaian dan rekonsiliasi, serta Misi Pemantau Pemilu.
“Tujuan Misi Pemantau Pemilu adalah untuk memantau proses pemilu di negara-negara anggota guna memastikan pemilu diselenggarakan secara bebas, adil, damai, dan demokratis,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Misi Pemantau Pemilu Uni Afrika, Filipe Jacinto, menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang akan memantau pemilu Guinea-Bissau dan meminta semua pihak untuk menjaga stabilitas, transparansi, dan integritas proses pemilu.
Organisasi pemantau internasional yang memantau pemilu di Guinea-Bissau antara lain ECOWAS, Misi Pemantau Pemilu Uni Afrika, g7+, Misi Pemantau Pemilu Komunitas Negara-Negara Berbahasa Portugis (CPLP), dan lainnya.
Reporter : Arminda Fonseca (Penerjemah: Cidalia Fátima)
Editor : Armandina Moniz




