Setengah abad Tragedi Balibó, Pemerintah TL serukan komitmen pada kebenaran dan keadilan

DILI, 16 Oktober 2025 (TATOLI) — Pemerintah Timor-Leste menegaskan pentingnya komitmen pada kebenaran dan keadilan dalam peringatan 50 tahun kematian para jurnalis Balibó Five dan Roger East.
Pernyataan ini disampaikan oleh Menteri Kabinet Dewan Menteri, Agio Pereira, dalam acara peringatan yang berlangsung di Balibó, Kamis (16/10).
“Lima puluh tahun lalu, lima jurnalis muda di Balibó dan satu di Dili berdiri di antara keheningan dan dunia. Mereka memilih kebenaran. Mereka membayar dengan nyawa mereka. Hari ini, kita mengingat mereka bukan sebagai sosok yang jauh, tapi sebagai gema tanggung jawab kita untuk berbicara, menuntut, dan bertindak,” kata Agio Pereira.
Menteri Pereira menekankan bahwa kisah mereka menuntut ingatan, bukan hanya atas pengorbanan dalam mengejar kebenaran, tetapi juga sebagai pelajaran kritis tentang tanggung jawab pemerintah, bahaya kerahasiaan, dan keberanian mereka yang melaporkan dari garis depan konflik.
Pada 16 Oktober 1975, enam jurnalis Australia dan Selandia Baru, Gary Cunningham, Brian Peters, Malcolm Rennie, Greg Shackleton, Tony Stewart, dan Roger East menghadapi risiko besar di Timor-Leste yang tengah dilanda gejolak politik pasca-dekolonisasi Portugis.
Kelompok Balibó Five berada di kota perbatasan untuk meliput laporan tentang serangan pasukan Indonesia, sementara Roger East berada di Dili untuk melanjutkan liputannya.
Dalam tragedi yang terjadi pagi itu, para jurnalis ditembak dan dibunuh secara sengaja oleh pasukan khusus Indonesia dalam Operasi Flamboyan, ketika mereka berusaha mendokumentasikan invasi dan keterlibatan militer asing.
Ia menjelaskan meskipun mereka menandai rumah tempat mereka tinggal dengan bendera Australia untuk berharap mendapatkan perlindungan, upaya itu gagal menyelamatkan nyawa mereka.
“Kematian mereka bukan sekadar catatan sejarah yang jauh. Mereka tetap menjadi luka dalam nurani kita, pengingat biaya kemanusiaan dari konflik, rapuhnya kebenaran dalam perang, dan beban moral yang berat lintas batas,” ujar Menteri Agio.
Agio Pereira menekankan bahwa pengingkaran sejarah dan kebijakan realpolitik Australia pada masa itu mengorbankan perlindungan jurnalis serta rakyat Timor-Leste. “Kebenaran tidak dapat dikubur,” tegasnya.
Peringatan 50 tahun ini menjadi momentum bagi Timor-Leste dan Australia untuk merenungkan pentingnya kebenaran, keadilan, dan perlindungan bagi mereka yang berani melaporkan fakta di medan konflik.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz

