Matthew Carney : Misi jurnalisme tidak pernah berubah meskipun dunia dipenuhi disinformasi

BOBONARO, 15 Oktober 2025 (TATOLI) — Jurnalis Senior ABC International Development, Matthew Carney, menyerukan kepada generasi jurnalis muda untuk kembali pada esensi sejati profesi jurnalisme adalah datang ke jantung cerita, melaporkan langsung dari lapangan, dan berani menghadapi tantangan demi kebenaran. Karena, misi jurnalisme tidak pernah berubah meskipun dunia dipenuhi disinformasi.
Berbicara pada acara Peringatan 50 Tahun Balibo Five dengan tema “Peran Jurnalis di Negara Demokratis, Otoriter, dan di Era Kecerdasan Buatan (AI)”, Matthew menekankan bahwa misi jurnalisme sejati tidak pernah berubah, meskipun saat ini dunia kini telah dipenuhi oleh disinformasi dan dominasi opini.
“Bagi para jurnalis masa kini, di sini maupun di seluruh dunia, itu berarti datang ke jantung cerita, ke tempat di mana peristiwa benar-benar terjadi, dan melaporkannya secara akurat dan faktual, dengan ketekunan dan ketegasan,” ujar Jurnalis Senior ABC di Balibo, Rabu ini.
Menurutnya, jurnalis harus siap menghadapi upaya dari pihak-pihak berkuasa yang berusaha menutupi kebenaran.
Ia juga mengenang misi berani Balibo Five, Greg Shackleton, Gary Cunningham, Malcolm Rennie, Tony Stewart, dan Brian Peters yang menurutnya telah menginspirasi generasi jurnalis di seluruh dunia untuk terus mencari dan mengungkap kebenaran.
Ia menegaskan bahwa perjuangan mereka bukan sekadar kisah masa lalu, tetapi misi berkelanjutan yang menuntut keberanian, komitmen, dan keteguhan.
“Namun jika dijalankan dengan setia, jurnalisme dapat mengubah arah sejarah dan nasib suatu bangsa, seperti yang terjadi di sini, di Timor-Leste,” ucapnya.
Dalam pidatonya, Ia juga memberi penghormatan kepada Max Stahl, yang rekaman Tragedi Santa Cruz 1991 mengguncang dunia dan memperkuat dukungan internasional bagi rakyat Timor-Leste.
“Saya masih ingat ketika berada di ruang redaksi SBS di Australia saat rekaman Max diputar untuk pertama kalinya. Saya langsung berpikir, pembantaian dan penindasan itu tidak lagi bisa disangkal. Itu adalah bukti nyata, dan dunia harus bertindak,” kenangnya.
Ia menceritakan pengalamannya datang secara diam-diam ke Timor-Leste pada tahun 1990-an, menyamar sebagai peselancar demi meliput perjuangan FALINTIL di Baucau. Ia menyebut pengalaman itu sebagai salah satu momen paling mengharukan dalam karier jurnalistiknya.
“Melihat semangat mereka secara langsung, saya merasa terinspirasi. Kini saya melihat impian dan harapan mereka telah terwujud dalam Timor-Leste yang merdeka,” katanya, sambil menyebut nama Taur Matan Ruak dan José Belo sebagai simbol keberhasilan perjuangan tersebut.
Ia juga memberi penghormatan kepada mendiang David Alex dan jurnalis John Martinkus, yang menurutnya turut berperan besar dalam memperjuangkan demokrasi dan mengungkap kebenaran di tengah konflik.
Menutup pesannya, Ia mengingatkan bahwa di era kecerdasan buatan dan jurnalisme berbasis opini, tugas jurnalis sejati semakin penting, bukan untuk menulis apa yang ingin didengar editor, tetapi untuk melaporkan kebenaran dengan keberanian dan integritas.
“Datanglah ke pusat peristiwa. Laporkan. Jadilah berani dan tegas, bahkan ketika itu sulit dan berbahaya. Itu sangat penting bagi demokrasi dan keadilan saat ini,” pesan Carney.
Ia menegaskan bahwa pesan Balibo Five tetap relevan hingga kini, agar jurnalis tidak takut dan tidak berkompromi dalam mengejar kebenaran.
“Itulah yang dilakukan Balibo Five 50 tahun lalu, juga Roger East, Max Stahl, dan John Martinkus. Semua itu memberi dampak nyata dan membawa perubahan ke arah yang lebih baik,” pungkasnya.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz

