iklan

SOSIAL INKLUSIF

Adérito Hugo serukan pengakuan bagi jurnalis TL dalam sejarah perjuangan 

Adérito Hugo serukan pengakuan bagi jurnalis TL dalam sejarah perjuangan 

Wakil Menteri Urusan Parlementer, Adérito Hugo da Costa dan Ombudasman Hak Asasi Manusia dan Keadilan (PDHJ) Virgilio da Silva Guterres, dalam acara Meet The Press tentang 50 tahun Balibo Five yang diselenggarakan di Balibo, Selasa (14/10). Foto Tatoli

BOBONARO, 14 Oktober 2025 (TATOLI) – Wakil Menteri Urusan Parlementer (VMAP), Adérito Hugo da Costa, menyerukan agar negara memberikan pengakuan dan penghargaan kepada jurnalis Timor-Leste yang telah berkontribusi besar dalam perjuangan kemerdekaan bangsa, namun hingga kini masih kurang mendapatkan perhatian.

“Kita sering memberikan penghargaan kepada jurnalis internasional yang datang hanya satu tahun untuk meliput, dan lebih memperhatikan jurnalis asing berkulit putih. Namun, kantor di Aitarak Laran tidak pernah memperhatikan jurnalis perempuan dan laki-laki Timor-Leste yang berjuang selama masa perlawanan,” kata Hugo dalam acara Meet the Press yang diselenggarakan di Balibo, untuk memperingati 50 tahun tragedi Balibo Five, Selasa ini.

Hugo menegaskan, kritik yang ia sampaikan bukan untuk menolak penghargaan bagi jurnalis asing, melainkan agar negara juga menghargai jurnalis lokal yang turut berjuang dalam sejarah panjang kemerdekaan Timor-Leste.

“Kita tidak mengatakan untuk tidak menghargai mereka, tetapi kita juga harus melihat jurnalis Timor-Leste seperti José Belo, Marcelino Magno, dan banyak lainnya. Mereka memberikan kontribusi besar bagi perjuangan bangsa,” ujarnya.

Ia menilai bahwa pandangan yang hanya memuliakan wartawan asing sementara melupakan jasa jurnalis nasional merupakan hal yang tidak adil dan tidak boleh terulang.

Selain itu, Hugo juga meminta untuk menghargai keberadaan surat kabar Suara Timor-Timur (STT) yang pernah berperan penting dalam mengungkap banyak pelanggaran hak asasi manusia pada masa konflik.

“Kalau bisa, negara memberi apresiasi kepada Suara Timor-Timur yang saat itu membuka banyak kasus pembantaian, seperti di Natarbora dan Liquiça. Wartawannya bekerja dengan penuh risiko, bahkan diancam, namun tetap menyuarakan kebenaran,” jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Adérito Hugo juga menyinggung pentingnya memperingati 50 tahun tragedi Balibo Five sebagai momentum refleksi bersama.

“Tragedi Balibo Five adalah bagian dari sejarah kelam kita. Namun, dalam memperingatinya, jangan sampai kita hanya mengenang jurnalis asing, tetapi juga harus menghormati jurnalis Timor-Leste yang ikut berjuang demi kebebasan bangsa ini,” tutupnya.

Tragedi Balibo Five berlatar belakangi dari kelima jurnalis televisi yang berbasis di Australia dibunuh di kota Balibo, Timor-Leste, pada tanggal 16 Oktober 1975, saat meliput serangan pasukan Indonesia menjelang invasi penuh ke Timor Portugis pada ssat itu.

Peringatan 50 tahun ini menjadi momen penting bagi keluarga korban yang terus menuntut keadilan. Timor-Leste  juga telah menetapkan tanggal tragedi Balibo Five sebagai Hari Nasional Kebebasan Pers.

Reporter: Cidalia Fátima

Editor: Armandina Moniz

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!