DILI, 14 Juli 2026 (TATOLI) – Presiden Republik, Jose Ramos-Horta secara resmi membuka Pameran “Uma Lulik”, Selasa ini di Istana Kepresidenan Nicolau Lobato. Kepala Negara dalam pidatonya, menyatakan Pameran “Uma Lulik”, menggambarkan struktur sebagai “harta karun nasional” dan simbol ketangguhan yang hidup.
Pameran “Uma Lulik” dengan menampilkan hasil dokumentasi itu diselenggarakan oleh Timor Aid, setelah bekerjasama dengan Blue Milk melakukan penelitian dan pendokumentasian mengenai “Uma-Lulik” di tiga kotamadya, termasuk Oecusse.
Presiden Republik, Ramos-Horta dalam sambutannya berdasarkan laman resmi Kepresidenan Republik, mengatakan acara ini ditandai dengan refleksi pribadi yang mendalam mengenai perjalanan bangsa menuju kedaulatan.
Dalam sambutannya, itu Presiden berbagi sejarah tentang dua rumah suci spesifik yang kini berdiri di Istana Kepresidenan, yang ia beli secara pribadi dari masyarakat Ermera pada tahun 2001 untuk menunjang perayaan restorasi kemerdekaan tahun 2002.
Serta, dengan merefleksikan perjalanan 25 tahun rumah-rumah tersebut dari Istana Pemerintah ke rumah pribadinya dan akhirnya ke Istana Kepresidenan, ia menggambarkan struktur ini sebagai “harta karun nasional” dan simbol ketangguhan yang hidup.
Kepala Negara juga memanfaatkan kesempatan ini untuk mengumumkan rencana pemulangan jenazah Dom Martinho da Costa Lopes, mantan Administrator Apostolik, pada bulan September mendatang, yang semakin menghubungkan pameran ini dengan pelestarian memori sejarah Timor-Leste.
Di luar pameran budaya, peraih Nobel Perdamaian tersebut menyampaikan tantangan formal kepada Pemerintah untuk mengupayakan status Warisan Dunia UNESCO bagi Uma Lulik, menyusul keberhasilan pengakuan internasional terhadap Tais Timor. Presiden Republik juga mengenang hambatan diplomatik di awal tahun 2000-an, termasuk keberhasilannya meyakinkan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk memberikan hibah dana sebesar $500.000 untuk perayaan kemerdekaan—sebuah pencapaian yang ia gambarkan sebagai salah satu kesuksesan terbesarnya.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Timor Aid, Maria do Céu Lopes, mengatakan bahwa “uma-lulik” merupakan simbol terpenting dari warisan budaya Timor-Leste. “Uma-lulik” juga disebut sebagai “uma-lisan” dan “knua”. Bangunan-bangunan ini melambangkan leluhur dari setiap komunitas atau kelompok yang memiliki tradisi budaya dan bahasa yang khas.
Ia menjelaskan bahwa setiap “uma-lulik” memiliki keterkaitan dengan elemen alam lainnya—seperti fatuk-lulik, ai-lulik, dan bee-lulik, di mana masyarakat Timor melaksanakan ritual bagi leluhur mereka untuk memohon “matak-malirin”, sebuah simbol metaforis yang melambangkan kedamaian, kesejahteraan, dan kesehatan yang baik.
“Uma-lulik” menjadi tempat penyimpanan benda-benda leluhur, seperti kain tais (hena lulik), surik, belak dan kaebauk, balada-dikur, morteen dan benda-benda lain yang hanya dipamerkan pada situasi tertentu, seperti saat ritual “sau-batar” atau “sau-hare”, ketika benda-benda tersebut dikeluarkan dan hanya diperlihatkan kepada komunitas atau kelompok adat.
“Tujuan pameran untuk mendokumentasikan atau melestarikan warisan budaya Timor-Leste. Fokus kami adalah pada uma-lulik di empat kotamadya, dengan mendokumentasikan upacara pembongkaran uma-lulik, perbaikan uma-lulik, bee-lulik, sau-batar, dan lainnya,” kata Maria do Céu Lopes kepada Tatoli di Istana Kepresidenan, Bairu Pité, Dili.
Ia mengatakan dokumentasi yang mereka lakukan selama dua tahun untuk kotamadya seperti Bahadanak, Aitana, Viqueque (Tetun Terik), Marobo, Bobonaro (Kemak), Na Bobo, dan dua rumah adat terkait di Oecusse (Baikenu/Dawan), Uma Dato Babulu, dan empat rumah adat lainnya di Matai, Covalima (Tetun Terik).
Ia mengatakan bahwa hasil proyek ini telah disimpan dalam basis data untuk nantinya ditampilkan di Tais House atau Museum Tais Timor-Leste. Dengan demikian, hal ini akan memudahkan siapa saja yang ingin melihat dan mengenal warisan budaya Timor-Leste.
Ia menyebutkan bahwa proyek ini berjalan dengan baik berkat dukungan pendanaan sebesar US$235 ribu dari Kedutaan Besar AS untuk jangka waktu dua tahun, sementara itu, pendokumentasian untuk *uma-lulik* lainnya yang belum terdokumentasi akan terus dilanjutkan di masa mendatang.
Maria do Céu menyatakan bahwa pameran ini akan berlangsung hingga 20 Juli 2026, Pameran ini diadakan di Istana Kepresidenan hari ini dan besok, serta akan dilanjutkan di Timor Aid hingga tanggal tersebut.
Dilain pihak, Bruce Begnell dari Kedutaan Besar AS di Timor-Leste mengatakan bahwa melalui kemitraan dengan Timor Aid, pameran ini diselenggarakan di Istana Kepresidenan untuk merayakan Proyek Pelestarian Budaya Uma-Lulik.
“Kita bertemu di tengah perubahan global yang berlangsung cepat. Sebagai anggota penuh ASEAN, Timor-Leste saat ini menjalin interaksi dengan kawasan ini melalui cara yang baru dan dinamis. Pelestarian warisan budaya memastikan bahwa kemajuan terus berjalan dengan tetap memegang teguh identitas dan rasa percaya diri—memadukan kearifan masa lalu dengan peluang masa depan,” ujarnya.
Amerika Serikat merasa terhormat dapat bermitra dengan Timor Aid dalam melestarikan identitas budaya Timor-Leste bagi generasi mendatang.
Di tempat yang sama, Menteri Pemuda, Olahraga, Seni, dan Budaya, Nelyo Isaac Sarmento, menyatakan bahwa pendokumentasian warisan budaya Timor-Leste sangatlah penting, mengingat UNESCO mengimbau seluruh negara untuk melestarikan warisan dan budaya mereka.
“Jadi, kegiatan hari ini juga merupakan bagian dari upaya menginventarisasi seluruh sumber daya budaya yang kita miliki, yang menjadi jati diri sejati masyarakat Timor dan menjadi pembeda dengan negara lain. Mengingat Pulau Timor terbagi menjadi dua wilayah negara yaitu kita dan Timor Barat (Indonesia)—maka negara lain tidak bisa menirunya,” ujarnya.
Ia mengatakan bahwa sarana ini juga bertujuan untuk membuka wawasan seluruh rakyat Timor-Leste bahwa “uma-lulik” merupakan identitas Timor-Leste yang menyatukan masyarakatnya dari generasi ke generasi. “Uma-lulik” merupakan simbol persatuan nasional, dan kita mungkin tidak saling menyukai, namun di dalam “uma-lulik” kita senantiasa bersaudara, karena “uma-lulik” menciptakan kedamaian bagi kita,” ujarnya.
Tim TATOLI




