iklan

HEADLINE, SOSIAL INKLUSIF

Kepala BMKG Indonesia : Pentingnya literasi bencana dan sistem peringatan dini di TL

Kepala BMKG Indonesia : Pentingnya literasi bencana dan sistem peringatan dini di TL

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Indonesia, Dwikorita Karnawati. Foto Tatoli

DILI, 08 Oktober 2025 (TATOLI) – Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Indonesia, Dwikorita Karnawati, menekankan pentingnya literasi bencana dan sistem peringatan dini (early warning system) dalam menghadapi risiko gempa bumi dan tsunami di Timor-Leste (TL).

Dalam presentasinya pada peluncurkan sistem peringatan gempa dan tsunami Earthquake-IGTL, Dwikorita menjelaskan kondisi tektonik kawasan Timor-Leste yang berada di zona rawan gempa.

“Di bagian utara terdapat patahan yang sewaktu-waktu dapat bergerak naik akibat tumbukan lempeng dasar Samudra Hindia di selatan. Pergerakan ini bisa memicu gempa, dan meski hanya beberapa sentimeter, dapat menimbulkan tsunami,” ujar Kepala BMKG Dwikorita di City8 Manleuana, Rabu ini.

Dwikorita mencontohkan tsunami yang terjadi pada 1995 akibat gempa bawah laut berkekuatan 6,9 SR, yang menewaskan 11 orang dan melukai 19 lainnya. Tinggi gelombang mencapai 1,5 meter, cukup untuk menyeret manusia karena air bercampur puing dan batu.

Berita terkait : Kolaborasi BMKG – IGTL resmikan sistem pemantauan gempa dan tsunami di TL

Ia menegaskan bahwa potensi tsunami dapat melintasi perairan antarnegara, sehingga kerja sama regional antara Indonesia dan Timor-Leste sangat penting.

Hingga saat ini, banyak gempa tercatat di sekitar Timor-Leste, namun tidak semua berdampak signifikan. Monitoring dilakukan secara rutin oleh IGTL (Institut Geosains Timor-Leste), dan hasilnya kini tersedia melalui aplikasi mobile untuk memberi notifikasi gempa dan peringatan dini tsunami.

Dwikorita menekankan bahwa meski tsunami jarang terjadi, persiapan tetap penting untuk memastikan respon cepat dan aman.

Ia menambahkan, pengalaman tsunami di Indonesia, seperti di Palu dan Banda Aceh, menunjukkan perlunya sistem peringatan dini yang efektif. Seperti pesan dari Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa (António Guterres) juga menekankan perlindungan masyarakat dari bencana melalui early warning system dan early action by all sangatlah penting.

Dalam pembangunan sistem peringatan dini di Timor-Leste, Dwikorita memaparkan strategi dua tahap yaitu :

  • Teknis/Hulu – IGTL memonitor gempa dan tsunami, serta memberikan peringatan dini
  • Hilir/Tindak Lanjut – Otoritas Perlindungan Sipil (APC) menyebarkan peringatan kepada masyarakat dan membantu evakuasi ke tempat aman

Selain itu, Timor-Leste diharapkan dapat bergabung dalam Intergovernmental Coordination Group of the Indian Ocean Tsunami Warning and Notification System, bersama Indonesia dan negara lain di Samudra Hindia.

Rencana kerja sama lanjutan mencakup pertukaran ahli, pengembangan kapasitas SDM, dan strategi pengurangan risiko bencana bersama IGTL dan APC.

Ke depan, sistem peringatan dini akan menjadi multi-hazard early warning system, mencakup gempa bumi, tsunami, dan longsor, karena bencana dapat terjadi bersamaan. Integrasi sistem ini dinilai krusial untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dan ketahanan nasional. 

Reporter : Cidalia Fátima

Editor      : Armandina Moniz

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!