DILI, 08 Agustus 2025 (TATOLI) — Kantor Berita TATOLI, bekerja sama dengan IOB (Institute of Business) kembali menyelenggarakan seminar nasional bertema “Konsep Negara dan Visi Strategis Pembangunan Nasional”.
Diselenggarakan di aula pertemuan Kampus IOB, Fomento, Dili, Jumat ini. Acara tersebut mempertemukan sejumlah mahasiswa dari berbagai fakultas, bersama dengan akademisi, dan dosen IOB dan mahasiswa lainnya. Seminar yang dibuka secara resmi oleh Sekretaris Negara urusan Komunikasi Sosial (SEKOMS), Expedito Loro Dias Ximenes itu merupakan bagian dari kegiatan perayaan HUT TATOLI yang ke – IX yang diperingati pada tanggal 27 Juli lalu.
Seminar nasional bertema “Konsep Negara dan Visi Strategis Pembangunan Nasional” itu digelar atas kerjasama TATOLI bersama IOB dengan menghadirikan Presiden Republik dan Peraih Nobel Perdamaian, José Ramos-Horta sebagai pembicara utama.
Berita terkait : Seminar Konsep Negara dan Visi Strategis Pembangunan Nasional digelar jelang HUT TATOLI ke – IX
Presiden Ramos-Horta, sebagai pembicara utama dengan topik “Konsep Negara dan Visi Strategis Pembangunan Nasional” itu mengatakan bahwa Timor-Leste telah memenuhi kriteria dasar kedaulatan sejak proklamasi kemerdekaan sepihak pada tanggal 28 November 1975, yang menyoroti lintasan sejarah, kelembagaan, dan diplomatik yang mengkonsolidasikan kehadiran negara tersebut di panggung internasional.
Dalam hal Konsep Negara, kata Presiden Ramos-Horta bahwa Timor-Leste memenuhi kriteria sebagai sebuah Negara. Ketika wilayah ini memiliki perbatasan, dan perbatasan tersebut diakui oleh penduduknya, Pemerintah dan Negara dapat menjalin hubungan normal dengan negara lain melalui diplomasi dan perdagangan.
Ia menjelaskan bahwa sebelum Timor-Leste berjuang untuk meraih kemerdekaan pada tahun 1975, sebelum invasi Indonesia, Timor-Leste telah memenuhi kriteria sebuah negara. Proklamasi kemerdekaan negara bersifat sepihak, karena tidak ada kesepakatan dengan Portugal, penguasa administratif, yang diakibatkan oleh perang saudara yang memaksa gubernur saat itu, Lemos Pires, untuk meninggalkan Dili dan mengungsi ke Pulau Ataúro.
“Setelah invasi Indonesia pada 07 Desember 1975, kami memulai perjuangan panjang di dalam dan diluar negeri, yang berpuncak pada referendum 1999. Akhirnya, kita bisa berhasil merestorasikan kemerdekaan pada 20 Mei 2002, dengan pengakuan dari masyarakat internasional,” kenangnya.
Ia menekankan bahwa setelah restorasi kemerdekaan, langkah selanjutnya adalah konsolidasi negara, seperti penetapan batas darat dengan Indonesia pada tahun 2003, di bawah kepemimpinannya sebagai Menteri Luar Negeri, dan perundingan batas laut dengan Australia, yang dipimpin oleh Perdana Menteri saat itu, Xanana Gusmão.
Ramos-Horta menekankan bahwa Negara bukan sekadar wilayah dengan Pemerintah, melainkan struktur kelembagaan yang menjamin perdamaian, ketertiban, dan keadilan. “Negara harus dibangun dengan lembaga-lembaga yang kuat. Pemerintahan yang dipilih atau tidak, haruslah mengabdi kepada kepentingan publik,” ujarnya.
Mengenai pembangunan ekonomi, ia mengingatkan bahwa pada tahun 2002, Timor-Leste tidak memiliki anggaran. Anggaran tahun 2003 hanya sebesar $68 juta, yang sebagian besar dibiayai oleh para donor internasional.
Sementara itu, Ketua Dewan Direksi Kantor Berita TATOLI, IP, Noémio Mateus Soares Flacão, menjelaskan kegiatan ini diadakan dalam rangka memperingati HUT ke -IX Tatoli, I.P., yang jatuh pada tanggal 27 Juli lalu.
“Saya mengapresiasi kerja sama ini karena di era digital saat ini sangat penting untuk mendalami tema tentang Konsep Negara dan Visi Strategis untuk Pembangunan Nasional. Saya mengajak mahasiswa dan seluruh peserta untuk memanfaatkan forum ini sebagai ruang belajar dan refleksi,” ujar Nóemio.
Sementara itu, Rektor IOB, Pedro Ximenes, menyampaikan terima kasih kepada Tatoli atas kolaborasi yang mempertemukan mahasiswa dengan pemimpin nasional dalam diskusi mendalam mengenai pembangunan.
“Seminar ini sangat penting karena membuka ruang dialog tentang peran generasi muda dalam membangun negara di tengah tantangan era digital,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris Negara Expedito Ximenes dalam sambutannya mengingatkan para mahasiswa untuk bijak dalam menggunakan media sosial dan teknologi digital sebagai alat pembangunan, bukan sebaliknya.
“Kita hidup di era digital yang tanpa batas. Sekarang, siapa saja bisa memproduksi informasi dari ponsel, tapi informasi yang tidak melalui penyuntingan bisa menimbulkan dampak negatif. Media seperti radio dan televisi tetap relevan karena menyajikan informasi yang terverifikasi,” jelasnya.
Expedito juga menekankan pentingnya peran generasi muda dalam menciptakan ruang digital yang sehat dan produktif demi masa depan negara.
Sebelumnya, seminar serupa pernah digelar TATOLI yang bekerjasama dengan Dili Institute of Technology (DIT), dan UNITAL (Universidade Oriental Timór Lorosa’e).
Dimana, seminar yang digelar di DIT, menghadirkan Letnan Jenderal, Lere Anan Timur, mantan Komandan F-FDTL ( FALINTIL – Pasukan Pertahanan Bersenjata Timor-Leste) sebagai pembicara utama. Sementara di UNITAL, menghadirkan pembicara utama Wakil Perdana Menteri dan Menteri Koordinator Sosial, Menteri Pembangunan Pedesaan dan Perumahan Masyarakat, Mariano Assanami Sabino.
Perlu diketahui, Kantor berita Timor-Leste, TATOLI, I.P merupakan sumber informasi resmi negara yang melayani publik melalui informasi dari skala nasional, regional dan internasional.
Kantor berita Timor-Leste, TATOLI, I.P melayani publik melalui informasi dalam empat Bahasa yaitu, Tetum, Portugis, Inggris dan Bahasa Indonesia. Selain itu, TATOLI, I.P juga memiliki Youtube dan Facebook.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz




