Top

Angka kemiskinan Timor-Leste turun menjadi 37%

INETL, I.P. bersama para mitra meluncurkan Laporan Ringkasan Kemiskinan Nasional 2024 di wilayah Timor-Leste. Laporan tersebut diluncurkan di Kementerian Keuangan, Dili, 20 Oktober 2026. Foto TATOLI/ António Daciparu

DILI, 20 Oktober 2026 (TATOLI) – Pemerintah Timor-Leste melalui Kementerian Keuangan dan Institut Statistik Nasional Timor-Leste (INETL) meluncurkan Laporan Ringkasan Kemiskinan Nasional 2024 yang menunjukkan angka kemiskinan nasional turun menjadi 37 persen, dibandingkan 48,4 persen pada 2014 berdasarkan perhitungan yang telah disesuaikan secara metodologis.

Meskipun mengalami penurunan sebesar 11,4 poin persentase dalam satu dekade, laporan tersebut mengungkapkan bahwa sebanyak 522.927 penduduk Timor-Leste masih hidup di bawah garis kemiskinan nasional, yang ditetapkan sebesar US$2,31 per orang per hari.

Ketua INETL, Elias dos Santos Ferreira, mengatakan laporan tersebut disusun berdasarkan hasil Survei Standar Hidup Timor-Leste (Timor-Leste Survey of Living Standards – TLSLS) 2024, yang menjadi survei komprehensif pertama mengenai kesejahteraan rumah tangga di negara itu dalam sepuluh tahun terakhir.

Survei dilaksanakan INETL pada April hingga Oktober 2024 dengan melibatkan 7.424 rumah tangga yang mewakili kondisi masyarakat di tingkat nasional dan munisipalitas.

“Angka kemiskinan nasional mencapai 37 persen pada 2024. Artinya, lebih dari 500 ribu penduduk Timor-Leste masih hidup di bawah garis kemiskinan nasional sebesar US$2,31 per orang per hari,” kata Elias dalam peluncuran laporan di Kementerian Keuangan, Dili, Selasa.

Ia menjelaskan, hasil survei menunjukkan kemajuan dalam pengurangan kemiskinan selama satu dekade terakhir. Namun, kesenjangan kesejahteraan antara masyarakat perkotaan dan pedesaan masih menjadi tantangan.

Berdasarkan laporan tersebut, angka kemiskinan di wilayah pedesaan mencapai 44,5 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan wilayah perkotaan sebesar 18,4 persen.

Dari keseluruhan penduduk yang hidup dalam kemiskinan, sebanyak 448.556 orang atau sekitar 86 persen tinggal di pedesaan, sedangkan 74.371 orang berada di perkotaan.

Perbedaan tingkat kemiskinan juga terlihat antarmunisipalitas. Ataúro mencatat tingkat kemiskinan tertinggi sebesar 74,4 persen, disusul Liquiçá sebesar 53 persen dan Aileu sebesar 52,2 persen. Sementara itu, Dili mencatat tingkat kemiskinan terendah, yakni sekitar 17,1 persen.

Meski demikian, laporan menunjukkan bahwa Dili masih memiliki sekitar 59 ribu penduduk kurang mampu, menjadikannya salah satu munisipalitas dengan jumlah penduduk miskin terbesar secara absolut.

Selain pengurangan kemiskinan, survei tersebut juga mengidentifikasi peningkatan ketimpangan ekonomi. Koefisien Gini, yang digunakan untuk mengukur kesenjangan distribusi kesejahteraan, meningkat dari 0,31 pada 2014 menjadi 0,36 pada 2024.

Elias menjelaskan bahwa perbandingan angka kemiskinan antara 2014 dan 2024 harus menggunakan pendekatan metodologi yang sebanding, mengingat adanya perubahan dalam metode pengumpulan data dan pengukuran konsumsi rumah tangga pada survei terbaru.

Di sisi lain, laporan TLSLS 2024 juga mencatat perkembangan positif dalam akses masyarakat terhadap layanan dasar, termasuk listrik, air minum aman, sanitasi, perumahan, dan pendidikan.

Persentase penduduk tanpa akses listrik menurun dari 27,9 persen pada 2014 menjadi 1,7 persen pada 2024. Sementara itu, proporsi penduduk tanpa akses air minum aman berkurang dari 25,4 persen menjadi 9,1 persen dalam periode yang sama.

Wakil Menteri Keuangan, Regina de Jesus, mengatakan hasil survei tersebut mencerminkan kemajuan penting yang dicapai Timor-Leste, tetapi juga menunjukkan bahwa pekerjaan pemerintah dalam mengurangi kemiskinan belum selesai.

“Pesan utama yang harus kita ambil hari ini ada dua. Pertama, kita harus mengakui kemajuan yang telah dicapai. Kedua, kita juga harus menyadari bahwa pekerjaan ini belum selesai dan kita perlu terus berupaya mengurangi kemiskinan serta meningkatkan kondisi kehidupan masyarakat,” ujarnya.

Menurut Regina, meskipun tingkat kemiskinan telah menurun, banyak keluarga masih menghadapi kesulitan memenuhi kebutuhan dasar dan memperoleh kesempatan ekonomi yang memadai.

Karena itu, pemerintah perlu memperkuat kebijakan publik yang memberikan perhatian khusus kepada masyarakat pedesaan, memperluas akses terhadap infrastruktur dan pelayanan dasar, serta menciptakan kesempatan ekonomi yang lebih adil dan merata.

Ia menegaskan bahwa pembangunan nasional harus semakin berkelanjutan dan inklusif agar manfaat pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan seluruh masyarakat Timor-Leste.

Sementara itu, Perwakilan Bank Dunia di Timor-Leste, David Freadman, menyampaikan bahwa laporan TLSLS 2024 menunjukkan perubahan positif dalam standar hidup masyarakat sejak 2014.

“Grup Bank Dunia terus bekerja sama dengan Pemerintah Timor-Leste dan mitra pembangunan dalam mengurangi kemiskinan serta mendorong kemakmuran bersama,” ucapnya.

Sebagai tindak lanjut, Pemerintah Timor-Leste dan Grup Bank Dunia akan menyiapkan kajian komprehensif untuk mengidentifikasi faktor-faktor utama penyebab kemiskinan, termasuk kesempatan kerja, pendapatan rumah tangga, program perlindungan sosial, dan faktor ekonomi lainnya.

Hasil kajian tersebut diharapkan menjadi dasar perumusan kebijakan berbasis bukti guna mempercepat pengurangan kemiskinan dan memastikan pembangunan ekonomi yang lebih inklusif di seluruh wilayah Timor-Leste. 

Reporter : Cidalia Fátima

Editor    : Armandina Moniz

Publisidade

Leave a Reply

Latest Post

error: Content is protected !!